BERBAGI
Biksu dan pengikutnya menyebrangi Kaligarang, Kecamatan Pudakpayung, Semarang menuju Vihara 2500 Jayanti. (Serat.id/Anindya Putri)

Umat Buddha dan sejumlah pemuda lintas agama mencoba membangkitkan kembali Vihara 2500 Buddha Jayanti. Hal itu di antaranya dengan memperbaiki sisa reruntuhan agar dapat difungsikan sebagai tempat meditasi.

Serat.id –  Panasnya terik matahari tepat di atas ubun-ubun tak terasa saat menyusuri sebuah bukit yang dikelilingi rimbunnya pepohan menjulang. Suara air mengalir dari Sungai Kaligarang yang berada di bawah bukit itu terdengar jelas.

Di lokasi yang jauhnya hiruk pikuk permukiman itu tersisa puing-puing reruntuhan Vihara 2500 Buddha Jayanti. Ya, vihara yang berada di atas Bukit Wungkal Kasap, Kecamatan Pudakpayung itu telah ditinggalkan oleh para biksu sejak tahun 1964 akibat adanya gejolak politik.

Vihara itu didirkan oleh Bhikkhu putra pertama Indonesia, bernama Ashin Jinarakkhitha yang diupasampada (ditahbis) di Myanmar pada awal tahun 1954, lalu kembali ke Indonesia pada tahun 1955.

Adapun pembangunan vihara itu berlangsung selama 2 tahun yakni sejak 1957 hingga 1959. Proses pembangunannya dibantu oleh warga Pakintelan yang dulunya mayoritas memeluk agama Buddha.

Pengasuh Vihara Buddha Dipa Pakintelan, Samanera Dhamatejo  Wahyudi menceritakan, kini dirinya bersama umat Buddha dan sejumlah pemuda lintas agama mencoba untuk membangkitkan kembali Vihara 2500 Buddha Jayanti. Hal itu dengan memperbaiki sisa reruntuhan agar dapat kembali difungsikan sebagai tempat meditasi.

“Kemarin, kami ke sana, kerja bakti untuk kembali membuka jalan dan membenahi dengan memberikan paving block sebagai dasaran agar bisa difungsikan lagi,” ungkapnya kepada Serat.id.

Baca juga : Vihara Buddhagaya, Tempat Berdoa Sekaligus Wisata

Berdoa di Vihara Kecil di Puncak Gunung Kalong

Untuk mencapai puncak bukit Kasap tidaklah mudah, para biksu dengan menggunakan jubah lengkap beserta pengikutnya harus berjalan setidaknya 30 menit dari Vihara Pakintelan.

Lalu, masuk ke dalam hutan, menuruni bukit, dan menyebrangi sungai Kaligarang. Seusai melewati sungai para biksu kembali masuk ke hutan dan berjalan naik menuju bukit Kasap menuju Vihara 2500 Buddha Jayanti.
Sesampainya di atas bukit, biksu dan jemaah Buddha melakukan meditasi, untuk menyambut purnama sebagai puncak spiritual.

“Memang untuk menuju di Bukit Kasap ini tidak mudah, tapi itu harus dijalani dengan ikhlas, tujuannya yakni untuk meditasi dan melestarikan warisan leluhur,” tutur Wahyudi.

Biksu akan bermeditasi di antara sisa reruntuhan Vihara 2500 Jayanti. (Serat.id/Anindya Putri)

Menurut Wahyudi, jika menengok pada sejarah Vihara 2.500 Buddha Jayanti dahulu adalah pusat perkembangan agama Buddha pertama di Nusantara seusai runtuhnya Majapahit.

Selain itu, pada tahun 1959 silam saat persemian Vihara dihadiri oleh 14 bikhu dari berbagai Negara, seperti Jepang, Myanmar, Srilangka dan Thailand.

Tak hanya itu,  Vihara 2500 Buddha ini memiliki nilai sejarah yang sangat berarti bagi umat Buddha di Nusantara yakna Jayanti dijadikan sebagai tempat penasbihan bikhu atau Sima pertama selain Candi Borobudur, Magelang.

Ia berharap dengan dihidupkannya kembali vihara akan menjadi tanda untuk pemersatu umat Buddha dan sebagai simbol kebinekaan Indonesia

“Nilai histori dari vihara ini sangatlah penting. Untuk itu kami sebagai umat Buddha ingin nguri-nguri warisan leluhur,”pungkasnya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here