BERBAGI

Jenazah mantan Wakil Bupati Kendal Soesatjo dimakamkan di situ

[Ilustrasi] Nestapa stigma peristiwa 65. (serat.id/Abdul Arif)

Prasasti yang mengukir delapan nama korban yang belum tentu bersalah di batu keramik hutan jati Plumbon pinggiran Kota Semarang itu tampak kusam. Cat membalut  beton yang dibuat pada 1 Juni 2015 itu sebagian terkelupas, sedangkan lahan sekitar dipenuhi tanaman perdu liar. Sebelum tahun 2015 tak banyak yang tahu di dalam lahan itu merupakan jenazah para korban kekerasan paska gerakan 30 September 1965.

Kondisi kuburan massal peristiwa pembantaian 1965 yang berada di Kampung Plumbon RT 06/RW III, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Di lokasi itu ada delapan jenazah yang dieksekusi sekaligus dikubur di situ. Salah satunya mantan Wakil Bupati Kendal, Soesatyo.

Catatan historia.id menyebutkan lokasi pembantaian aktivis PKI di hutan Plumbon, Kota Semarang awalnya sebuah tempat bagi orang-orang yang mencari peruntungan nomor togel. Meski sesekali ada orang berziarah, namun tak dikenal siapa mereka.

Temuan kuburan itu diketahui pascareformasi, tepatnya pada 2000, saat Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965 (YPKP 65) yang diketuai Sulami, mantan Sekretaris Jenderal Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), sempat mengidentifikasi keberadaan makam yang diduga berisi kerangka korban-korban pembunuhan massal 1965 tersebut. Namun, tak ada kelanjutan dari indentifikasi kala itu.

Baca juga : Cerita Tragis Sekolah Tionghoa, Digeruduk Jadi Kamp Penahanan Kemudian

Tempat bagi Mereka yang Dianggap Keras Kepala

Cerita dari Penjara Bulu, Sejumlah Catatan Para Korban

PMS-HAM kemudian berhasil mengidentifikasi delapan nama dari 24 korban yang diperkirakan dikubur di makam tersebut. Mereka adalah Moetiah, Soesatjo, Darsono, Sachroni, Joesoef, Soekandar, Doelkhamid, dan Soerono.

Moetiah adalah guru TK Melati dan anggota Gerwani di Patebon, Kendal. Soesatjo adalah patih yang merangkap pengurus PKI Kendal. Joesoef adalah carik di Desa Margorejo dan anggota PKI di Cepiring. Soerono adalah anggota PKI dari Kedungsuren. Sachroni adalah anggota PKI dari Mangkang. Sedangkan, Darsono, Soekandar, dan Doelkhamid, merupakan anggota Pemuda Rakyat.

Pada 2014, sekelompok aktivis yang membentuk Perkumpulan Masyarakat Semarang untuk Hak Asasi Manusia (PMS-HAM) mulai membuka memori masa silam dari makam di tengah hutan jati itu.  MS-HAM memerlukan waktu 7,5 bulan untuk melakukan penelitian mengenai identitas para korban serta melakukan pendekatan kepada masyarakat dan pemerintah.

Koordinator PMS-HAM Perkumpulan Masyarakat Semarang untuk Hak Asasi Manusia (PMS-HAM), Yunantyo Adi Setiawan, mengatakan sebenarnya sudah ada niatan dari dua tahun lalu untuk memperbaiki situs itu.

“Tapi tidak berani karena situasinya belum kondusif,” kata Yunantyo Adi, kepada Serat.id, 23 September 2020.

Menurut Yunantyo perbaikan makam harus izin Perhutani Kendal karena area makam Plumbon masuk wilayah Perhutani Kendal. Alasan lain lembaganya belum memperbaiki lokasi itu untuk menghindari salah paham .  

“Nantinya ada yang foto dan diunggah di media sosial kan jadi repot. Apalagi sekarang kan kondisinya masih rawan. Masih banyak hoaks tentang bangkitnya Partai Komunis Indonesia (PKI),” kata Yunanto menjelaskan.

Tercatat pada pertengahan januari 2020 situs Plumbon ditetapkan sebagai situs memori, yang memiliki edukasi Hak Asasi Manusia (HAM) oleh The International Center for the Promotion of Human Rights (CIPDH), yang berada di bawah naungan badan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

“Makam Plumbon sendiri  sebenarnya sudah diresmikan atas izin Perhutani dan pemerintah Kota Semarang pada 1 Juni 2015,” kata Yunantyo menjelaskan.

Muchran, salah korban peristiwa 1965 mengatakan, dirinya sering bersih-bersih makam Plumbon.  “Saya sebulan sekali membersihkan makam. Karena selain keponakan saya, juga ada wakil Bupati Kendal (saat itu) yang dimakamkan di situ,” kata Muchran, kini berusia 85 tahun.

Muchran mengaku senang dengan adanya prasasti yang dibangun itu. “Artinya menghargai korban-korban kekerasan saat peristiwa itu,” katanya. (*)

Edisi Nestapa Stigma Peristiwa 65
Penulis : Praditya Wibby, Ulil Albab Alshidqi,
Pengolah Bahan: Edi Faisol
Ilustrasi : Abdul Arif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here