BERBAGI
Panel surya, pixabay.com

Langkah untuk mendorong bauran Energi Baru Terbarukan

Serat.id – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Pemerintah Jawa Tengah mencatat sebanyak 51 Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap dengan daya 708.662 Kwp telah terpasang di Jawa Tengah. Jumlah PLTS atap terus bertambah selama 2 tahun yang sejalan dengan target Jateng Solar Province.

“Jadi khusus di Jateng itu saat ini sudah terpasang PLTS Rooftop 51 unit dan harapannya bauran energi akan disasar PLTS Rooftop sejuta panel surya saat pencanangan 1 tahun Jateng Solar Province,” kata Kepala Bidang Ketenagalistrikan ESDM Jawa Tengah, Imam Nugraha, beberapa waktu lalu.

Baca juga : Semarang Punya Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik

Daerah Ini Manfaatkan Potensi Energi Terbarukan dari Pembangkit Air

Dusun Totogan Tak Lagi Gelap

Menurut Imam, penggunaan PLTS atap merupakan langkah untuk mendorong bauran Energi Baru Terbarukan (EBT), Pemprov Jateng telah mengeluarkan Perda Nomor 12 Tahun 2018 tentang Rencana Umum Energi Daerah (RUED). Pada tahun ini Jateng telah mencapai 11,9 persen dengan target 17 persen.

” Untuk mencapai target 17 persen makanya kita dorong itu PLTS karena panas matahari itukan ada di seluruh Jateng,” kata Imam menambahkan.

Ia menjelaskan adanya EBT dari PLTS diharapkan mampu menurunkan emosi dan polusi dari pembangkit listrik fosil. Serta mengedukasi masyarakat untuk lebih sadar soal pengembangan energi bersi dan memanfaatkan energi alam yang ada. ” Semoga masyarakat juga bisa tereduksi dengan adanya TS agar lebih sadar dengan energi yang ramah lingkungan,” Katanya.

Tercatat 51 Unit PLTS yang terpasang berasal dari Industri seperti Danone di Klaten, PT Phapros di Semarang, Garmen di Ungaran, 27 unit di rumah tangga dan 21 Ponpes di 2 Rembang, Sukoharjo, Magelang, Kebumen dan Kendal.

Anggota DPRD Jateng, Benny Karnadi, mengatakan seharusnya dinas dan lembaga pemerintah mempelopori penggunaan PLTS. “Seharusnya semua kantor dinas mulai menggunakan pembangkit listrik tenaga surya,” kata Benny.

Ia melihat selama ini baru beberapa lembaga pemerintah di Jateng yang menggunakan tekhnologi pembangkit terbarukan itu. Menurut Benny penggunaan PLTS yang ramah lingkungan diakui mahal di modal awal. “Namun murah pada operasional dan ramah lingkungan,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here