BERBAGI

Wijanarto *

Mengapa Lukman nyaris terlupakan ? Pertama, berbeda dengan Aidit dan Nyoto, yang keduanya banyak meninggalkan jejak pemikiran tertulis, Lukman tak seagresif dalam mencurahkan pemikiran dalam bentuk tertulis, walaupum ada beberapa tulisannya yang termuat di Bintang Merah. Kedua, tipikal pribadi Lukman yang cenderung diam berpengaruh dalam karakter tampilan di muka publik. Soal ini putrinya Tatiana dalam catatan, Pantha Rhei (2003), mengingatnya, “Bapak memang bukan seorang yang suka omong panjang lebar”. Ketiga, meski sebagai pengurus teras Politbiro CC PKI, pamor M.H Lukman masih kalah sinar dibandingkan dengan Aidit dan Nyoto.

Bersama dengan Dipa Nusantara Aidit, Nyoto, namanya dianggap sebagai triumvirat teras Politbiro Central Comite (CC) PKI. Sayangnya publikasi untuknya minim. Berbeda dengan D.N Aidit dan Nyoto yang banyak mendapatkan perhatian cukup besar. Terakhir publikasi orang-orang kiri yang diterbitkan Majalah Tempo dengan Kepustakaan Populer Gramedia tidak menempatkannya dalam publikasi tersebut. Dialah Mohammad Hakim Lukman (ada yang menuliskannya Mohammad Hatta Lukman) atau lebih populer ditulis M.H Lukman.

Mohammad Hakim Lukman dilahirkan di Jatinegara Kabupaten Tegal , pada wilayah di Kabupaten Tegal pada 20 Februari 1920. Sama seperti ayah Nyoto, ayah Lukman adalah seorang aktivis pergerakan 1926. K.H Muklas sang ayah dalam catatan kolonial Belanda, tepat Mailrapporten Residen Pekalongan Jasper sebagai pimpinan Sarekat Rajat Jatinegara yang menggerakkan perlawanan dan protes kenaikan pajak pasar. Sarekat Rajat merupakan organisasi onderbouw PKI yang menggerakkan basis masyarakat petani dan masyarakat pedesaan.

Baca juga : Cerita Tragis Sekolah Tionghoa, Digeruduk Jadi Kamp Penahanan Kemudian

Tempat bagi Mereka yang Dianggap Keras Kepala

Cerita dari Penjara Bulu, Sejumlah Catatan Para Korban

Bulan Maret 1926, Sarekar Rajat Karangcegak melakukan perlawanan yang berdampak penangkapan dan penahanan aktivis SR, termasuk  K.H Muklas di dalamnya. Pemberontakan SR Karangcegak mendahulu pemberontakan PKI bulan November 1926. Bersama aktivis komunis lainnya pada tahun 1928 K.H Muklas dibovendigulkan.

Tumbuh dengan warisan ideologi dari sang ayah. Pada usia 8 tahun, Lukman dibawa serta ke  Boven Digoel mengikuti pembuangan ayahnya. Dari penuturan keluarga, pada saat pembuangan Lukman kecil ikut serta dengan sang ayah dan banyak bergaul dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional lainnya seperti Mohammad Hatta dan Mohammad Bondan. Karena kedekatannya dengan Bung Hatta, ada sebuah sumber singkatan M.H di depan nama Lukman kepanjangan dari Mohammad Hatta, dimana KH Muklas punya kekaguman kepada Hatta yang dikenal jujur dan sederhana ini.  Sang ayah bersama dengan lainnya kemudian memdirikan Malay English School (MES), sebuah lembaga pendidikan formal bagi anak-anak tapol Digoel.

Kepengurusan MES diantaranya Kadirun, Nurati, Raswin dan Haji Muklas (ayah M.H Lukman). Sebagaimana kesaksian Mohammad Bondan pada Memoar Seorang Eks Digulis : Totalitas Sebuah Perjuangan (2011), pola pendidikan MES menggunakan pola sistem tiga keluara. Artinya, satu guru mengajarkan 3 orang peserta didik. Bila guru ditangkap maka murid yang tertua akan menggantikan posisi guru untuk mengajarkan pada adik kelasnya. Berbeda dengan sekolah resmi yang didirikan pemerintah kolonial, pada pendidikan MES, siswa beroleh pendidikan nasionalisme melalui pelajaran ekstrakurikuler kepanduan dengan mengibarkan bendera Merah Putih.

