BERBAGI
Sri Kasiyati (66) warga Boom Lama RT 5 RW 3, Kelurahan Kuningan, Kecamatan Semarang Utara berada di rumahnya sebelum direnovasi. (Serat.id/ Praditya Wibby)

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Mak Cik mengandalkan kiriman uang dari anaknya di Jakarta. Jika tidak mencukupi dia pun terpaksa mencari pinjaman ke tetangga.

Serat.id – Sri Kasiyati (66) warga Boom Lama RT 5 RW 3, Kelurahan Kuningan, Kecamatan Semarang Utara selama 13 tahun tinggal di sebuah rumah tak layak huni.

Dia bersama suaminya yang mengalami struk menempati bangunan berukuran 2×2 meter berdinding kain dan plastik serta beratap asbes sajak 2007. Di dalam rumah itu terdapat kandang ayam.

Bangunan sempit dan gelap tersebut berdiri di atas tanah irigasi milik Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air Kota Semarang. “Meskipun tanah ini milik irigasi, saya membayar pajak bumi bangunan (PBB) namun jadi satu sama rumah keluarga saya di daerah sini juga,” katanya Mak Cik panggilan akrab Sri Kasiyati.

Baca juga : Poniyem, Penjual Daun Singkong yang Terlunta-lunta

Pahit-Manis Kisah Hidup Mak Romlah, Si Penjual Gorengan Nyentrik di Semarang

Pahit-Manis Kisah Hidup Mak Romlah, Si Penjual Gorengan Nyentrik di Semarang

Untuk mandi dan mencuci, dia menumpang di rumah adiknya yang  bersebelahan dengan tempat tinggalnya.

Sebelum membangun rumah itu, dia tinggal di rumah tetangganya. Sebab, saat itu diminta mengasuh bayi tetangganya tersebut.

”Pada tahun 2000 sampai 2007, saya mengasuh bayi tetangga. Setelah itu saya membangun gubuk di sini bersama suami saya,” katanya.

Setelah tidak lagi mengasuh bayi, Mak Cik berjualan tahu gimbal di depan rumahnya, sedangkan suaminya bekerja sebagai penyedia jasa perbaikan pendingin ruangan (AC). Namun tiga tahun terakhir ini, Mak Cik tidak lagi berjualan karena harus merawat suaminya yang terkena struk itu.

“Saya fokus merawat suami. Mau jualan lagi tapi takut ada tanggapan kurang enak dari orang-orang,’’ ujarnya. Dia khawatir jika ada yang menilai dagangannya kurang bersih.

Untuk memenuhi kebutuhannya, Mak Cik mendapat kiriman uang dari anaknya yang bekerja di Jakarta. Meski jumlahnya tidak banyak, namun Mak Cik bersyukur dengan apa yang diterimanya.

”Kalau tidak cukup ya saya pinjam ke tetangga. Saya juga mau kalau disuruh membantu tetangga, seperti mencuci  dan memasak, yang penting dapat uang,” ungkapnya.

Perempuan tua yang mempunyai tiga orang anak itu mengungkapkan, dirinya juga pernah mengalami gagal ginjal dan diminta untuk cuci darah.Namun, dia hanya bisa pasrah karena keterbatasan biaya.

“Sebelum suami saya struk, saya pernah sakit gagal ginjal. Disuruh cuci darah, tapi saya tidak mau menyusahkan anak dan orang lain. Jadi saya pasrah saja sama Tuhan, jika saya harus meninggal sekarang ya saya siap,” ujarnya.

Kini rumah Mak Cik direnovasi oleh Camat Semarang Utara. ’’Saya senang dibangunkan tempat tinggal sama Bapak Camat. Sekarang jadi bagus,” kata Mak Cik.

Bantuan untuk perbaikan rumah itu diberikan Camat Semarang Utara pada Jumat, (28/8/2020). Uang perbaikan sebesar Rp 3 juta diserahkan kepada ketua RT setempat.

“Pada Jumat bantuan diberikan, Minggu (30/8) langsung dikerjakan,” kata Ketua RT 5, Budi Ruhmani. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here