BERBAGI

Seni kaligrafi sudah melekat dalam hidup Thoyyib sejak kecil. Bakat itu pula yang menguatkannya menjadi tulang punggung keluarga.

Moch Michael Thoyyib sedang merampungkan proyek kaligrafi. (dok)

Serat.id – “Nang, kamu tahu sendiri biaya di Sarang tidak sedikit. Adik-adikmu juga membutuhkan biaya untuk sekolah. Sedangkan kamu tahu sendiri bagaimana kondisi keuangan orang tuamu. Kalau bisa, mbok ya kamu mondok di tempat yang bisa disambi cari uang sendiri.”

Nasihat itu disampaikan keluarga kepada Moch Michael Thoyyib (23) suatu hari saat pulang dari Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang, Rembang. Di usia yang masih muda ia harus memikul tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga.

Malam itu pikiran Thoyyib dipenuhi oleh berbagai pertanyaan dan pertimbangan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk pindah ke pesantren berbasis kaligrafi di Ciputat pada 2015 lalu.

“Di sini (pondok yang berlokasi di Ciputat, red) saya merasa mendapatkan tempat yang cocok dan sesuai, Alhamdulillah,” ujar saat dihubungi via WhatsApp belum lama ini. Di sana, ia bisa “sambil menyelam minum air”.

Ya, Thoyyib belajar kaligrafi sekaligus mengajar ngaji kepada siswa-siswa tingkat menegah pertama dan menegah atas di pondok tersebut. Dua hal tersebut merupakan cita-cita Thoyyib sedari kecil.

Simak Bincang Serat: Bagaimana Mengawasi Pilkada di Tengah Pandemi?

“Cita-cita saya sederhana saja, menjadi seniman Islam dan menjadi guru, syukur-syukur menjadi kepala sekolah. Bukan seperti orang-orang yang bercita-cita ingin menjadi dokter atau pilot. Alhamdulillah sekarang semuanya sudah kesampaian,” ujarnya sambil tertawa.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga sekarang, ia telah mengikuti kurang lebih 40 perlombaan di bidang kaligrafi. Tidak tanggung-tanggung, ia bahkan pernah menempati juara 1 lomba kaligrafi mushaf di UIN Sunan Kalijaga, juara 1 lomba kaligrafi tingkat nasional di UIN Maliki, juara 1 lomba kaligrafi dekorasi di UNY, juara 2 lomba kaligrafi tingkat nasional di UIN bandung, serta juara-juara perlombaan lainnya.

Sebagian piala yang diperoleh kini terpampang di sisi timur ruang tamu rumahnya dan menawarkan decak kagum terhadap tiap orang yang melihat.

Thoyyib bercerita, kali pertama mengenal kaligrafi saat kelas 4 sekolah dasar. Saat itu ia masih belajar dasar-dasar kaligrafi, seperti teknik menulis huruf per huruf. Barulah saat kelas 6 ia mewakili sekolahnya mengikuti lomba kaligrafi tingkat kecamatan. Tak dinyana, ia menyabet juara satu dan peristiwa tersebut akhirnya menjadi garis start bagi Thoyyib untuk menjalani alur kehidupannya.

Nyatanya jalan kehidupan memang tidak selalu mulus. Saat memasuki sekolah tingkat menengah pertama, Thoyyib harus menelan kenyataan pahit bahwa sekolah yang diharapkan mampu membantu menggali bakat Thoyyib, tidak banyak memberikan peran. Awalnya ia memang berencana untuk bergabung ke dalam ekstrakurikuler kaligrafi―melihat dari brosur yang tersebar, siswa di sana banyak yang menjuarai kaligrafi. Sayangnya, ekstrakurikuler tersebut ternyata tidak sesuai ekspektasi sehingga ia terpaksa harus vakum dalam mengasah teknik kaligrafi.

