BERBAGI
Umat Hindu melaksanakan upacara peringatan Hari Suci Galungan di Pura Agung Giri Natha, Jalan Sumbing No.12, Kelurahan Bendungan, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang (16/9/2020). (Serat.id/Praditya Wibby)

Momentum Galungan saat pandemi ini dapat mengajarkan manusia untuk selalu eling lan waspodo (ingat dan waspada).

Serat.id – Sekitar 300 orang mengikuti upacara peringatan Hari Suci Galungan di Pura Agung Giri Natha di Jalan Sumbing No.12, Kelurahan Bendungan, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang pada 16 September 2020.

Meski demikian, acara dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan.

 Sebelum memasuki Pura, dengan memakai masker, umat yang datang diwajibkan mencuci tangan dan dites suhu tubuhnya dengan menggunakan thermo gun.

Saat mengikuti upacara itu,  mereka mengenakan baju putih dan membawa kotak sesaji berwarna kuning yang berisi bunga yang sudah disediakan panitia. Mereka duduk di lantai yang sudah ditandai dengan cat putih untuk menjaga jarak.

Suasana menjadi hening saat pamangku atau pemimpin ibadah memulai acara.

Pengurus Pura Agung Giri Natha, Made Sutapa mengatakan, perayaan Hari Suci Galungan ini dilaksanakan setiap enam bulan sekali. “Setiap Rabu Kliwon Wuku Dungulan,” Kata Made kepada Serat.id setelah upacara, Rabu, 16 September 2020.

Baca juga : Menguak Misteri Tempat Ibadah Umat Hindu Abad IX di Kebun Durian

Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno Ditemukan di Mijen

Hari Suci Galungan ini merupakan momentum memeringati kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (keburukan).

 Karena upacara dilaksanakan di tengah pandemi, maka panitia membatasi jumlah peserta.

“Perayaan kali ini, umat yang datang kami batasi 50 persen dari kapasitas. Biasanya bisa menampung hingga 700 orang. Hari ini yang datang hanya sekitar 200-300-an,” terangnya.

Untuk umat yang tidak datang atau terlambat, kata dia, bisa melakukan ibadah secara mandiri tanpa dipimpin oleh pamangku.

“Bagi umat yang terlambat bisa mengikuti gelombang kedua dengan cara sembahyang sendiri tanpa dipimpin oleh pemangku. Kebanyakan umat mengikuti gelombang pertama, karena dipimpin oleh pemangku supaya lebih khusyuk,”ujarnya.

Dia menambahkan, umat Hindu yang hadir tidak hanya dari Kota Semarang, melainkan ada yang dari Kendal, Demak, Purwodadi dan Jakarta.

Dharma Wacana (pengkhotbah) Komang Dipta mengatakan, momentum Galungan saat pandemi ini dapat mengajarkan manusia untuk selalu eling lan waspodo (ingat dan waspada).

“Perayaan ini mengingatkan kita untuk selalu bersikap waspada yang dasarnya adalah sikap tenang,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here