BERBAGI

Kepala sekolah Karangturi diinternir oleh massa, dari rumahnya dipaksa berjalan ke kamp tersebut dengan tangan terangkat.

[Ilustrasi] Nestapa stigma peristiwa 65. (serat.id/Abdul Arif)

Kehadiran massa yang mendatangi sekolah Karangturi di Semarang, pada 20 Oktober 1965 membuat Bing Oei panik. Ia memutuskan meninggalkan sekolah karena tidak bisa bertindak apapun saat massa yang mayoritas menggunakan pakaian hitam dan sapu tangan merah datang menyerang sekolah tersebut.

Saat itu Bing Oei berusia 14 tahun, pria yang kini tinggal di Belanda itu sempat menceritakan kisah sekolahnya didatangi massa beringas usai peristiwa gerakan 30 September 1965. Kisah Bing Oei ditulis Martijn Eickhoff, Donny Danardono, Tjahjono Rahardjo dan Hotmauli Sidabalok dalam The Memory Landscapes of “1965” in Semarang.

Hari-hari usai peristiwa gerakan 30 September banyak massa beringas menyisir orang dan lembaga yang dicurigai berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Harian Suara Merdeka menyebut masa aksi di Semarang sejak pagi hingga sore pada Rabu, 20 Oktober 1965 mulai melancarkan protes dan merusak segala hal yang dianggap berhubungan dengan gerakan 30 September.

“Termasuk yayasan milik Tionghoa Sekolah Karangturi dan Sekolah Hoa Ing yang berada di Semarang,” tulis Suara Merdeka, Kamis, 21 Oktober 1965.

Baca juga : Prasasti Kusam Penanda Tempat Pembantaian

Cerita dari Penjara Bulu, Sejumlah Catatan Para Korban

Tempat bagi Mereka yang Dianggap Keras Kepala

Jaya Suprana, pendiri MURI, yang merupakan salah satu murid sekolah Karangturi menceritakan kisahnya bahwa ketika massa hendak menyerang sekolah tersebut. Kepala Sekolah saat itu Oei Boen Kong, yang juga anggota Baperki sempat menghibur para murid dengan mengatakan bahwa pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Peking tidak akan tinggal diam.

Nantinya, mereka akan mengirim pasukan Tentara Nasional Tiongkok (TNT) untuk menyelamatkan warga keturunan Tionghoa di Indonesia. “Sesuai politik diaspora RRT terhadap kaum keturunan warga keturunan Tionghoa di perantauan,” tulis Jaya Suprana dalam artikel Doa Seorang Korban Gestapu dalam bukunya Naskah-Naskah Kemanusiaan.

Namanya menghibur, pernyataan kepala sekolah tentu tak terbukti. Sebaliknya, demonstran saat itu berhasil memasuki sekolah dengan amarah, menghancurkan kaca jendela hingga berantakan. Para murid termasuk Jaya Suprana berlarian untuk menyelamatkan diri.

Ia termasuk yang beruntung karena nyawanya berhasil terselamatkan. “Sebab masih remaja, maka saya masih dianggap anak bawang yang tidak diperhitungkan untuk masuk daftar mereka yang ditangkap bahkan dibunuh,” tulis Jaya Suprana lebih lanjut .

Setelah insiden pengrusakan tersebut, tak lama kemudian sekolah itu berubah menjadi kamp tahanan politik yang dikenal sebagai kamp Gaok. Penamaan Gaok tersebut merujuk pada tiga patung Gaok yang ada di sekolah.

Menurut Bing Oei, ironisnya salah satu tahanan politik adalah Kepala Sekolah Karangturi yang diinternir oleh massa dari rumahnya dan dipaksa berjalan ke kamp tersebut menggunakan tangan terangkat. Penangkapan kepala sekolahnya, tulis Jaya Suprana, tanpa dilakukan proses hukum.

“Alasan ia diinternir karena massa menganggap kedekatannya dengan Baperki, organisasi politik budaya kiri yang menganjurkan integrasi etnis Tionghoa sebagai identitas terpisah dalam bangsa Indonesa,“ tulis Martijn Eickhoff, Donny Danardono, Tjahjono Rahardjo dan Hotmauli Sidabalok.

Keberadaaan Kamp Gaok ini sempat dicatat baik oleh salah satu tahanan politik wanita yakni Soetarni, istri Njoto yang turut membawa kelima anaknya. Ia berada di Kamp Gaok yang disebutnya sebagai asrama pelajar Tionghoa, sesaat sebelum ia dipindah ke penjara Bulu setelah sebelumnya ditahan di Penjara Komando Distrik Milter, Solo pada 1969.

