BERBAGI
Petani menjemur tembakau di tanah lapang di antara Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. (Serat.id/ Anindya Putri)

Petani tembakau Temanggung mengeluhkan hasil panenan mereka yang tak laku jual serta harganya yang anjlok. Akibatnya, para petani merugi.


Serat.id – Puluhan penampang berbahan bambu dengan rajangan daun tembakau di atasnya tampak berjajar rapi di hamparan tanah lapang di tengah terik matahari.

Tanah lapang yang berada di antara Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing itu merupakan tempat yang biasa digunakan para petani tembakau menjemur hasil panen mereka.

Panen tembakau kali ini membuat para petani harus memutar otak untuk menyimpan hasil panen. Sebab, pihak gudang tembakau milik pabrik rokok tahun ini mengurangi pembelian tembakau dari para petani di Temanggung akibat adanya Covid-19.

Salah seorang petani tembakau asal Temanggung, Supardi menceritakan kebingungannya pascapanen tembakau karena tak bisa menjual ke pasaran.

“Jual tembakau tahun ini tidak seperti tahun lalu. Kalau dulu setiap habis panen pasti ada yang langsung ambil, nah sekarang bingung mau menjual ke mana,” kata Pardi panggilan akrab Supardi, Minggu (6/9/20).

Baca juga : Dewan Minta Produsen Rokok Tak Impor Tembakau

Kenaikan Harga Rokok Salah Satu Kunci Pengendalian Anak Perokok

Antara Tudingan Propaganda dan Bantahan Legitimasi Hukum

Ia pun terpaksa menimbun tembakau yang telah diolah di gudang dan di dalam rumah. Padahal tembakau yang dihasilkan cukup banyak dan berkualitas. “Saya belum tembakau yang lagi dijemur itu mau dikemanakan,” ujarnya.

Pardi memiliki lahan tembakau seluas hampir satu hektare dan  mampu menghasilkan 2,5 ton tembakau kering. Dari hasil panen kali ini, ia hanya mampu menjual 1 ton tembakau kering dan sudah diolah dengan ongkos produksi yang tak sedikit. “Sekarang tombok nggak dapat untung,” jelasnya.

Selain mengeluhkan tak terserapnya tembakau di pasaran, harga tembakau juga terjun bebas. Pardi menjelaskan, tahun lalu dia bisa menjual tembakau hingga Rp 80 ribu per kilogram. Namun, tahun ini dia terpaksa melepas dengan harga Rp 50 ribu per kilogram.

“Pokoknya tahun ini ngeri sekali. Sudah tidak ada yang mau membeli, harganya juga ikut anjlok,” keluhnya.

Ia berharap, harga tembakau kembali stabil dan ada kebijakan dari pemerintah yang membantu memperbaiki nasib petani agar tak merugi.

“Semoga ada yang mau membeli dan ada bantuan dari pemerintah,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here