BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

“Masa penduduk diatas satu juta tidak ada yang sebagus Hendi-Ita. Itu artinya terjadi krisis kepemimpinan partai,”

Serat.id – Pengamat politik dari Universitas Wahid Hasyim Semarang,  Joko Prihatmoko, menilai kepastian calon tunggal pasangan bakal calon Walikota dan wakil Walikota Semarang, di pemilihan kepala daerah tahun ini akibat kondisi partai yang ada mengalami krisis kader.  

Pasangan Hendrar Prihadi dan Hevearita Gunaryanti Rahayu (Hendi-Ita) dipastikan menjadi calon tunggal karena diusung sembilan partai pemilik wakil di legislatif.  Sedangkan calon independen tak ada yang mendaftar.

“Kemungkinan karena adanya krisis kaderisasi, sehingga partai-partai tidak punya calon untuk menandingi Hendi-Ita, lebih baik tidak mencalonkan dan mendukung Hendi-Ita,” kata Joko Prihatmoko,  kepada Serat.id. Sabtu, 5  September 2020.

Berita terkait : Daftar ke KPU, Pasangan Bakal Calon Hendi – Ita dipastikan Tak Punya Pesaing

Hendi dan Ita Kembali Berpasangan Maju Pilwakot Semarang

Hendi-Ita Kompak Menjadi Mahasiswa Baru Undip

Menurut Joko, partai tak mampu mencetak kader yang tangguh, sehingga kebingungan karena tak punya anggota yang layak  menandingi lawan saat menghadapi Pilkada.  “Masa penduduk diatas satu juta tidak ada yang sebagus Hendi-Ita. Itu artinya terjadi krisis kepemimpinan partai,” kata Joko  menambahkan

Selain krisis kader, Joko menilai pilihan semua partai parlemen di Kota Semarang mengusung Hendi- Ita kemungkinan pertimbangan rasional, kebijakan partai dalam menentukan calon yang diusung tak kalkulatif dan menghindari kerugian.

Kondisi itu menjadikan Pasangan Hendi-Ita akan melawan kotak kosong  pada Pilwakot bulan Desember nanti. “Kalau memang hanya ada satu pasang calon, mekanismenya memang melawan kotak kosong. Itu kan prosedur yang diatur dalam undang-undang,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here