BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

Masalah kesehatan gigi dan mulut, khususnya karies gigi merupakan penyakit yang dialami hampir dari setengah populasi penduduk dunia atau 3,58 milyar jiwa. 

Serat.id – Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Muslimah, S.Si,MM, Apt menyebutkan, gangguan pada kesehatan gigi dan mulut dapat berisiko terserang penyakit kardiovaskular, berupa serangan jantung dan stroke. Sayangnya hal ini masih banyak diabaikan orang.

“Mulut merupakan tempat masuknya makanan ke dalam tubuh. Jika terdapat masalah pada gigi dan mulut, tentu akan menghambat nutrisi yang masuk ke dalam tubuh. Apalagi di dalam rongga mulut dipenuhi 500 jenis bakteri baik dan jahat dalam jumlah yang seimbang,” kata Muslimah, kepada serat.id Jumat 18 September 2020.

Baca juga : Waspadai Penggunaan Pemutih Gigi Berlebih, Ini Efeknya

Ini Risiko Penggunaan Kosmetik Berbahan Zat Kimia

Ini Protes ASPEK Terhadap Perpres Jaminan Kesehatan Baru

Meski ia mengakui sebagian besar bakteri tersebut tidak berbahaya, namun beberapa di antaranya tetap dapat menimbulkan penyakit di bagian tubuh lainnya jika daya tahan tubuh menurun.

Menurut Muslimah, jika kesehatan gigi dan mulut tidak terjaga berdampak menyerang siapa pun tak hanya orang dewasa namun juga anak-anak. “Pada anak kecil yang giginya rusak bisa menurun rasa percaya dirinya dan kekurangan gizi karena susah makan. Pada usia produktif jika mengalami sakit gigi, akan mengganggu produktivitas kerja dan menghambat sosialisasi,” kata Muslimah menambahkan.

Sedangkan ancaman gangguan gigi pada lansia bisa menurunkan kualitas hidupnya. Hal itu biasanya terjadi peradangan gusi yang bisa memperburuk kondisi penyakit, salah satunya diabetes. Begitu juga sebaliknya, penderita diabetes ternyata lebih rentan terhadap penyakit gusi atau periodontal.

Ia menjelaskan penyakit pada gusi menempati urutan ke-11 penyakit yang paling banyak terjadi di dunia. Sementara di Asia Pasik, kanker mulut menjadi urutan ke 3 jenis kanker yang paling banyak diderita.

“Bahkan gangguan kesehatan pada gigi dan mulut dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung dan stroke,”  kata Muslimah menjelaskan.

Dirasakan Penduduk Dunia

Catata The Global Burden of Disease Study 2016 menunjukkan masalah kesehatan gigi dan mulut, khususnya karies gigi merupakan penyakit yang dialami hampir dari setengah populasi penduduk dunia atau 3,58 milyar jiwa.

Muslimah mengutip hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018 yang menunjukkan 57,4 persen penduduk menyatakan bermasalah gigi dan mulut, namun hanya 10,2 persen yang mendapat perawatan oleh tenaga medis gigi.

Dari seluruh penduduk, 88,8 persen mengalami karies gigi dan 74,1 persen menderita radang jaringan penyangga gigi. “Walaupun 94,7 persen penduduk setiap hari menyikat gigi, namun hanya 2,8 persen yang menyikat gigi pada waktu yang benar yaitu pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur.

Sedangkan dari data Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menunjukkan pembiayaan perawatan penyakit gigi merupakan 4 besar yang dibayarkan oleh BPJS Kesehatan. Tak tanggung-tanggung dari data yang ada lebih 56 persen  orang Indonesia punya masalah gigi dan mulut.

“Di Kota Semarang, kejadian penyakit periodontal pada usia dewasa muda (15-30 tahun). Termasuk di Puskesmas Srondol tergolong cukup tinggi yakni sebanyak 45,3 persen. Kondisi ini disebabkan oleh pengetahuan dan praktik dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut yang masih buruk,” kata Muslimah.

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak Rumah Sakit Columbia Asia Semarang, Drg. Zita Aprillia, Sp.KGA, menilai kesadaran masyarakat untuk merawat kesehatan gigi sejak dini masih rendah. Padahal merawat kesehatan gigi sangat penting untuk mencegah terjadinya gigi yang berlubang. Kebanyakan dari mereka akan memeriksakan diri ke dokter gigi apabila mengalami penyakit kerusakan gigi yang sudah parah.

“Diperlukan edukasi bagi masyarakat. Terutama dengan menjaga kebersihan rongga mulut, mengontrol pola makan yang baik agar gigi tak mudah berlubang. Kemudian perlu membiasakan diri menggosok gigi setiap bangun tidur dan sebelum tidur waktu malam,” ujar Zita.

Menurutnya, faktor lain pemicu gigi berlubang juga disebabkan karena ada sisa makanan yang menyelip di  sela-sela gigi. Jadi meskipun sudah rutin menggosok gigi masih belum cukup untuk menghilangkan sisa makanan itu.

“Dengan demikian, diperlukan tambahan penggunaan benang gigi atau dental floss, yang merupakan solusi untuk membersihkan sisa makanan yang masih menempel di sela-sela gigi,” kata Zita.

Ia mengimbau masyarakat juga perlu membiasakan diri menggunakan pasta gigi yang mengandung Fluoride, yang dapat melindungi gigi dari senyawa asam penyebab kerusakan gigi. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here