BERBAGI

Pembatasan sosial  saat pandemi menjadikan program pembangunan tersendat, pembangunan  yang seharusnya kelar Juli 2020 akhirnya diadendum April 2021.

[Ilustrasi] Suasana di Kota Lama Semarang saat pandemi Covid-19. (serat.id/A.Arif)
[Ilustrasi] Suasana di Kota Lama Semarang saat pandemi Covid-19. (serat.id/A.Arif)

Serat.id – Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang Hevearita Gunaryanti, tak menyangka rencana pembangunan besar-besaran kawasan kota lama yang diprogramkan terhadang pandemi Covid-19.  Meski ia mengatakan proses pembangunan Kota Lama masih tetap berlangsung, termasuk menggunakan anggaran dari Kementerian PUPR juga tetap berjalan.

“Pembangunan tetap berlangsung, anggaran dari pusat juga masih berjalan. Hanya saja terkendala suplai kebutuhan bahan bangunan,” kata Hevearita Gunaryanti Rahayu, disapa Ita.

Sebelumnya, pembangunan revitalisasi Kota Lama tahap I telah rampung pada tahun 2019 dengan anggaran dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebesar Rp179 miliar.

Sedangkan pembangunan revitalisasi memasuki tahap II ini telah berjalan 70 persen dengan anggaran dari pemerintah pusat Rp75 miliar. Namun, akibat pandemi, revitalisasi tahap II yang sedianya ditargetkan rampung pada Juli 2020 diundur hingga April 2021.

Ita mengatakan pembatasan sosial saat pandemi menjadikan program pembangunan tersendat, yang seharusnya kelar Juli 2020, akhirnya diadendum April 2021. 

“Tapi targetnya akhir Desember ini sudah selesai,” kata Ita menambahkan.

Meski ia mengatakan proses pembangunan Kota Lama selama pandemi sebenarnya bisa lebih cepat dikerjakan karena tidak ada keramaian pada saat pembatasan.  Wakil Wali Kota Semarang itu menyebut revitalisasi tahap II ini bakal diprioritaskan pembangunan di Bundaran Bubakan. Rencananya, Bundaran Bubakan akan dijadikan museum karena telah ditemukan sebuah situs peninggalan bersejarah yakni seperti batu sisa bangunan benteng peradaban kuno.

Baca juga: Omzet Tempat Kongkow Kota Lama Semarang Merosot Tajam

Tercatat sebelum ditemukan situs bersejarah, di area tersebut rencananya akan dibangun polder dan taman terbuka untuk tempat berkumpul masyarakat. Namun di tengah pembangunan ditemukan situs bersejarah, sehingga diubah menjadi museum.

Temuan itu berupa kota lebih tua era zaman pertama kali Pelanda masuk setelah Portugis menguasai pantai utara  Jawa. Situs yang terpendam di kawasan kota lama itu berupa bangunan batas benteng yang melingkar, bentuknya segi lima. “Situsnya akan ditutup kaca agar masyarakat bisa melihat. Sampingnya ada kolam dan ruang terbuka hijau,” kata Ita menjelaskan.

Tak hanya itu, pemerintah juga akan membangun Rumah Pompa jembatan Mberok serta sarana dan prasarana jalan. Pembenahan kabel jaringan listrik yang dimasukkan ke dalam ducting di sepanjang jalan di kawasan Kota Lama juga diakukan untuk menghindari kesan kumuh tiang listrik di kawasan itu.

“Karena sudah banyak sarpras yang dibenahi, otomatis jaringan-jaringan milik PLN, Telkom ini kan harus masuk dalam ducting. Ini kan belum kelar. Memang untuk memasukkan kabel ke bawah, harus keluarkan anggaran dari masing-masing stakeholder. Ini yang kami harapkan bulan ini akan mengundang semua pemilik jaringan di Kota Lama ” katanya.

Setelah pembenahan jaringan tersebut selesai dilakukan, selanjutnya akan memastikan seluruh infrastruktur di Kota Lama seperti di Branjangan, Sri Gunting dan Swari juga segera dirampungkan.

Baca juga: Mengais Rezeki di Tengah Kota Nyaris Mati

Tantangan lain yang harus dihadapi Pemkot Semarang yakni masih adanya warung remang-remang dan para pemulung yang masih berkeliaran di sekitar Kota Lama. Selain itu juga ada parkir liar yang mencari peluang beroperasi di kawasan Kota Lama saat pandemi merebak.

Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jateng, Sinung N Rachmadi, mengatakan revitalisasi pembangunan Kawasan Kota Lama Semarang baru menyentuh sepertiga bagian dari keseluruhan pembangunan yang ada.

“Sepertiga bagian dari bangunan yang sudah kelar itu merupakan kompleks bercorak Eropa,” kata Sinung.

Padahal pembangunan akan dilanjutkan hingga beberapa kompleks, selain bercorak Eropa, namun juga bercorak Arab-Melayu, dan kawasan Pecinan.

