Omzet Tempat Kongkow Kota Lama Semarang Merosot Tajam

1283
0
BERBAGI

Serat.id – Kesunyian sangat terasa pada sejumlah kafe di  kawasan kota lama Semarang, pada akhir Juli 2020 lalu. Kawasan yang  sebelumnya banyak dikunjungi masyarakat yang ingin menikmati suasana era zaman kolonial itu, kini mulai sunyi seiring mewabah Covid-19.

Kesunyian juga sangat terasa di Tekodeko Koffiehuis, di jalan Letjend Suprapto nomor 44. Ruangan lantai dasar kafe itu yang biasaya ramai hanya diisi dua orang  pengunjung. Yang hadir jauh dari sebelumnya rata-rata 48 orang. Suasana kelihatan lengang ketika meja dan kursi dikurangi untuk jaga jarak.  Kondisi di lantai bawah menujukan secara umum, di atas sama sekali tak ada pengunjung.

[Ilustrasi] Suasana di Kota Lama Semarang saat pandemi Covid-19. (serat.id/A.Arif)
[Ilustrasi] Suasana di Kota Lama Semarang saat pandemi Covid-19. (serat.id/A.Arif)

“Sejak pandemi pendapatan di kafe tekodeko mengalami penurunan yang sangat tajam. Jadi jumlah pengunjung benar-benar bisa dihitung jari, kunjungan bisa kurang dari 10 persen,” ujar pengelola Tekodeko Koffiehuis, Jessie Setiawati, kepada jurnalis serat.id, akhir Juli lalu.

Jessi mengatakan kemerosotan pendapatan dan perputaran keuangan hingga 90 persen. Meskipun kafe tersebut sudah mulai beroperasi kembali, namun jumlah pengunjung atau customer yang datang sekitar 10 persen.

Beragam upaya dilakukan untuk meyakinkan publik berkunjung di Tekodeko yang sebelumnya ramai. Kafe lantai dua dengan artsitektur yang khas bangunan tropis era kolonial itu menerapkan protokol kesehatan bagi pengunjung.

Di pintu masuk pengunjung diwajibkan cuci tangan di wastavel yang disediakan, termasuk cek suhu tubuh.  Bahkan saat di tempat pemesanan, tangan pengunjung disemprot handsanitizer, termasuk tempat duduk yang diterapkan berjarak lebih dari satu meter untuk menghindari kerumunan.

“Demi keamanan setiap dua hari sekali, ruangan selalu disemprot disinfektan. Kemudian untuk penerapan jaga jarak meja dan kursi diberi tanda silang dan jaraknya lebih satu meter,”  Jessie menjelaskan.

Menurut dia, ruangan yang biasanya kapasitas 48 orang pun dikurangi hanya 25 orang saja. Pandemi saat ini begitu berat dirasakan Jessie, selain bertarung melawan ancaman penularan virus yang nyaris menghentikan pemasukan usahanya. Ia juga harus berhadapan dengan pembatasan jam operasional kafe yang ia kelola.

Baca juga: Menggelontorkan Ratusan Miliar Terhambat Pandemi

Sebagaimana tempat usaha kongkow lain di Kota Lama Semarang, Tekodeko Koffiehuis juga mengikuti batasan jam buka. Jessie mengaku baru memulai usaha dari pukul 12.00 siang hingga menjelang pukul 21.00 malam harus sudah tutup. Keadaan itu menjadikan kafe yang ia kelola mengurangi tim operasional usaha.

Kesulitan lain yang dialami selama pandemi ini terkait dengan pembayaran pajak saat pendapatan terus menurun. Sementara kepedulian yang diberikan pemerintah hanya memberikan penundaan pembayaran pajak hingga 30 Juli. 

Belum lagi harus membayar tagihan listrik. Tagihan yang diberikan PLN cukup besar. Namun beruntung dari berbagai upaya yang dilakukan, tagihan berhasil mendapat keringanan.

“Sempat kaget pada awal April tagihan dari PLN sangat tinggi. Alasannya karena PLN tidak sempat melakukan survei ke Tekodeko selama tiga bulan. Jadi tagihannya sangat besar. Bersyukur pembayaran bulan depan berhasil dikurangi,” kata Jessie gusar.

Kesunyian kunjungan juga terasa di  Resto Spiegel, Kota Lama Semarang. Sebelum pandemi Covid-19, resto yang menempati gedung unik bekas N.V. Winkel Maatschappij yang dibangun  tahun 1895, itu sebelum pandemi selalu ramai pengunjung yang ingin  menikmati suasana tempo dulu.

“Penurunan omzet sangat terasa karena Spiegel merupakan ikon wisata Kota Lama. Perbandingan kunjungan jauh lebih sepi dibanding sebelum pandemi,” kata bagian HRD Spiegel, Intan.

