Gedung Sobokartti, Simbol Peradaban Kesenian Jawa di Kota Semarang

    191
    0
    BERBAGI
    Gedung Kesenian dan Cagar Budaya Sobokartti. (Serat.id/ Mela Pauziah)

    Serat.id – Bangunan tua di jalan dr. Cipto itu masih berdiri dengan arsitekturnya yang khas. Menurut papan nama yang terpasang, tertulis tanggal berdiri 5 Oktober 1929, dan hingga kini masih berdiri diapit oleh pohon cemara di sisi kanan dan kiri pintu utamanya. 

    Meski kondisinya sepi, namun gedung yang menjadi pusat pusat kesenian sejak awal dibangun di era Pangeran Mangkunegara VII itu masih menyisakan aktivitas berkesenian.

    “Memang tidak ada pembaharuan informasi tentang kondisi Sobokartti, karena memang tidak ada yang berubah. Paling yang diupdate di internet itu seputar kegiatan anak-anak perkumpulan. Soalnya inikan cagar budaya, tidak boleh diubah-ubah,” ujar Soetrisno, Ketua Perkumpulan Sobokartti sembari mengisap rokoknya, Jumat (4/9/2020).

    Gedung Sobokarti memang telah menjadi cagar budaya sejak Surat Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Semarang Nomor 646/50 tanggal 4 Februari 1992. Tak ada yang tahu persis waktu perancangan dan pendirian gedung ini, kala itu, arsitek Thomas Karsten merancang sebagai pusat hiburan di eranya. Dalam catatan milik Perkumpulan Sobokartti tertulis bahwa Sobokartti telah berdiri sejak 9 Desember 1920, data ini berdasarkan Surat Keputusan gubernur Jenderal Hindia Belanda September 1929 tentang perubahan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Sobokartti.

    Pintu kaca yang menjadi pintu masuk Gedung Kesenian dan Cagar Budaya Sobokartti. (Serat.id/ Mela Pauziah)

    Bangunan bercat putih dan coklat itu punya enam pintu kaca yang dilengkapi dinding jeruji bercat putih. Di dalam ruangan juga menampilkan potret pemugaran gedung yang pernah dilakukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) pada tahun 2011. 

    Sedangkan di dinding lain juga tertata sejumlah foto lawas para pengurus yayasan dan sejumlah tokoh penting yang pernah berkunjung ke Sobokartti. Sayangnya  barisan pigura di dinding tak bisa menutupi kayu penyangga yang memudar, keropos dimakan rayap, serta dipenuhi sarang laba-laba dan kotoran cicak, sedangkan di ruang pentas, kursi penonton berderit saat diduduki.

    Soetrisno sadar betul gedung ini rapuh, tapi dana perawatan gedung ini hanya berasal dari warga. Sobokartti sedikit beruntung berada di tengah pemukiman warga sehingga perkara perawatan sedikit jadi agak ringan, khususnya urusan keamanan dan kebersihan bangunan utama, termasuk pemugaran dilakukan melalui iuran warga .

    “Sekarang gedung ini dikelola oleh Perkumpulan Seni Budaya Sobokartti, lengkap dengan struktur kepengurusannya. Pemerintah tidak terlibat, semua didanai sendiri, termasuk dana kebersihan, pemeliharaan dan uang listrik. Dana didapat dari berbagai kursus yang diselenggarakan tiap seksi perkumpulan,” tutur Soetrisno.

    Ruang pentas Gedung Kesenian dan Cagar Budaya Sobokartti. (Serat.id/ Mela Pauziah)

    Ida Pratiwi, seorang pelatih tari Jawa di Sobokartti mengisahkan tentang masa kecilnya di gedung ini. “Saya orang sini, sudah bergabung dengan Sobokartti sejak kecil, dulu saya juga murid di sini,” kata Ida .

    Sembari membolak-balik buku besar yang berisi nama siswa, ia menceritakan tingkatan murid tari di sini. Ada tingkatan anak-anak A1, A2, dan B, serta remaja, dan dewasa. Untuk kelas anak sendiri ada sekitar 50 peserta. Kenaikan tingkat dilakukan setelah ujian yang diselenggarakan setahun sekali.

    Para pengurus Sobokartti menyebarkan kegiatan tari, karawitan, dan dalang di sini melalui beragam kanal media sosial seperti Youtube atau Instagram, serta obrolan mulut ke mulut.

    Sayangnya, pandemi Covid-19 telah mengubah kondisi latihan di tempat ini. Peserta yang hadir kursus tak sebanyak dulu. 

    “Awal pandemi itu semua kegiatan berhenti selama tiga bulan. Baru Juli lalu kegiatan mulai kembali berjalan. Karena di sini lembaga pendidikan, jadi agak mengurangi jumlah peserta juga,” kata Soetrisno.

    Di kelas Ida misalnya, saat waktu menunjukkan pukul 16.00, jumlah peserta yang terlihat hanya enam orang anak, padahal sebelum pagebluk ada 50 anak yang datang.

    Keadaan memaksa anak-anak yang biasa berlatih di gedung Sobokartti harus berhenti berlatih. Bahkan beberapa anak didik yang dulu rutin  datang sudah tak muncul berbulan-bulan. Padahal iuran dari peserta kursus itu menjadi salah satu sumber pendapatan untuk merawat Sobokartti. (*) 

    Penulis: Mela Pauziah, LPM Missi UIN Walisongo Semarang

    Mentor: Widia Primastika

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here