Kemungkinan Lukman kecil mendapatkan pendidikan dari MES. Melalui interaksi dan didikan para tapol inilah jiwa nation seorang Lukman terbentuk. Akibat tetap membandel, pengurus MES dibuang ke Tanah Tinggi, salah satu pembuangan bagi tapol Digoelis yang membangkang. Termasuk K.H Muklas dipindah ke Tanah Tinggi. Soal ini diamini oleh Mohammad Nuh, salah satu tapol Digoel dari Tegal pada tulisannya Nama-nama Perintis Kemerdekaan dan Gerak Perjuangannja (1962). M.H Lukman mengikuti ayahnya hanya di Digoel. Karena tahun 1942 ayahnya dibawa oleh Pemerintah Belanda ke Australia tepatnya di Cowra untuk menetralisir dari pengaruh pendudukan Jepang. Sebelum pendudukan Jepang Lukman telah kembali ke Jawa.

Pulangnya Lukman ke Jawa inilah merupakan fase pembentukan ideologi perjuangannya selepas dari Digoel dan militansinya yang kuat kepada aliran komunisme. Tahun 1938 Lukman berada di Jakarta bekerja sebagai kondektur bus. Tak ada riwayat soal kontak pertama Lukan dengan Aidit.  Yang jelas dari catatan historiografi PKI yang ditulis Busjarie Latef, Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI (1920-1965),  semasa pendudukan Jepang  Aidit dan Lukman mendirikan gerakan antifasis Jepang yang diberi nama Gerakan Indonesia Merdeka (Gerindom) bersama dengan gerakan bawah tanah lainnya seperti Gerakan Anti Fasis (Geraf) yang didirikan Widarta atau Gerakan Indonesia Barunya Wikana. MH Lukman kemudian terlibat dalam pergerakan pemuda Jakarta menjelang Proklamasi Kemerdekaan. Analisa yang diberikan Ben Anderson pada karya Revolusi Pemuda : Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946, menjadi bagian dari gerakan Asrama Menteng Raya 31 yang sebagian besar merupakan mahasiswa Fakultas Hukum. Selain M.H Lukman patut disebut nama Sukarni, Chairul Saleh, A.M Hanafi dan Aidit tentunya. Mereka juga menjalin dengan mentor pemuda yang bekerja di kantor berita Domei, seperti BM Diah dan Adam Malik.

Kaum muda inilah yang merencanakan pengamanan ke Rengasdengklok Karawang. Pilihan di Rengasdengklok didasarkan beberapa pertimbangan. Pertama, di wilayah tersebut terdapat pusat gerakan anti fasis. Kedua, wilayah Rengasdengklok relatif berdaulat dari pengaruh pendudukan Jepang. Selepas peristiwa Proklamasi, upaya membangun basis kekuatan komunisme dilakukan oleh Aidit, Nyoto, Lukman dan  Pardede dengan menerjemahkan buku-buku Marxis Leninisme seperti Dasar-dasar Leninisme, Manifesto Partai Komunis, Materialisme Dialektika dan Histori (Busjarie Latief, 2014 : 257) untuk pengayaan kaderisasi. Disamping menuangkan tulisan dalam terompet Bintang Merah sebagai organ publikasi PKI 1947-1948. Lukman menjadi contoh dinamika keluarga komunis yang berakhir tragik

Kepempinan Triumvirat Generasi Muda

Peristiiwa Madiun Affair 1948 meluluhlantakkan gerakan kiri PKI setelah tahun 1926. Pemerintah bersikap tegas dalam menangani Peristiwa Madiun 1948. Dalam kepengurusan Front Demokrasi Rakjat (FDR), MH Lukman dalam urusan agitasi dan propaganda bersama tokoh veeren PKI Alimin dan Sardjono. Sebagaimana dijelaskan sejarawan Harry A.Poeze, dalam Madiun 1948 PKI Bergerak (2011), FDR merupakan ruang gerak Sayap Kiri (gabungan kelompok kiri) sesudah pengunduran diri Amir Syarifuddin dalam kekuasaan sekaligus corong bagi organisasi bersenjata yang mengalami program demobilisasi / rasionalisasi masa Kabinet Hatta.

Dalam perkembangannya sesudah kedatangan Musso awal Agustus 1948, FDR memiliki tenaga baru dengan mengadopsi gagasan Djalan Baru. Yang jelas Madiun 1948 mengalami kegagalan . Beberapa kepengurusan ditangkap dan dihukum mati. Sementara Aidit ditangkap di Solo untuk kemudian dibebaskan karena tidak dikenali kembali  (Poeze, 2011 : 274). Bagaimana dengan Lukman. Tak ada yang menyebutkan ihwal penangkapan Lukman. Rumor , menyebutkan Lukman menndapatkan perlindungan politik dari Hatta. Mengingat jalinan pertemanan ayahnya H.Muklas saat di Boven Digoel. Memasuiki tahun 1950, Trio PKI ini membangun kembali organisasi komunis di Indonesia yang luluh lantak pasca peristiwa Madiun 1948. Sebelum mengambil alih pimpinan Partai pada 1951, ketiganya membangun publikasi partai dengan nama Bintang Merah.

