BERBAGI

Sejumlah anak kecil ikut sang ibu ditahan di penjara itu

[Ilustrasi] Nestapa stigma peristiwa 65. (serat.id/Abdul Arif)

Kompleks bangunan penjara di ujung jalan MGR Sugijapranata Kota Semarang itu masih kokoh berdiri.  Berdampingan dengan hotel Siliwangi sebelah utara dan sebuah toko roti di sebelah selatan, penjara yang berada di Kampung Bulustalan Kecamatan Semarang Selatan itu menjadi saksi penderitaan para perempuan tahanan politik paska peristiwa gerakan 30 September tahun 1965.

Penjara Bulu sering disebut dalam testimoni para tahanan politik yang dianggap terkait organisasi PKI, selain penjara Plantungan di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Para tahanan politik yang belum tentu salah merasakan derita di penjara itu. Beberapa Tapol ada yang merasakan sekali sementara ada juga yang merasakannya dua kali.

Komnas Perempuan dalam laporan : Kejahatan Terhadap Kemanusiaan Berbasis Jender: Mendengarkan Suara Perempuan Korban Persitiwa 1965, mencatat Penjara Bulu merupakan penjara bagi para tahanan wanita di bawah komando Teperda Jawa Tengah yang langsung berada di bawah kendali Pangdam VII/ Diponegoro sebagai Pelaksana Khusus Kopkamtib.

“Bagi sejumlah tahanan wanita, LP Bulu berfungsi sebagai tempat transit sebelum dipindahkan ke LP Plantungan,” tulis laporan itu.

Baca juga : Tempat bagi Mereka yang Dianggap Keras Kepala

Cerita Tragis Sekolah Tionghoa, Digeruduk Jadi Kamp

Jejak Sepatu dan Didikan Boven Digoel

Setidaknya itu dirasakan Sasmiati, yang kerab dikenal sebagai Mia Bustam mantan Ketua Lembaga Kedaulatan Rakyat (Lekra) Yogyakarta. Mia mengisahkan dirinya sempat dua kali merasakan ditahan di Penjara Bulu. Kali pertama ia berada di Penjara Bulu pada 1971 dan ditahan selama dua minggu. Ini merupakan perpindahan ketiga penahanannya.

Kali pertama Mia Bustam ditangkap di Polres Sleman 23 November 1965 kemudian ditahan di Benteng Vredeburg dari Desember 1965 hingga April 1966, lantas berpindah ke Penjara Wirogunan Yogakarta pada 1966 hingga 1971. 

Di penjara Bulu, ia ditahan di kamar empat yang khusus memiliki penyakit dada seperti Tuberkolosis, asma dan jantung. Sementara temannya yang berfisik sehat ditempatkan di Blok E.

Dalam salah satu surat Mia Bustam menulis kisah temannya sejak berada di Penjara Wirogunan bernama Sumadiyah lulusan SMA yang memiliki sedikit ganguan jiwa ditahan di kamar delapan. Selain itu ia mencatat terdapat sejumlah anak kecil di Penjara Bulu yang lahir setelah ibunya ditahan.

“Tiap pagi (anak) mereka dikumpulkan selama satu jam untuk belajar menyanyi dan berbagai kegiatan lain untuk anak-anak setingkat TK,” tulis Mia Bustam dalam memoarnya dari Kamp Ke Kamp, Cerita Seorang Perempuan.

Kesaksian Mia mengenai anak-anak yang ikut merasakan derita di penjara Bulu dibuktikan dengan kehadiran Soetarni, isteri Comite Central PKI, Njoto juga pernah ditahan di tempat itu bersama anak-anaknya.

Majalah Tempo dalam Njoto: Peniup Saksofon di Tengah Prahara menulis masuknya Soetarni di Penjara Bulu beserta seluruh anaknya merupakan perpindahan kedua kalinya sejak ditangkap pada 1969 yang saat itu tinggal di rumah di Baturetno, Wonogiri Jawa Tengah.  Setelah ditangkap Soetarni di bawa ke Balaikota Solo untuk diinterogasi.

Kemudian ia ditahan di Penjara Komando Distrik Milter, lalu dibawa di Asrama Sekolah Tionghoa Semarang dan kemudian baru dibawa ke Penjara Bulu.

Penahahan Soetarni menjadi yang kedua kalinya, setelah dua tahun sebelumnya ia sempat ditahan  di Rumah Tahanan Budi Kemuliaan, Jakarta selama delapan bulan dan kemudian dibebaskan. Meski ditahan ia tidak pernah dipukul maupun disiksa.

Ketika ia masuk Penjara Bulu, petugas penjara memperingatkan pada tahanan lain untuk jangan mendekati dan bicara pada dirinya. Meski begitu tapol wanita lain pada mendekatnya lantaran menyukai anaknya Teti (Esti Dayati) anak bungsunya yang berusia dua tahun.

 “Orang-orang mikir, ini kok anaknya putih seperti indo, tapi ibunya hitam seperti Ambon. Teti memang mirip Pak Nyoto,” tulis Majalah Tempo dalam Potret Retak Keluarga Korban G30 S

Pada saat itu para tapol wanita diharuskan bekerja ada yang bekerja untuk pertanian, pembatikan, pertenunan. Ia sendiri memilih bekerja sebagai penjahit seragam tahanan yang mana ia bekerja dari pukul 8 pagi hingga siang. “Upahnya saat itu hanya dihargai singkong rebus dua batang atau cabe sebungkus kecil,”.

Sutarni mencatat tempat tidur di Penjara Bulu Semarang terbuat dari semen dengan dua kaki, seukuran kasur single. Tahanan yang masih muda tinggal ramai-ramai di satu sel.

Tak lama kemudian Sutarni pun dipindahkan ke Penjara Bukit Duri, Jakarta. Ketika ia hendak dipindahkan, kawannya sesama tapol menangisi Teti karena kelucuannya dan ada juga yang meminta untuk dijadikan anak. (*)

Edisi Nestapa Stigma Peristiwa 65
Penulis : Praditya Wibby, Ulil Albab Alshidqi,
Pengolah Bahan: Edi Faisol
Ilustrasi : Abdul Arif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here