Soetarni yang merupakan isteri Comite Central PKI, Njoto sedikit beruntung. Dalam sejumlah kesaksian ia menyebut Kamp Gaok gedung yang bagus saat itu penuh tahanan pria dan wanita.

Soetarni sedikit beruntung, di gedung itu ia memperoleh perlakuan khusus mendapat tempat di paviliun khusus yang memiliki kamar mandi.  

“Tempat tidurnya dua, bertingkat. Pelayannya juga ada, seorang anak muda perempuan Tionghoa, dari Instittut Teknolog Bandung (ITB). Dia membawakan makanan untuk kami. Saya mencuci, dia yang membawa ke belakang, menjemur cucian,” tulis Majalah Tempo dalam Potret Retak Keluarga Korban G30S.

Menurut Soetarni makanan yang tersedia untuk para tahanan ditanggung oleh keluarga masing-masing. Para keluarga tahanan diwajibkan menyetor makanan tersebut ke dapur umum. Soetarni berkisah di antara makanan tersebut terdapat abon sekarung, dan juga ada dendeng yang banyak.

“Saya gemuk di sana, makanannya enak tidak seperti di Kodim yang Cuma makan sepotong tempe rebus,” kata Soetarni dikutip Majalah Tempo.

Di kamp Gaok Soetarni sempat menitipkan pesan kepada petugas tahananan yang asli Baturetno untuk memberitahukan keadaannya. Setelah beberapa saat di Kamp Gaok ini, ia dipindahkan ke Penjara Bulu.

Menurut Sn. Wargatjie, Lanny Nathalie Ting, Ahmad Fauzan Hidayatullah, dalam Pecinan Semarang dari Boen Hian Tong sampai Kopi Semawis, penggunaan kamp tahanan politik di sekolah Karangturi berlangsung selama dua tahun.

Hal ini kemudian membuat pengajaran sekolah sementara dipindah di beberapa tempat darurat, salah satunya berada di halaman parkir Bioskop Gadjah Mada.

Setelah para pengurus sekolah berhasil mengklarifikasi tak terlibat gerakan 30 September, Gedung Sekolah Nasional Karangturi akhirnya  diserahkan kembali kepada yayasan sesuai putusan dari Pepekuper Kodya Semarang, pada tanggal 31 Oktober 1967.

“Setelah diadakan perbaikan gedung, pada tahun 1968 Sekolah Nasional Karangturi kembali berfungsi,“ tulis Sn. Wargatjie, Lanny Nathalie Ting, Ahmad Fauzan Hidayatullah.

**

Nestapa akibat dampak stigma peristiwa gerakan 30 September 1965 juga dirasakan oleh Chinese English School atau Hoa Ing Tiong Hak yang saat itu berada di Jalan Pemuda Kota Semarang. Pada hari yang sama, 20 Oktober 1965 sekolah itu juga digeruduk dan dirusak massa.

Seorang mantan siswa Chinese English School, Siswa Santoso, mengisahkan saat proses belajar bersama guru ia mendengar teriakan massa dari luar gedung sekolah. Seketika ia bersama siswa lain dan guru dan ketakutan dan meninggalkan sekolah.

 “Gurunya melanjutkan pelajarannya secara pribadi di rumah, tetapi kemudian menghilang. Ia tidak diketahui kabarnya saat ini, ” ujar Siswo, ditulis Martijn Eickhoff, Donny Danardono, Tjahjono Rahardjo dan Hotmauli Sidabalok.

Namun, majalah minguan Tiongkok berbahasa Inggris, Peking Review No.49 saat itu menuliskan tanggal insiden pengrusakan Sekolah Hoa Ing berlainan dengan yang diberitakan Suara Merdeka.

Peking Review menulis kejadian penggerudugan terjadi pada 29 Oktober 1965 malam hari, saat itu tentara RPKAD memaksa masuk dan mengeledah sekolah tersebut.  Mereka kemudian menghina para guru dan murid, serta melecehkannya dengan umpatan sebagai yang tak etis. Pasukan itu juga mengancam penghuni sekolah.

Menurut Michael R. Godley dan Charles A. Coppel dalam The Pied Piper and the Prodigal Children A Report on the Indonesian-Chinese Students who went to Mao’s China, paska kejadian tersebut Kepala Sekolah Chinese English School terpaksa meninggalkan Jawa dan pergi ke Tiongkok pada 1966.

Sekolah Chinese English School pun  pada 1966 dialihfungsikan menjadi sekolah SMA 5, yang sebelumnya berlokasi di SPG Negeri.   (*)

Edisi Nestapa Stigma Peristiwa 65
Penulis : Praditya Wibby, Ulil Albab Alshidqi,
Pengolah Bahan: Edi Faisol
Ilustrasi : Abdul Arif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here