BERBAGI

Sebagian pedagang barang bekas dan antik di kota lama beralih ke online tapi hasilnya tak maksimal.

[Ilustrasi] Suasana di Kota Lama Semarang saat pandemi Covid-19. (serat.id/A.Arif)
[Ilustrasi] Suasana di Kota Lama Semarang saat pandemi Covid-19. (serat.id/A.Arif)

Serat.id –  Suwarni  berusaha tabah di tengah kesunyian saat menunggui lapak kaki lima di kawasan kota lama yang ia kelola. Perempuan  berusia 51 tahun  itu masih menjajakan barang bekas peralatan dapur yang ia kelola sejak 2008, meski hasil penjualan sekarang sepi tidak seperti biasanya.

“Penghasilan jauh banget, orang-orang tidak berani jalan-jalan. Turun 75 persen dan hanya bisa buat makan,” kata  Suwarni, kepada serat.id akhir Juli lalu.

Tak seperti biasanya,  usaha berdagang barang bekas mulai sepi saat pandemi Covid-19 menerpa di segala sektor, termasuk pada lapak yang ia kelola di kawasan kota lama Semarang. Penjualan yang ia rasakan kali ini jauh berbeda jika dibanding musim liburan atau weekend sebelum pandemi.

Keluhan juga dirasakan Tri Putu 49 tahun,  pedagang barang yang mengaku dagangannya tidak selaris seperti dulu.  Tri Putu yang sebelumnya berdagang sekitar taman Srigunting , namun di Galeri Industri Kreatif Gedung Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) Kawasan Kota Lama Semarang,  mengaku sepi pembeli.

“Selama Covid-19 ini tutup tiga bulan dan baru buka dua minggu ini dan penghasilan turun sampai 80 persen,” kata Putu.

Kondisi itu semakin memprihatinkan saat kota lama menghadapi pembatasan sosial sehingga mematikan kehadiran kunjungan. “Sebelum covid gedung tersebut buka 9 pagi sampai 10 malam tetapi sekarang jam 10 pagi sampai 6 sore. “Padahal pengunjung mulai datang malam,” kata Putu menjelaskan.

Para pedagang harus memutar otak agar penghidupan mereka bisa tetap bertahan di tengah gempuran Covid-19. Sebagian dari mereka memilih memanfaatkan momentum pandemi dengan beralih usaha ke pembuatan masker dan jamu dengan layanan penjualan online.

Baca juga: Omzet Tempat Kongkow Kota Lama Semarang Merosot Tajam

Selain itu, lokasi wisata yang menarik pengunjung seperti 3D Trick Art Museum, Gereja Blenduk, Taman Sri Gunting juga ditutup.  Sebagian besar nasib pelaku usaha di kawasan Kota Lama mengalami penurunan omzet yang sangat signifikan.

Ketua paguyuban pedagang  Galeri Industri Kreatif (GIK) kota lama, Anton Susatyo Singgih mengakui kondisi yang dialami anggotanya selama menghadapi pandemi Covid-19. “Kami benar-benar sedih dengan kondisi sekarang ini. Imbas pandemi Covid-19 berdampak terhadap perekonomian pedagang di Kota Lama Semarang,” kata Anton.

Menurut dia bisa dikatakan tak ada pengunjung yang mampir di pasar yang khusus menjual barang antik di Kota Lama Semarang itu .

Padahal sebelum pandemi setiap malam di pasar klithikan selalu ramai pengunjung wisatawan. Kebanyakan yang mampir wisatawan dari luar kota datang untuk membeli barang antik sebagai hiasan rumah maupun kafe.

“Sebelum pandemi di GIK ini sangat ramai kayak pasar. Bahkan bisa tutup sampai pukul 22.00 malam. Namun sekarang harus tutup pukul 18.00 sore untuk mengikuti anjuran dari pemerintah dan tak ada satupun pengunjung dari pagi sampai sore,”  kata Anton menjelaskan.