Oleh karena itu, Thoyyib memilih membantu jualan gorengan di kelas untuk mengisi waktu luangnya. Hal yang sama juga dialaminya ketika memasuki sekolah tingkat menegah atas. Ia terpaksa “mengalah” dengan kakak kelas yang dirasa lebih unggul darinya. Ketika Thoyyib memasuki kelas 12―secara otomatis kakak kelas tersebut telah lulus―barulah ia diajukan untuk lomba mewakili sekolah.

Baca Juga: Teguh, Tukang Bangunan Sulap Kayu Bakar jadi Sepeda Unik

“Waktu itu ada kakak kelas saya yang kaligrafinya jauh lebih unggul dari saya, makanya saya tidak diikutkan. Baru saat kakak kelas saya itu lulus, saya menjadi delegasi sekolah. Alhamdulillah berkas kerja keras, saya memenangkan lomba tersebut meski persiapannya hanya seminggu,” jelasnya.

Meskipun uang yang dihasilkan dari lomba dapat dibilang cukup, Thoyyib tetap membuka jasa pembuatan kaligrafi. Ia menyadari bahwa menggantungkan hidup hanya dari lomba tidak memberikan banyak harapan mengingat tidak setiap bulan ada even lomba, dan lomba yang diikuti pun tidak selalu memberi kemenangan.

Sejauh ini, ia telah menerima pesanan dari berbagai kalangan, mulai dari saudara, donatur yayasan yang ditempati, bahkan gurunya sendiri yang kaligrafi tersebut akan dipersembahkan kepada mantan gubernur Lampung. Ia juga tidak akan menolak jika diberi sebuah proyek untuk mengerjakan kaligrafi di suatu musala atau masjid.

“Kemarin sebelum iduladha saya mengerjakan kaligrafi di masjid Polda Lampung,” imbuhnya.

Berkat kegiatan mengajar dan menggeluti kaligrafi, Thoyyib secara periodik mampu mengirimkan sedikit uang kepada keluarganya di Kudus. Uang yang dikirimkan digunakan untuk biaya sekolah ketiga adiknya saat itu―kini hanya si bungsu yang masih sekolah. Bahkan Thoyyib kuliah di perguruan tinggi swasta pun hasil dari kaligrafi.

Koleksi piala lomba kaligrafis Thoyyib. (dok)

“Selain mengirimkan uang, Alhamdulillah saya juga bisa kuliah. Ini saya sedang menyelesaikan tugas skripsi,” imbuhnya.

Awalnya Thoyyib memang berniat kuliah menggunakan biaya sendiri. Namun karena prestasinya, yakni sering memenangkan lomba kaligrafi antarmahasiswa, ia mendapatkan beasiswa.

Seandainya tidak mendapat beasiswa pun, ia akan tetap kuliah meskipun harus memeras keringatnya sendiri, seperti rencana awal yang telah ia rangkai.

Menurutnya, meskipun cita-citanya menjadi guru, ia sama sekali tidak keberatan jika jurusan Pendidikan Agama Islam yang tengah didalami tidak mengantarkannya pada profesi guru. Tujuan utamanya berkuliah ialah murni untuk mencari ilmu. Ia hanya ingin menjadi seniman kaligrafi yang berpendidikan tinggi.

Berbeda dengan Thoyyib yang memang telah merancang rencana untuk kuliah, Aslimah, ibunda Thoyyib mengaku tidak pernah menyangka jika salah satu anaknya dapat menjadi seorang sarjana, bahkan sekadar membayangkan pun tidak pernah terbesit di pikirannya.

Rasa senang dan bangga pasti ada apalagi anak sulungnya itu kuliah dengan usahanya sendiri.

“Pemikirannya (Thoyyib, red) itu malah sudah kaya orang dewasa; mikirin bantu sekolah adiknya,” tutur Aslimah sembari mengupas singkong.

Penulis: Aslamatur Rizqiyah
Mentor: Abdul Arif

Tonton Juga: Dicap Perpus Liar, Ini Suka Duka Soesilo Toer Bangun PATABA

Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (Pataba) Blora menyimpan kisah sedih. Pernah dicap sebagai perpustakaan liar. Bahkan tetangga sekitar tak pernah berkunjung ke perpustakaan legendaris itu. Simak video selengkapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here