BERBAGI
[Ilustrasi] Potret petani kita. (Serat.id/ Abdul Arif)
[Ilustrasi] Potret petani kita. (Serat.id/ Abdul Arif)

Daya beli masyarakat melemah seiring adanya pandemi Covid-19. Hal tersebut membuat petani harus memutar otak agar hasil panen mereka tetap terjual di pasaran.

Serat.id – Sejumlah petani bawang merah di Jawa Tengah mengeluhkan anjloknya harga jual bawang di pasaran serta minimnya perhatian dari pemerintah.

Petani bawang merah asal Brebes, Tsalam menjelaskan, anjloknya harga bawang merah di pasaran lantaran menumpuknya stok hasil dari panen raya yang tak terserap di pasar.

“Harganya jatuh itu menurut petani sudah biasa. Sebab, saat ini sedang panen raya, barang banyak di pasar mau bagaimana lagi,” ungkap Tsalam kepada Serat.id, beberapa waktu lalu.

Baca juga : Konflik Petani – TNI, Lahan Melon di Urutsewu dilindas Truk Pengangkut…

Agar Petani Punya Nilai Tawar

Isu Corona Sebabkan Panen Petani Ini Tak Laku

Menurut dia,  daya beli masyarakat ikut melemah seiring adanya pandemi Covid-19. Hal tersebut membuat petani harus memutar otak agar hasil panen mereka tetap terjual di pasaran.

“Kami terpaksa menjual murah, yang biasanya bisa Rp 20 ribu per kilogram sekarang hanya Rp 10 ribu per kilogram,” tuturnya.

Selain itu,  petani juga tak memiliki akses luas untuk menjual bawang.

Kendala lain yang dialami Tsalam adalah selama masa tanam padi juga memberatkan petani. Sebab, mahalnya ongkosnya produksi tak sebanding dengan hasilnya serta tak ada perhatian dari pemerintah untuk membantu petani bawang.

“Saat tanam bawang, harga pupuk  dan lain sebagainya mahal. Bantuan dari pemerintah juga tidak ada,” jelasnya.

Hal serupa diungkapkan oleh Ali, petani bawang asal Batang yang merugi saat pandemi Covid-19. Harga bawang turun tajam hingga 40 persen. Hal ini disebabkan sulitnya akses petani untuk menjual hasil panen akibat kebijakan pembatasan sosial berskala besar.

“Terpaksa kami jual murah, mau gimana lagi, buat jual keluar susah,” katanya.

Selain itu, Ali terpaksa mengurangi tenaga kerja demi bertahan pada situasi krisis. Ia mengaku, mendapat bantuan dari pemerintah seperti benih sehingga sedikit meringankan. Namun, ia tetap berharap pemerintah mau turun tangan memastikan harga stabil. “Tidak ada uang untuk bayar tenaga, akhirnya digarap sendiri.  Ada bantuan pupuk dari pemerintah, tapi kami juga minta tolong pastikan harga bawang. Nantinya, kami siap tanam lagi,” katanya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here