Menurut dia, setiap pedagang dari 36 anggotnya per tahun mampu menghasilkan uang Rp 30 juta hingga Rp 50 juta. Namun sejak pandemi ini benar-benar memukul para pedagang. Penurunannya bisa mencapai 50 persen lebih. Padahal mereka masih punya tanggungan cicilan di bank. Ada yang masih menanggung cicilan bayar motor dan sebagainya.

“Paling berat pada pandemi ini masih punya tanggungan cicilan motor. Harus kerja ekstra keras,” katanya.

Kini para pedagang klithikan Kota Lama hanya bisa pasrah dan menurut dengan anjuran pemerintah. Meskipun sudah diperbolehkan buka kembali harus menerapkan protokol kesehatan.

Baca juga: Menggelontorkan Ratusan Miliar Terhambat Pandemi

Beralih ke Penjualan Online Hanya Alternatif Sementara

Hoesie, seorang pedagang barang antik di gallery industri kreatif Kota Lama Semarang, terpaksa memanfaatkan media sosial  untuk menjajakan dagangannya. Itu terpaksa saat lapaknya tutup selama lima bulan saat pandemi ini.

“Lapak sudah seperti gudang, jadi kalo ke sana (lapaknya) ya cuma ambil barang saja jika ada yang pesan online. Kalau teman-teman yang tidak online ya bisa semaput betul itu,” kata Hoesie.

[Videografis] Pandemi Covid-19, Bisnis Kafe dan Resto di Kota Lama Semarang Mendadak Sunyi. (serat.id/A.Arif)

Meskipun beralih jualan online, Hoesie mengaku tetap tidak sepadan dengan penghasilannya jika dibanding sebelum pandemi Covid-19, karena barang yang laku yang memang benar-benar antik dan asli.

“Tapi ya tetap bisa jalan dan ada pemasukan. Jadi yang pesan itu pelanggan lama yang memang berduit dan tau barang saja,” kata Hoesie menjelaskan.

Selain minimnya penjualan akibat pandemi, Hoseie juga  mengeluhkan kelangkaan barang antik yang harus ia jual kembali. Menurut dia, upaya memburu barang antik susah karena pemilik takut berinteraksi, hal itu menambah pengaruh perputaran penjualan semakin sulit.

Anggota DPRD Jateng  Riyono menyesalkan minimnya terobosan pemerintah dalam membangkitkan perekonomian Jateng, termasuk bagi pelaku UMKM di kota lama yang sedang digalakkan sebagai kawasan destinasi wisata.

“Harusnya pemerintah itu bisa menolong UMKM yang sekarat di tengah pandemi,” kata Riyono.

Riyono menilai pemerintah juga lambat dalam realisasi program recovery ekonomi yang membuat banyak UMKM harus berusaha mencari permodalan sendiri.

Selain itu sosialisasi terkait  stimulus anggaran senilai Rp 2,4 Juta yang akan digelontorkan untuk UMKM tidak menjangkau ke seluruh UMKM.

“Padahal ada wacana dari pemerintah pusat akan memberikan uang untuk modal UMKM tapi nyatanya masih ada pelaku UMKM yang belum tahu program tersebut,” kata Riyono menjelaskan.

Selain itu anggaran sebesar Rp 1 Triliun dari pemerintah Jawa Tengah untuk dana stimulus UMKM hanya 20 persen yang terserap. Sedangkan dari total 4 juta UMKM yang tersebar di Jateng hanya 26 ribu UMKM yang mendapatkan anggaran tersebut.

” Belum ada setengah yang mendapatkan dana stimulus UMKM itu harus diperhatikan lagi,” katanya. (*)

Edisi khusus “MENDADAK SUNYI DI TENGAH PANDEMI”
Tim Liputan : Praditya Wibby, Anindya Putri, Kontributor 1, Kontributor 2, Kontributir 8,
Pengolahan Bahan : Edi Faisol, Ilustrasi : A. Arif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here