BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

Kesulitan belajar melalui sistem online selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dikeluhkan sejumlah siswa dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Serat.id – ‘’Semenjak ada korona, sekolahku libur. Nenekku tidak lagi memberi aku uang jajan. Aku juga tidak lagi bermain kelereng di sela jam istirahatku. Jika aku ingin main, nenek melarangku dan menyuruhku membaca buku catatan sekolah.’’

Kegelisahan itu ditulis dalam sebuah surat oleh Muhammad Gabriel (9), siswa kelas 3 MI An-Nuriyah Morombuh Kwanyar, Bangkalan, Jawa Timur. Gabriel mengisahkan perubahan yang ia alami selama ada pandemi, tak lagi dapat uang jajan, dan tak lagi leluasa bermain kelereng.  

Dalam suratnya, Gabriel juga bercerita, kesulitannya belajar melalui sistem online selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Dan peran guru selama PJJ, kini digantikan sang nenek. 

‘’Guruku sering mengirimkan tugas online, tapi guruku tidak pernah mengajar online. Guruku tidak lagi menjelaskan pelajaran, hanya sekadar membagi tugas melalui WA. Beruntunglah aku, ada nenekku yang mengajariku pelajaran, memberiku penjelasan. Walau sebenarnya nenek juga tidak paham, tapi nenek sering menanyai pada bibikku tentang materiku.’’

Surat dari bocah dari Bangkalan Madura itu merupakan satu dari belasan karya peserta Lomba Menulis Surat bertema “Ceritaku di Tengah Pandemi” yang diselenggarakan oleh Pondok Baca Ajar, Meteseh, Boja, Kendal beberapa waktu lalu.

Sementara, dari Solo, Abad Doa Abjad (8) berkisah, dirinya  kurang suka belajar online. ‘’Memandang gawai dalam waktu yang lama membuat mataku perih. Aku berpikir sebaiknya pembelajaran dilakukan dengan cara mengambil soal dan materi tertulis seminggu/sebulan sekali. Harapanku agar mata murid-murid tetap sehat’’.

Siswa SD Ta’mirul Islam Surakarta itu juga bercerita, selama PJJ, ia mengisi kegiatan  dengan memelihara enthok dan ayam serta bersepeda. ‘’Aku lebih lama berada di kandang enthok daripada belajar. Aku sangat senang memberi makan enthok dan ayam. Setiap sore, aku juga sering bersepeda keliling kampung.’’

Karya Gabriel oleh Dewan Juri diberi predikat Harapan I, sementara Abad menjadi juara I. Selengkapnya: Juara I-III: Abad Doa Abjad, Surakarta (Bosan di Rumah); Azkia Ilmi Nada, Mijen Semarang (Surat untuk Sahabat); dan Vanilla Wafiq Azizah, Boja Kendal, (Surat untuk Presiden).  Harapan I-III: Muhammad Gabriel, Bangkalan Madura, (Ceritaku di Masa Pandemi); Athaya Anindyaning R, Brangsong Kendal (Surat kepada Presiden); dan Aziz Rahmad Isnanto, Sukoharjo (Teruntuk Sahabatku (dan Sambatannya).

Kegiatan ini digelar oleh Pondok Baca Ajar dalam rangka mengisi kegiatan anak-anak selama pandemi Covid-19 sekaligus peringatan HUT Ke-75 RI. Selain lomba menulis surat, panitia juga menggelar lomba menghias masker bertema “Ini Maskerku, Mana Maskermu?”

Lomba diikuti dari rumah masing-masing sebagai upaya tetap menerapkan protokol kesehatan. Lomba berlangsung sejak Juli hingga pertengahan Agustus 2020. Pesertanya siswa SD hingga SMA.

Heri C Santoso, pengelola Pondok Baca Ajar menyampaikan, selalu ada hikmah di balik pandemi. Tetap ada kegiatan produktif yang bisa dilakukan di tengah stay of home. Namun sayangnya, hal itu terabaikan karena pola pikir sudah meletakkan bahwa pandemi Corona adalah problem dan semata-mata biang masalah. Padahal, pandemi adalah siklus alam.  

Heri menambahkan, lomba ini sebenarnya salah satu cara di antara banyak upaya lain dalam mengakrabkan anak-anak dengan literasi. Pengetahuan mengenai seni bertahan hidup (survival) melalui medium masker. Melalui menulis surat, harapannya, anak-anak belajar mengenali diri, peduli sesama, membaca lingkungan sekitar, serta mengasah imajinasi mereka.

“Badan boleh terkurung di rumah, tapi pikiran dan ide bisa tetap mengembara. Menulis itu bisa menjadi sarana untuk menuangkan ide serta membebaskan imajinasi anak,” tandasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here