Intan menjelaskan, selama pandemi ini hampir semua sektor usaha di Kota Lama mengalami penurunan ekonomi. Hal itu dirasakan juga di resto  Spiegel yang menyediakan bar dan masakan khas Eropa.  Ia mengaku sebelumnya resto yang ia kelola ramai dikunjungi wisatawan.

Baca juga: Mengais Rezeki di Tengah Kota Nyaris Mati

Maklum Spiegel menempati gedung di jalan Letjend  Suprapto nomor 59 itu diuntungkan dengan  posisi strategis dan ikonik, sehingga menjadi jujugan para pengunjung kota lama.

“Apalagi Kota Lama sudah bangun dengan bagus sehingga banyak wisatawan asing dan relawan domestik yang mampir ke Spiegel,” kata Intan menambahkan.

Namun pandemi telah memukul mimpi usaha yang ia kelola, hal itu ia rasakan dengan perputaran ekonomi merosot hingga 70 persen. “Akibatnya banyak karyawan yang harus dirumahkan,” katanya.

Data pemasukan pajak di badan pendapatan daerah Kota Semarang menunjukan persentase penurunan 25 usaha resto dan kafe di kawasan Kota Lama Semarang anjlok jika dibanding sebelum pandemi.

Kepala Bapenda Kota Semarang Agus Wuryanto mengatakan data pendapatan pajak resto di kawasan kota lama pada bulan Januari hingga Maret 2020 belum terdampak pandemi masih aman.

“Namun mulai bulan April, Mei, Juni dan Juli mulai turun drastis,”kata Agus.

Berdasarkan data Bapenda Kota Semarang menunjukkan pemasukan pendapatan pajak resto di kawasan kota lama mulai anjlok jika dibanding dengan beberapa bulan sebelum pandemi. Salah satunya di Rumah Makan Ikan Bakar Cianjur tercatat pada bulan Januari pajak yang disetor mencapai Rp126,7 juta namun mengalami penurunan drastis memasuki pandemi pada bulan April menjadi Rp18,2 juta. Sementara pada bulan Juni mengalami kenaikan mencapai Rp47,9 juta. Sedangkan pada bulan Juli Rp0.

[Infografis] Pajak Resto Kawasan Kota Lama Semarang 2020. (serat.id/A.Arif)

Hal tersebut juga dirasakan oleh Spiegel Kafe, pada bulan Januari pajak yang disetor sebesar Rp19,5 juta mengalami penurunan drastis memasuki pandemi pada bulan April menjadi Rp532 ribu. Kafe ini mulai menggeliat pada bulan Juni mampu membayar pajak sebesar Rp1 juta. Sementara pada bulan Juli kembali menurun drastis menjadi Rp0.

Teko Deko yang sebelumnya mampu menyetor sebesar Rp11,2 juta pada januari 2020,  mengalami penurunan drastis memasuki pandemi pada bulan April menjadi Rp837 ribu. Kafe yang identik tempat kongkow kalangan anak muda itu mengalami kenaikan menyetor pajak Rp4,8 juta pada bulan Juni.

Serat.id menghitung total keseluruhan dari 25 resto dan kafe di Kawasan Kota Lama, awalnya mampu memberikan kontribusi pemasukan di Kota Semarang hingga Rp244,7 juta pada Januari, mulai runtuh bulan April hanya sebesar Rp32,9 juta. Kondisi itu kian terpuruk yang dibuktikan pada akhir Juli, yang hanya mampu menyumbang pajak hanya Rp8,1 juta.

Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu mengakui pandemi telah menghantam sektor bisnis di kawasan kota lama yang sedang dirintis untuk dihidupkan kembali.

“Termasuk revitalisasi tahap II yang sedianya ditargetkan rampung pada Juli 2020 diundur hingga April 2021,” kata Hevearita yang akrab disapa Ita.

Ia mengaku Pemkot Semarang berencana menggeliatkan kembali Kota Lama untuk memulihkan roda perekonomian dan meningkatkan kunjungan wisatawan dengan percepatan pembangunan revitalisasi Kota Lama tahap II agar selesai pada Desember 2020.

Menurut Ita, pembangunan tetap berlangsung dari anggaran pusat. Meski ia mengakui terkendala pasokan  bahan bangunan  karena pandemi dan pembatasan sosial. Hal itu menjadikan upaya pembangunan tersendat sehingga diubah dari jadwal selesai Juli 2020 akhirnya diadendum April 2021. 

“Tapi targetnya akhir Desember ini sudah selesai,” jelas Ita yang juga Wakil Wali Kota Semarang itu. (*)

Edisi khusus “MENDADAK SUNYI DI TENGAH PANDEMI”
Tim Liputan : Praditya Wibby, Anindya Putri, Kontributor 1, Kontributor 2, Kontributir 8,
Pengolahan Bahan : Edi Faisol, Ilustrasi : A. Arif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here