BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

Dagangan sebanyak 70 bungkus nasi dengan total seharga Rp200 ribu dan uang senilai Rp400 ribu dibawa kabur pembeli.

Serat.id – Waginem 65 tahun penjual nasi keliling, ditipu orang tak dikenal awalnya yang berpura-pura memborong dagangannya pada Jumat, 4 September 2020.  Kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 09.00 saat dirinya mulai menjajakan dagangannya, tiba-tiba ada seseorang memanggil dirinya hendak membeli dagangannya. Seketika mbah Ginem yang sedang berjalan kaki berhenti melayani orang tersebut.

“Awalnya saya sudah senang diborong semua saya bisa pulang lebih awal,” kata Waginem, atau akrab dispa Mbah Ginem itu kepada serat.id, Sabtu, September 2020.

Baca juga : Mbah Khotimah Mendapat Bantuan Dari Presiden Jokowi

Waspada, Modus Ini Sering dilakukan Menawarkan Investasi Bodong

Kisah Cap Jempol di Kertas Kosong Menghilangkan Tanah Mbah Sumiatun

Nenek lima cucu ini mengaku sempat curiga karena sebelumnya sudah diikuti oleh pembeli yang mengendarai sepeda motor tersebut. Pembeli itu sempat meminta Mbah Ginem agar membonceng sepeda motornya, namun dia menolak.

“Mau diboncengin saya mikir kalau nyasar terus bagaimana. Akhirnya saya tolak, saya ndak berani naik motor karena pernah jatuh,” ujar Mbah Ginem menambahkan.

Tanpa disangka pembeli itu pun akhirnya buru-buru mengambil dagangan nasi dan dompet Mbah Ginem yang ada di dalam keranjang.  Dagangan sebanyak 70 bungkus nasi dengan total seharga Rp200 ribu dan uang senilai Rp400 ribu dibawa kabur pembeli.

“Tiba-tiba bablas begitu saja, tidak balik lagi dan saya ditinggal di pinggir jalan. Nasi dibawa semua sama dompet,” kata Mbah Ginem mengingat kejadian tersebut.

Mbah Ginem masih ingat pelaku tersebut seorang perempuan memakai motor warna merah. “Saya tidak tau motor apa, tapi perempuan motornya warna Merah, ” kata mbah Giyem menjelaskan.

Kini Mbah Ginem harus tetap menyetorkan hasil jualannya dari dagangan yang dititipkan kepadanya. Padahal, sehari dia hanya mendapatkan penghasilan bersih sebesar Rp50 ribu sampai Rp60 ribu.

Selepas peristiwa yang dialaminya itu, Mbah Ginem bertemu dengan tetangganya yang kemudian mengantarkan pulang ke rumah. Mbah Ginem mengaku tak berniat melaporkan kejadian tersebut, ia menganggap hal itu sebagai cobaan yang harus dijalani dengan pasrah dan ikhlas.

“Saya pasrah dan ikhlas. Rejeki sudah ada yang mengatur,” katanya.

Mbah Ginem mengaku masih tetap akan berjualan. Ia tak kapok, karena tekanan memenuhi tangungjawab kebutuhan.  Ia berniat berkeliling kampung Poncowolo Semarang lokasi dia menjajakan aneka nasi dan jajanan pasar dengan berjalan kaki.

Sedangkan Mbah Ginem tinggal bersama kakak kandung dan keponakannya di rumah sederhana di jalan Setiyaki Baru II  RT 6 RW 8, Kelurahan Bulu Lor, Kecamatan Semarang Utara.

Kejadian yang menimpa Mbah Ginem mengundang simpati warga Semarang. Beberapa donatur memberikan bantuan berupa uang tunai lewat komunitas Semarang Peduli.

“Kami mendengar kabar ini dari sosial media. Dan tergerak mengumpulkan bantuan uang dari kawan-kawan donatur untuk Mbah Ginem,” kata Tonex.

Ia berharap bantuan bisa bermanfaat bai Mbah Ginem dan bisa berjualan lagi. Selain itu penipunya juga diharapkan bisa segera ditangkap. “Karena kejadian ini yang saya tahu sudah beberapa kali terjadi di Semarang dan mengincar pedagang lansia,”  kata Tonex  berharap. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here