BERBAGI

Kesedihan masih menimpa. Saat pulang dari hukuman  anaknya sudah meninggal, sedangkan istrinya sudah dinikahi lurah di kampungnya.

[Ilustrasi] Nestapa stigma peristiwa 65. (serat.id/Abdul Arif)

Saat peristiwa gerakan 30 Sepetember 1965, Muchran, kini 84 tahun masih menetap di Patebon Kabupaten Kendal dan masih aktif di Persatuan Pamong Desa Indonesia (PPDI). Ia mengakui dipenjara karena tercatat sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI), meski tak tahu apa kesalahan yang dilakukan.

 “Saat itu diminta berkumpul di kantor Kecamatan Patebon oleh pemerintah desa, untuk pembubaran anggota PKI. Kemudian dibawa lagi ke kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kendal,” kata Muchran, kepada Serat.id di kediamannya Mangkang Kulon, Jumat, 18 September 2020.

Ia masih ingat betul sampai di kantor kecamatan, kira-kira pukul 11 siang, sudah ada pasukan khusus angkatan darat (RPKAD). “Sudah banyak orang yang berkumpul,” kata Muchran menambahkan.

Baca juga : Kekerasan yang Dirasakan Selama Penangkapan dan Penahanan

Kisah Sumini, Pegiat Gerwani Diburu Massa Beringas

Cerita dari Penjara Bulu, Sejumlah Catatan Para Korban

Saat itu ia bersama 40-an orang lainnya tidak diinterogasi, namun hanya dimintai identitas saja. Keesokan harinya dibawa ke Tangsi (gedung ketentaraan) yang sekarang menjadi kantor Polisi Resort (Polres) Kendal.

Setelah beberapa hari di tangsi, ia bersama rombongan lain dipindah ke gudang padi di Kaliwungu. Semua orang tadi dikumpulkan untuk di screening oleh polisi dan RPKAD. Saat itu semua orang dipaksa mengakui rencana pembunuhan Jenderal lain usai peristiwa lubang buaya. “Siapa lagi yang akan dibunuh, mempunyai senjata atau tidak? Kami dipukuli,” kata Muchran mengawali cerita siksaan yang dialami.

Kekerasan yang mulai ia alami terus terjadi, bahkan ia mengaku tubuhnya sudah tidak terasa lagi menerima dipukuli akibat sering menerima kekerasan selama empat bulan.

Akhirnya Muchran dipenjara di Gliger Nusakambangan. Di situ ia bertemu sesama pengurus PKI dari Comite Daerah Besar (CDB) Semarang. Menurut Muchran, di penjara Nusakambangan cenderung lebih baik, jarang sekali ada kekerasan fisik meski mereka sering kelaparan yang berakhir dengan kematian.

Di penjara pulau itu Muchran dijatah 150 gram nasi dan grontol jagung 250 gram, sedangkan kebutuhan mandi menggunakan air laut. Itu pun tak lama karena dibatasi waktu sangat singkat.

Jika ada kesempatan keluar lingkungan penjara, Muchran dan para Tapol lain bisa mencari dedaunan untuk dimakan. “Makanya pada tahun 1967 saya sudah kurus kerontang, karena tiap hari ada dua kawan yang meninggal karena kelaparan. Di sana kalau tidak mencuri ya kelaparan,” kata Muchran menjelaskan.

Perlakuan terhadap para Tapol yang selalu krisis pangan membuat mereka perlahan mati bergantian. Bisa dipastikan saban dua hari sekali ada yang meninggal. Terlebih di Batu, sebuah blok penjara lain di Nusakambangan.

Dia hanya beruntung karena jago bermain sepak bola. “Kalau tak bisa bermain bola saya juga tak bisa pulang karena sudah mati kelaparan,” kata Muchran mengisahkan.

Ihwal keberuntungan  berawal saat para Tapol disuruh keluar sel untuk bermain sepak bola. Muchran dirasa mampu dan bagus bermain sepak bola.  Oleh sipir dia dimasukkan menjadi tim inti.

“Mereka mungkin tahu siapa yang memang berbakat sepak bola, lalu saya terpilih jadi tim inti. Setelah itu saya dipindah bagian dapur sehingga tidak kelaparan lagi,” katanya.

Padahal sebelum mendapatkan job itu ia makan apa saja, termasuk jamur tanah yang dipepes dan menyebabkan keracunan dan pingsan. 

Muchran yang dipenjara dengan tuduhan terlibat peristiwa 30 September 65 dan tak pernah diadili. Ia bisa kembali ke kampungnya meski harus menerima kenyataan pahit saat anaknya sudah meninggal, sedangkan istrinya sudah dinikahi lurah di kampungnya.

Derita yang ia alami sebagai Tapol tak membuatnya menyesal. Bahkan ia masih bangga pernah aktif di PKI yang dinilai teguh menjaga ideologi  serta  kinerjanya jelas. “Orang PKI tidak ada yang korupsi, pornografi.  Jika ada poster di bioskop yang pornografi langsung diturunkan oleh simpatisan PKI,” katanya. (*)

Edisi Nestapa Stigma Peristiwa 65
Penulis : Praditya Wibby, Ulil Albab Alshidqi,
Pengolah Bahan: Edi Faisol
Ilustrasi : Abdul Arif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here