BERBAGI
Ilustrasi demonstrasi. (foto pixabay.com)

Sekretaris KAMI Jawa Tengah, Sutoyo Abadi mengatakan kegiatan yang digelar tersebut merupakan perkenalan sekaligus konsolidasi.

Serat.id – Deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) di halaman Susan House, Jalan KH Ahmad Dahlan nomor 49 Semarang, Minggu, 6 September 2020 diwarnai unjuk rasa penolakan oleh puluhan orang. Massa yang menamakan diri Aliansi Pemuda Cinta Indonesia (APCI) menolak KAMI dengan cara berunjuk rasa di sekitar lokasi deklarasi sekitar pukul 11.00 siang.

“Kami secara tegas menolak propaganda maupun manuver yang dilakukan kelompok KAMI,” kata Koordinator kelompok penolak KAMI, M Zuhud Amri.

Baca juga : Belasan Organisasi dan Komunitas di Semarang Deklarasikan Lawan Intoleransi

Awasi Pemilu, CSO dan Mahasiswa Deklarasikan Kopi Ireng

Aktivis Deklarasikan Syarikat 98 Jawa Tengah

Zuhud menilai kehadiran KAMI di Jateng dapat menimbulkan kegaduhan di tengah pemerintah dan elemen masyarakat tengah fokus melawan pandemi Covid-19. Selain itu, sangat tidak elok, dalam situasi seperti sekarang ini, ada kelompok yang berusaha memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi, kelompok, maupun kepentingan politik.

“Kita itu bingung dengan munculnya KAMI. Sebenarnya apa yang di selamatkan ? Alangkah baiknya bersama-sama fokus menangani covid – 19,” terangnya.

Selain fokus bersama melawan Covid-19, Zuhud juga mengajak publik Jateng meningkatkan ekonomi masyarakat dengan menjaga keharmonisan, membeli produk tetangga, teman dan saudara. Hal itu dinilai akan lebih bermanfaat bagi masyarakat di Jateng.

Penolak lain, Qori Setiawan, mengatakan masyarakat Jawa Tengah maupun masyarakat lain di Indonesia menginginkan kedamaian dan situasi yang kondusif. Terlebih, kata dia, masyarakat Jawa Tengah lebih mengedepankan kedamaian, persatuan, saling menghargai dan menghormati segala perbedaan yang ada.

“Kita harus menjunjung tinggi martabat bangsa, misalnya dengan menghormati segala perbedaan baik suku, agama dan ras dalam sebuah kebhinekaan serta tidak ada ruang tumbuh dan berkembangnya sikap intoleran di daerah kami,” kata Qori.

Sekretaris KAMI Jawa Tengah, Sutoyo Abadi usai deklarasi mengatakan kegiatan yang digelar tersebut merupakan perkenalan sekaligus konsolidasi. “Karena anggota dan pengurusnya terpencar di seluruh kabupaten kota Jawa Tengah. Satu sama lain belum saling mengenal, maka kita pertemukan,” kata Sutoyo.

Sutoyo menjelaskan salah satu poin penting dari deklarasi KAMI ialah gerakan moral dan politik yang penekannya kepada rezim pemerintah. Hal sesuai dengan semangat KAMI yang sudah dideklarasikan tingkat nasional. Kekuatan moral itu meliputi seluruh rakyat tanpa mengenal suku, ras, dan agama maupun profesi.

“Apa yang diselamatkan sangat jelas, pemerintah dalam melaksanakan penyelenggaraan pemerintahan dan kenegaraan jangan sekali-sekali menyimpang dari UUD 1945 dan Pancasila,” ujar Sutoyo menjelaskan.

Ia tak mempersoalkan aksi penolakan konsolidasi yang dilakukan organisasi dengan alasan Indonesia merupakan negara demokrasi. “Silakan melakukan demo, kita punyai keyakinan sendiri, mereka juga punya keyakinan sendiri. Itu di dalam proses demokrasi,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here