BERBAGI

Ide kreatif Teguh muncul ketika mendapat sebatang kayu mahoni dari tetangga. Di tangan Teguh, kayu bakar itu jadi sepeda unik dan bernilai jual.

Warga Sukoharjo, Teguh Rahayu memamerkan sepeda kayu karyanya. (Serat.id/Yuni Firdaus)

Serat.id – Pagi itu Teguh Rahayu (49) mengayuh sepeda menyusuri jalanan desa, Minggu, 30 Agustus 2020. Bersepeda bersama sang istri sudah menjadi kebiasaan warga Dusun Grogolan, Desa Pucangan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah itu.  

Ada yang unik dari sepeda yang Teguh kendarai. Hampir seluruh komponen sepeda Teguh terbuat dari bahan kayu. Mulai dari ragangan, setang, sadel, boncengan hingga ruji-ruji roda. Hanya beberapa komponen saja yang tak memanfatkan bahan kayu seperti ban, pedal dan rantai. Tulisan “Tegoeh” terpampang di sepeda itu.

“Saya inisiatif bikin sendiri,” kata Teguh.

Ia mengatakan, inisiatif itu muncul saat menyaksikan tayangan di televisi tentang sepeda kayu.

Teguh memang memiliki keterampilan membuat kerajinan. Ia bisa membuat kerajinan batu akik, topi dari kayu, dan kacamata kayu.

Suatu hari di bulan April 2019, seorang tetangga memberinya sebatang kayu mahoni yang cukup besar. Kayu tersebut sedianya  untuk dipotong-potong menjadi kayu bakar. Tetapi Teguh tak tega karena merasa kayu tersebut kualitasnya bagus. Sayang jika untuk kayu bakar.

Teguh lalu memanfaatkan kayu itu sebagai bahan baku membuat sepeda. Kayu mahoni itu dibawa ke tukang gergaji untuk dipotong-potong menjadi ukuran yang Teguh inginkan. Ia mengubah kayu itu menjadi kerangka sepeda berbekal alat pertukangan, seperti palu, gergaji, obeng, kunci Inggris, soulder, dan amplas. Proyek sepeda kayu itu ia kerjakan seorang diri.

Baca juga: Gubug Serut, Wisata Alam yang Lagi Hit di Semarang

Sehari-hari Teguh bekerja sebagai tukang bangunan. Ia juga bertani di ladang. Di sela kesibukan itu, ia menyempatkan membikin sepeda kayu.

Sepeda kayu itu pun rampung dalam sebulan. Menurut Teguh, ada beberapa hal yang sulit dalam proses pembuatan. Yaitu cara membuat roda yang harus melingkar sempurna. Meski demikian, proyek tersebut kelar juga. Ia memoles kerangka sepedanya dengan plitur untuk mengakhiri pekerjaannya. Katanya, biar mengkilap dan awet.

Teguh memberi nama Lowrider untuk karya pertamanya itu. Sepeda tersebut seperti sepeda zaman dahulu. Tanpa keranjang dan rem. Jika ingin mengerem sepeda,  cukup menarik pedalnya ke belakang.

Sepeda karya Teguh akhirnya bisa mengaspal di jalan pada 12 Mei 2019. Karyanya bahkan mendapatkan apresiasi  dari pemerintah kabupaten. Hal itu membuat warga sekitar kagum.

“Membuat kesenian itu butuh skill. Tidak sembarang orang bisa melakukan semua,” kata Teguh saat tetangga atau temannya ingin membuat sepeda seperti dia.

Sepeda kayu milik Teguh juga mendapatkan apresiasi saat pameran yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Sukoharjo pada Juli 2019. Karyanya mendapatkan penghargaan kategori pameran yang unik.

Ada beberapa kategori dalam pameran itu, seperti fashion dan kuliner. Namun pemerintah kabupaten memilih sepeda kayu Teguh karena paling unik.

Baca juga: Kisah Perjuangan Okti Merawat Anak Pengidap Kanker Tulang

Setelah momentum itu, Teguh semakin bersemangat untuk menghasilkan karya-karyanya. Ia mulai memanfaatkan sisa-sisa kayu Jati yang ada di ladang untuk bahan tambahan produksi selanjutnya.

Produksi kedua, sepeda Chopper rilis pada 1 Juli 2019. Untuk body sepedanya, hampir sama dengan sepeda Lowrider. Yang membedakan berada di setangnya. Untuk Lowrider setangnya tinggi, sedangkan Chopper setangnya pendek.

Hadiah untuk Istri

Produksi ketiga, sepeda mini untuk cewek. Ada keranjangnya. Dua rodanya kecil masing-masing berdiameter 26 cm. Ada remnya dan cara pemakaiannya seperti sepeda biasanya. Produksi ketiga ini bisa dikayuh pada 2 Mei 2020.

 “Sebenarnya sepeda ini adalah hadiah untuk istri saya, tapi kalau ada yang cocok dengan sepeda ini ya diangkut ngga apa-apa,” kata Teguh.

Produksi keempat merupakan sepeda yang paling disukai oleh Teguh. Namanya sepeda Kebo. Sepeda ini memiliki plat nomor yang bisa dibikin sendiri. Ada tempat perkakas di bagian belakang sepeda. Ada ukiran batiknya juga dan 2 roda yang besar. Masing-masing roda berdiameter 28 cm.

Bagi Teguh, hal yang paling rumit adalah pembuatan roda. Menurutnya, roda yang sempurna merupakan roda yang tidak ada sudutnya sama sekali. Ketika berjalan bisa merasa nyaman tanpa ada guncangan. Teguh sempat kesulitan dalam pembuatan roda dan sempat putus asa.

“Tidak sehari dua hari saja, tetapi sampai seminggu. Karena butuh kesabaran, ketelitian, dan menggunakan insting yang kuat. Namun, sang istri selalu mendukung dengan hobi saya,” lanjut Teguh.

Teguh mengungkapkan, sepeda jenis kayu harus dilap dengan kain basah setiap hari agar tidak ada hama yang menempel. Jika dirawat dengan baik, bisa tahan sampai berpuluh-puluh tahun.

Untuk saat ini Teguh memasarkan karyanya secara online, melalui Facebook atau grup WhatsApp UMKM Sukoharjo. Ia mengakui, belum ada pembeli yang cocok dengan harga yang ditawarkan Teguh.

Teguh mempunyai dua anak laki-laki yang sudah bekerja. Keduanya sesekali membantu ayahnya memproduksi kerajinan.

“Kadangkala kalau anak saya tidak sibuk gitu tak suruh bantuin bapaknya  produksi pertama seperti batu akik, gitu tak suruh bantuin ngamplas batunya” kata Purwanti (45), istri Teguh.

Purwanti tak hanya membuat suaminya semangat, tetapi juga menasehati anaknya. Purwanti ingin anaknya bisa punya hobi sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Tidak harus seperti bapaknya.

Penulis: Yuni Firdaus, LPM Locus IAIN Surakarta
Mentor: Abdul Arif

Tonton juga: Bincang Serat “Bertani Modern di Tengah Kota”

Bincang Sore kali ini menghadirkan Cornelius Gea, anggota Serikat Tani Kota Semarang yang berhasil merubah tanah di perkotaan menjadi lahan pertanian. Ternyata banyak cara asik untuk mengisi waktu luang di tengah pandemi dan diulik pada perbncangan kali ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here