BERBAGI

Siksaan fisik itu ia rasakan selama enam bulan, Sumini nyaris bunuh diri

[Ilustrasi] Nestapa stigma peristiwa 65. (serat.id/Abdul Arif)

Sumini baru siuman saat tubuhnya tergeletak di atas truk. Sekujur tubuhnya lebam, termasuk darah keluar dari mulut. Sedangkan baju yang dikenakannya juga berganti dari yang dipakai sebelum pingsan.

“Tidak usah banyak tanya, yang penting kamu sudah pakai baju,” kata Sumini menirukan bentakan seorang  dari massa beringas yang menangkap dirinya.  “Mungkin saya ditelanjangi waktu itu, karena baju saya sudah ganti,” kata Sumini menambahkan.

Sumini ditangkap usai pelarian dari rumah karena diburu massa beringas di desa. Ia sebelumnya meninggalkan rumah usai pulang dari kampus Institut Pertanian dan Gerakan Tani (IPGT) Bogor, ia ditangkap di Lasem.

Kekerasan mulai dirasakan Sumini saat ditangkap, bahkan saat sampai di kantor Polres Pati dia ditendang dari atas truk. “Saya jatuh kepala duluan,” katanya.

Tak hanya kekerasan fisik, di kantor polisi itu ia diteriaki massa sebagai pembunuh jenderal dalam peristiwa gerakan 30 September. Semua orang yang ada di Polres saat itu menuding dia sebagai pelarian dari Jakarta yang membunuh Jenderal.

Pikirannya semakin kalut, antara hidup dan mati. Tuduhan aktivis Gerwani dan pembunuhan para jenderal menjadikan perasaannya semakin tak karuan. “Saya itu memang tidak tahu peristiwa yang terjadi di Jakarta. Saya kan sekolah di Bogor, tapi kalau saya jawab saya dari Bogor, mereka tidak percaya,” kata Sumini saat menceritakan awal merasakan diinterogasi aparat kepolisian.

Di Polres Pati itu siksa demi siksaan ia rasakan di ruang interogasi. Tak jarang kaki ditindih kaki meja yang diduduki sejumlah pemuda hingga dia pingsan. Tak hanya disiksa Sumini juga ditelanjangi saat proses interogasi dengan dalih mencari simbol (tato) palu arit.

Malamnya ia dibawa ke kantor Corps Polisi Militer (CPM) untuk diinterogasi kembali, sambil disetrum dan disundut rokok.

“Dalam interogasi dijawab dipukul, tidak menjawab juga dipukul. Kalau malam dibawa ke CPM istilahnya ‘di bon’.  Saya disetrum, disulut rokok dan ditelanjangi. Katanya ditubuh saya ada lambang palu aritnya. Saya juga hampir diperkosa,” katanya.

Siksaan itu ia rasakan selama enam bulan. Sumini nyaris bunuh diri karena sudah tidak sanggup merasakan siksaan itu. Sumini akhirnya dipenjara khusus wanita di Bulu, Kota Semarang. Dia mengaku tidak ada penyiksaan fisik selama di penjara tersebut. Namun, kamar sel yang berkapasitas 25 orang diisi 55 orang, dan makanannya kurang layak.

Empat tahun kemudian penjara tersebut mendapat kunjungan dari Amnesty Internasional, setelah itu keadaan makin membaik termasuk makanannya.

Bebas Bukan Berarti Lepas Stigma

Tahun 1972 setelah mendekam di penjara Bulu, Sumini bebas dan kembali ke kampung halamannya, Kabupaten Pati. Ia juga dipertemukan jodoh sesama tahanan politik saat bertemu Slamet Iswandi dalam perjalanan pulang dari penahanan yang kemudian menikahinya.

“Setelah menikah saya dan suami dagang baju di pasar Runting, Pati,” kata Sumini.

Namun kebahagiaan itu tidak berjalan mulus. Kebebasan ternyata belum sepenuhnya dirasakan Sumini dan suaminya. Mereka mendapat diskriminasi sosial karena status mereka yang bekas Tapol.

“Ternyata sampai di Pati saya mendapat hujatan dari tetangga karena saya punya label ET (Eks Tapol). Ketika berdagang juga susah. Jangan beli di tempat Sumini, dia bekas Tapol,” kata Sumini menirukan perkataan warga.

Sikap diskiriminatif terus berlanjut ketika anaknya hendak mendaftar sekolah tingkat menengah atas. Dia mengaku anaknya telah lulus tes beasiswa yang diselenggarakan salah sekolah kedinasan. Namun dibatalkan sepihak setelah ada surat aduan yang menginformasikan orang tuanya bekas Tapol.

“Anak saya yang lain mendapat surat pelatihan ke Jepang juga tidak disampaikan oleh kelurahan,” kata Sumini mengisahkan. 

Setelah berpuluh tahun, sekarang kehidupan Sumini sudah bisa diterima masyarakat. Ia tetap ingin nama baiknya dikembalikan karena merasa tak pernah terlibat menyakiti pihak mana pun. (*)

Edisi Nestapa Stigma Peristiwa 65
Penulis : Praditya Wibby, Ulil Albab Alshidqi,
Pengolah Bahan: Edi Faisol
Ilustrasi : Abdul Arif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here