Dalam buku Peter Kasenda, Soekarno : Marxisme dan Leninisme Akar Pemikiran Kiri dan Revolusi (2014), menuliskan bagaimana triumvirat membentuk Front Persatuan Nasional (FPN) yang merupakan aliansi inklusif yang dibentuk dengan dasar kerja sama antara kelompok buruh, tani, borjuasi kecil dan borjuasi nasional. Aliansi tersebut efektif untuk membangun strategi memperluas basis keanggotaan serta mewujudkan disiplin organisasi yang militan dus disiplin tinggi. Dalam waktu 4 tahun sejak 1950 atau setahun sebelum digelarnya Pemilu 1955, anggota PKI mencapai 500.000 anggota.

Dibawah trio kepemimpinan Aidit, Nyoto dan Lukman, PKI berhasil menjadi the big four dalam ajang kontestasi Pemilu 1955. Herbert Feith dalam telaah Pemilihan Umum 1955 di Indonesia (1999), mencatat perolehan suara PKIsecara nasional di Parlemen mencapai 6.176.914 suara. Sedangkan di Konstituante perolehannya mencapai 6.232.512 suara. Perolehan terbanyak dalam Pemilu 1955 diraih PNI, berikutnya disusul Masyumi dan Nahdlatul Ulama. Butuh waktu 5 tahun PKI dibawah kepimpinan Aidit, Nyoto dan Lukman. Beberapa analisa menyebutkan tumbuhnya PKI tak bisa dilepaskan dari propaganda program kerja yang menyentuh kawula alit serta mencermati konflik sosial politik di tingkat elite kekuasaan. Salah satunya apa yang disebut dengan Tiga Panji Revolusioner. Konsep program ini seperti dinukilkan dari Peter Edman, Komunisme Ala Aidit : Kisah Partai Komunis Indonesia di Bawah Kepemimpinan D.N Aidit 1950-1965 (2005) , mencakup pertama, bangunan partai yang berhaluan ideologi Marxisme-Leninisme yang terbebas dari subyektivisme, oportunisme dan revisionisme modern, kedua, perjuangan rakyat bersenjata dalam sebuah revolusi agraria yang antifeodal dan ketiga, front revolusione bersatu yang berdasarkan aliansi antara kaum buruh dan kaum petani yang berada dibawah kepemimpinan kelas pekerja.

Kerja keras triumvirat PKI ditambah dengan Sudisman, membuahkan hasil saat partai ini berkembang dan memasuki periode Demokrasi Terpimpin. Kedekatan dengan Presiden Soekarno bukan berarti menjadikan PKI masuk kekuasaan. Walaupun terdapat beberapa Pengurus CC PKI menjadi anggota Parlemen dan Menteri. Salah satunya Lukman yang terpilih menjadi Wakil Ketua DPR-GR dan Menteri

Kisah Jejak sang Sepatu dan Disiplin Keluarga Komunis

Tak banyak yang bisa diceritakan soal kisah keluarga penyintas komunis, termasuk keluarga M.H Lukman. Kecuali publikasi dari putri Lukman, Tatiana dan beberapa kenangan dari keluarga besarnya yang masih berada di Jatinegara Kabupaten Tegal.

Keluarga MH Lukman merupakan keluarga besar. Selain ia bersama istrinya Siti Niswati beserta lima anak mereka, rumah kontrakan di Gang Buntu Pasar Genjing Jakarta, masih disesaki jika ada keluarga dari Jatinegara Tegal turut menginap. Belum lagi turut Mono adik istri Lukman dalam keluarga tersebut. Tahun 1955 keluarga ini pindah ke rumah kontrakan yang baru di Jalan

Percetakan Negara V Jakarta sebelumnya mengontrak di Kepu Timur Kemayoran. Saat menempati di Percetakan Negara V, bertambah satu keluarga Lukman, yakni adiknya Rollah ikut menumpang.

Sebelumnya Rollah indekost di Gang Bluntas. Tentang rumah di gang Buntu Pasar Genjing, Tatiana mengenangnya sebagai rumah tembok, berlantai semen bukan ubin, airnya ditimba dari sumur serta jika buang air besar harus pergi ke WC umum. ”Kalau hujan becek dan jeblok” kenang Tatiana dalam Panta Rhei.

