BERBAGI

Jiwa muda Sumini yang haus ilmu dan terinspirasi Kartini menjadikan Gerwani tempat yang cocok untuk mengekspresikan jiwanya. Termasuk ia melawan budaya pernikahan dini yang sempat dirasakan oleh para tetangga dan kakak perampuannya.

[Ilustrasi] Nestapa stigma peristiwa 65. (Serat.id/Abdul Arif)

Sumini, 74 tahun, tak menyangka awal kesadarannya mengenal Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) di kampungya Perunting, Kelurahan Tambaharjo Kabupaten Pati pada usia remaja dulu menjadi petaka hidupnya yang tersiksa secara fisik dan psikis. Bahkan saat mulai bebas pun merasakan diskriminasi dan sanksi sosial yang tak pernah ia akui kesalahannya.

“Pada tahun 1963 saat itu usia saya 17 tahun, saya gabung dengan Gerwani,” kata Sumini, kepada Serat.id saat berkunjung di rumahnya, Selasa 22 September 2020 lalu.

Sumini muda tipologi gadis cerdas, halnya remaja sekarang ia sangat suka membaca, menari dan menyanyi. Termasuk membaca koran Harian Rakyat yang selalu dibawa kakak kandungnya, yang saat itu sebagai pimpinan Barisan Tani Indonesia (BTI) di kampungnya.

“Saya tertarik dengan Gerwani itu karena sifat orang-orangnya baik-baik. Mereka bekerja atas dasar kemanusiaan,” kata Sumini mengawali cerita.

Yang ia rasakan saat aktif di Gerwani adalah kerja-kerja sosial, termasuk ikut mendirikan taman kanak-kanak di desanya sekaligus sebagai guru sukarela. Tak hanya itu, organisasi yang ia gandrungi saat belia itu mengadvokasi petani dan buruh pabrik gula bersama BTI tempat sang kakak aktif.

Baca juga : Kekerasan yang Dirasakan Selama Penangkapan dan Penahanan

Cerita Muchran, Sedikit Beruntung Karena Jago Bola

Cerita Tragis Sekolah Tionghoa, Digeruduk Jadi Kamp Penahanan Kemudian

Jiwa muda Sumini yang haus ilmu dan terinspirasi Kartini menjadikan Gerwani tempat yang cocok untuk mengekpresikan jiwanya. Termasuk ia melawan budaya pernikahan dini yang sempat dirasakan oleh para tetangga dan kakak perampuannya.

“Saya memilih berorganisasi. Cita-cita Gerwani mengingatkan tentang ibu kita Kartini yang emansipasif,” kata Sumini menjelaskan.

Meski Sumini mengaku belum mengetahui secara detail tentang Gerwani, ia hanya beberapa tahun bergabung dengan organisasi yang kental diidentikan dengan PKI. Sumini sendiri melanjutkan pendidikan kuliah pada tahun 1965 di Institut Pertanian dan Gerakan Tani (IPGT) Bogor.

Kisah Sumini Diburu Massa Beringas. (Serat.id)

Awal Petaka yang Ia Alami

Sayangnya Tiga bulan kemudian  kampus IPGT diserang sekelompok pemuda dan mahasiswa yang mengatasnamakan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAPI/KAMI).

“Saat itu semua barang dirusak, ada yang meneriaki Gerwani lonte, hancurkan Gerwani, terus ada juga yel-yel gantung Aidit. Macam-macam teriakannya itu. Semua jadi panik,” kata Sumini.

Tak hanya berdemonstrasi, masa aksi kala itu juga merusak kampus termasuk dokumen administrasi, mesin ketik dan seisi kantor dibawa masa aksi. Masa beringas ia rasakan selama ia perjalanan ke kampung halamannya di Pati, tiga hari usai kampusnya dirusak.

Selama perjalanan ke kampung usai kampusnya dijarah, Sumini menyaksikan di jalan-jalan ada pengrusakan oleh massa. “Waktu saya pulang itu, saya melihat di jalan-jalan ada perampokan, di gang-gang ada orang diseret-seret, rumah dirobohkan dan dibakar. Saya tidak tahu itu apa,” kata Sumini mengenang.

Sesampainya di kampung halaman, massa sudah mengepung rumah Sumini. Dia diteriaki massa yang mengganas. “Ini dia yang dari Jakarta, ini yang nyilet jenderal, ini yang membunuh jenderal, ini yang memotong penisnya jenderal,  ini yang mencukil matanya jendral. Saya itu mau dibunuh, di situ terus saya disingkirkan sama bapak saya, lalu malamnya saya disuruh pergi,” ucapnya

Dalam masa yang sulit dan tidak ada tujuan pasti, Sumini lari dari kampung halamannya. Dia ke Lasem bermodalkan uang pemberian sang ayah Rp5 ribu. Dalam pelarian tersebut, dia bimbang mau pulang lagi tetapi uangnya telah habis.

Di Lasem Sumini agak beruntung, dia dilindungi seorang teman. Namun seorang preman desa mendekati hendak melindungi dengan jaminan menjadikan istri ketiga. Sumini menolak hingga beberapa hari kemudian dia didatangi Ormas pemuda yang menangkap dan memukuli dirinya. (*)

Edisi Nestapa Stigma Peristiwa 65
Penulis : Praditya Wibby, Ulil Albab Alshidqi,
Pengolah Bahan: Edi Faisol
Ilustrasi : Abdul Arif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here