Sinung menyebut antusias masyarakat terhadap Kawasan Kota Lama Semarang sebagai salah satu destinasi sangat tinggi menjadi alasan pemerintah membangun kawasan tempo dulu itu. “Sambutan masyarakat yang positif  terhadap perkembangan sebagai sebuah destinasi, itu menurut kami prospektif,” kata Sinung menambahkan.

Ia mengakui pembangunan terhenti karena ada pandemi Covid-19, namun Sinung optimistis pembangunan kawasan akan segera rampung. “Kami melihat ini prospektif untuk dilanjutkan di tahun-tahun mendatang agar menjadi sebuah kawasan yang dipugar secara utuh,” terangnya.

Terkait dengan sumber dana, pihaknya mengaku tidak mengetahui secara detail ihwal sumber dana pembangunan di kawasan itu.

Namun demikian, dia menyebut ada kolaborasi dana dari anggaran pendapatan belanja negara (APBN) sama anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) Kota Semarang terkait revitalisasi Kawasan Kota Lama Semarang.

“Kalau untuk dana saya tidak tahu persis, bisa konfirmasi ke Pemkot Semarang,” katanya.

Pandemi Hambat Pengawasan

Sedangkan Ita mengakui saat pandemi ini agak kurang pengawasan parkir liar yang diakui tak masuk kas Kota Semarang. “Ada yang curi-curi kesempatan peluang. Ini yang memang harus selalu patroli. Tak hanya pemulung tapi parkir liar juga,” katanya.

Meski Ita menyatakan akan mengecek lagi yang dikoordinasikan dengan Dinas Kebudayaan Pariwisata. Termasuk mengintensifkan sejumlah kendala yang dialami dalam mengelola kawasan kota lama selama pandemi. “Selain itu, mohon maaf PSK, juga parkir harus ditertibkan. Ini yang memang agak longgar. Harus dicereweti,” kata Ita.

Ia akan terus mendorong Kota Lama agar menjadi bersih dan indah dengan deretan bangunan-bangunan cagar budaya untuk menarik wisatawan.  Terlebih, kawasan Kota Lama juga ditargetkan masuk daftar warisan budaya dunia (world heritage) UNESCO pada 2020 yang meliputi kawasan Semarang Lama yakni kawasan Melayu, Pecinan, Kauman dan Kota Lama dengan luas sekitar 100 hektare.

Upaya Pemkot Semarang membangkitkan kembali ruh Kota Lama setelah sekian lama akhirnya membuahkan hasil. Menurut Ita, saat ini kawasan Kota Lama baru saja ditetapkan sebagai cagar budaya nasional oleh Kemendikbud.  Hal itu merupakan salah satu syarat untuk menuju ditetapkannya Kota Lama sebagai warisan budaya dunia (world heritage).

Status Kota Lama sudah cagar budaya nasional sudah dapat SK dari menteri. Status Itu menjadi salah satu syaratnya untuk mendapatkan pengakuan sebagai kota pusaka tingkat dunia oleh UNESCO. 

Upaya lain yang digenjot untuk mempercantik Kota Lama, merevitaliasi Gedung Oudetrap menggunakan dana dari pusat. Gedung Oudetrap adalah satu di antara gedung cagar budaya bernuansa bangunan Belanda di Kawasan Kota Lama Semarang difungsikan sebagai galeri kesenian dan kebudayaan di Kota Semarang.

Dulunya pada abad 18, gedung yang terletak dekat dengan Taman Sri Gunting ini adalah gudang rempah-rempah.  Pada masa itu, gedung-gedung di Kawasan Kota Lama Semarang memang difungsikan untuk mendukung jalur rempah di Indonesia.

Gedung itu dibeli Pemkot Semarang pada tahun 2015 senilai Rp 7,8 miliar dari seorang pengusaha di Kota Semarang. Meski sempat menuai polemik karena persoalan harga pembelian.

“Renovasi Oudetrap itu awal-awal mencapai Rp 15 miliar. Itu kan sudah milik Pemkot dibeli sekitar Rp 7,8 miliar kalau tidak salah. Diresmikan tahun 2017. Jadi dari Kementerian itu hanya sarpras seperti jalan, street furniture, drainase, museum, dan rumah pompa,” katanya.

Ita optimistis Pemkot Semarang mampu menyongsong era kebiasan baru semakin menggeliat demi menghidupkan kembali kawasan Kota Lama. Keyakinan itu ditambah tahapan Kota Lama menuju status world heritage tinggal sejengkal lagi setelah berproses sejak 2015. (*)

Edisi khusus “MENDADAK SUNYI DI TENGAH PANDEMI”
Tim Liputan : Praditya Wibby, Anindya Putri, Kontributor 1, Kontributor 2, Kontributir 8,
Pengolahan Bahan : Edi Faisol, Ilustrasi : A. Arif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here