BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

Krisis air, pangan, dan penyebaran penyakit adalah dampak yang paling dikhawatirkan

Serat.id – Survei Yayasan Indonesia Cerah dan Change.org Indonesia menunjukkan sekitar 90 persen  warga muda aktif, merasa khawatir atau sangat khawatir tentang dampak krisis iklim. Mereka  berpendapat dampak krisis iklim setidaknya sama atau lebih parah dari dampak pandemi COVID-19.

“Dampak yang paling dikhawatirkan dari mereka meliputi krisis air bersih sebanyak 15 persen, krisis pangan 13 persen, dan penyebaran penyakit atau wabah 10 persen,” kata Direktur Eksekutif Yayasan Indonesia Cerah, Adhityani Putri, dalam keterangan resmi yang diterima serat.id, Jum’at 25 September 2020.

Baca juga : Walhi : Kesadaran Perubahan Iklim Masyarakat Indonesia Paling Rendah

Workshop Pembuatan Kantong Non-Plastik Kreatif

Tanam Mangrove, Kampung Penghasil Ikan Ini Kembangkan Ekonomi Berbasis Lingkungan

Putri juga menyebut dalam surveinya menunjukkan 19 dari 20 orang responden percaya bahwa manusia memiliki andil dalam menyebabkan krisis iklim.

Menurut putri, survei dilakukan dengan cara daring bertepatan dengan aksi Global Climate Strike yang akan digelar serentak di banyak negara di dunia, termasuk Indonesia pada hari ini. Aksi Global Climate Strike menyuarakan pentingnya tindakan dan penanganan krisis iklim.

Sedangkan survei dilaksanakan selama sekitar 2 bulan sejak 23 Juli hingga 8 September 2020 diikuti oleh 8.374 orang yang tersebar di total 34 Provinsi di Indonesia. “Mayoritas responden dengan rentang usia 20 tahun hingga 30 tahun yang merupakan warga muda aktif pengguna media sosial,” kata Putri menjelaskan.

Ia menyebutkan dalam survei yang disebarkan melalui website dan pengguna Change.org Indonesia, serta kanal media sosial dan aplikasi percakapan, menunjukkan ada kehausan dari anak muda terlibat melawan krisis iklim.

Survei itu juga menunjukkan sikap responden yang menilai perubahan iklim sumber terbesar dari emisi gas rumah kaca yang dalah kerusakan dan kebakaran hutan dan lahan. “Diikuti asap kendaraan dan pabrik, dan pembangkit listrik energi fosil seperti batubara, minyak bumi, dan gas alam,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here