Meski kita mahfum, Uni Sovyet menjadi kiblat komunisme , tapi dalam soal selera lagu, MH Lukman seleranya pada lagu jazz Amerika Serikat. Tak ada yang menyangka bahwa jika dalam seni, MH Lukman menyukai penyanyi kulit hitam bersuara berat ini kelahiran Princeton New Jersey Amerika Serikat 9 April 1898. Pandangan Paul dalam lagu-lagunya sebagaimana dalam pandangan Lukman menyuarakan lagu-lagu negro spiritual dan sehaluan dengan garis ideologi Lukman yang menyerukan perjuangan antifasisime , ketidakadilan dan melawan rasisme. Lagu-lagunya seperti Song Border to Border, Native Land mengisi jiwa  seorangMH Lukman.Selain Lukman, jiwa seni juga mengalir dalam diri adiknya Rollah dan anaknya Tatiana. Keduanya menyukai musik klasik karya-karya Bethoven, Strauss, Chopin.

Di tengah kesibukan menjadi penggede PKI, Lukman tetap menjunjung moral keluarga. Walau menjadi Wakil Ketua DPR GR dan Menteri bukan berarti keluarganya menikmati kemewahan pejabat negara. Dan tentang ini Tatiana menceritakan kembali soal bagaimana kemarahan Lukman saat diketahui putrinya belajar menyetir mobil bersama sopir pribadi Lukman yang dipanggil Om Djen. Akibat informasi yang disampaikan sang sopir Lukman pun menasihati Tatiana dengan kalimat, “Emangnya kamu anak borjuis ? Mobil itu bukan mobil kita, mobil rakyat !”

Selain itu ada pengalaman saat anak-anak MH Lukman meminta agar bisa makan di restoran, sesuatu yang dianggap mewah namun kemungkinan wajar bagi keluarga pejabat tinggi sekelas Lukman. Saat tuntutan itu dialamatkan pada sang ayah, Lukman pun menjawab, “Oh, kalian mau makan di restoran ? Yah boleh saja, minta nggih sama Ibu. Biar Ibu bikinkan makanan dan nanti kalian bawa ke restoran. Kemudian kalian makan di situ”.

Selain sebagai wakil Ketua DPR GR dan Menteri (tanpa portofolio) tak menjadikan keluarga Lukman bercukupan, hingga suatu ketika sang Isteri terpaksa menjual celana panjang drill demi menggantinya dengan ayam untuk lauk keluarga. Sebagaimana dituturkan putri sulung Tatiana hidangan mewah dalam makan jika terima pensiun mbah putri Kadirun serta acara ulang tahun keluarga. Menu keseharian adalah tahu, tempe dan sayur mayur.Sang isteri pernah menyampaikan curhat soal ketiadaan perubahan walaupun suaminya menjadi penggede, “Ayo coba kau yang memutar uang belanja supaya biar cukup sebulan. Kepengin aku tahu. Dikiranya gampang apa ? Biar aku yang pergi rapat ke DPR.

Salah satu sumber keluarga besar MH Lukman di Jatinegara, menuturkan ihwal bagaimana peristiwa 30 September 1965 berpengaruh bagi keluarganya di Tegal. “Selama Orde Baru, kami mengalami tekanan, hinaan dan nyaris perampasan harta keluarga kami berupa rumah dan tanah” tutur kerabat Lukman. Dari penuturan keluarga besar Lukman inilah mereka menyintas menyelamatkan diri. Mereka yang dianggap dekat dengan kehidupan M.H Lukman mengalami nasib naas. Rumah keluarga (tepatnya rumah Satibi kakak Lukman) di Jatinegara sesudah oreg 30 September 1965 dibakar. Tragisnya saat meminta perlndungan di Jakarta, Satibi ditangkap dan  di penjarakan di Salemba, penjara Tangerang hingga ia menerima besluit dari rejim Soeharto dibawa ke Buru. Kakak Lukman lainnya ditahan di Salemba dan penjara Tangerang selama 8 tahun.

Sementara adiknya Rollah dan putri sulung Lukman berhasil ke luar negeri. Terus anak-anak Lukman dan isteri Lukman sendiri ? Sebuah riwayat menyebutkan isteri dan anak-anak Lukman berlindung di wilayah gereja atas budi baik seorang pastor. Lalu bagaimana dengan Lukman. Sesaat sebelum menghilang, Lukman sempat menghadiri kegiatan kenegaraan satu hari menjelang peristiwa malam jahanam 30 September 1965. Ia menghilang saat di perjalanan saat melakukan tugas seperti biasanya. Pihak keluarga hanya menerima sepasang sepatu milik sang Menteri.

Sementara stigma soal PKI masih mendera keluarga M.H Lukman di Tegal. Mereka merasakan berakhirnya stigma itu saat reformasi, khususnya arus balik yang mengkritisi pemerintahan Orde Baru. (*)

*Pegiat sejarah, tinggal di Brebes.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here