BERBAGI

Tercatat 45 orang yang dianggap susah dibina, kembali  ditahan di penjara Bulu

[Ilustrasi] Nestapa stigma peristiwa 65. (serat.id/Abdul Arif)

Sejak 1975 mulai diadakan penyelesaian para tapol golongan B untuk dibebaskan. Hal ini seiring respons pemerintah Soeharto atas adanya desakan dari Palang Merah International, Amnesti International dan British Campaign for Release of Indonesian Political Prisoners (TAPOL).

Sebanyak 45 orang yang dianggap masih memiliki ideologi komunis kuat ataupun susah dibina, sebelum dibebaskan dimasukkan ke Penjara Bulu.

Di antara para tahanan tersebut Mia Bustam, Mamik; dokter Sumiyarsi; Nyonya Susanto, mantan anggota MPRS;  Roswati, wartawati Istana; Kusna anggota Serikat Buruh Unilever.

Mereka diberangkatkan menggunakan tiga bus dengan dikawal tiga tentara termasuk Kowad.  Semula isu yang berkembang di antara para tapol, menurut Amurwani Dwi Lestariningsih, mereka akan diberangkatkan ke Pulau Onrust.

Namun rencana tersebut urung dilakukan dan bus berbelok dan berhenti di Penjara Bulu Semarang. Tempat ini menjadi relokasi tempat terakhir bagi tahanan politik wanita setelah sebelumnya di tahan di Penjara Plantungan, Kendal.

Mamik memberikan kesaksian bahwa perpindahannya ke Penjara Bulu terjadi pada 16 Oktober 1976, tulis Antonius Sumarwan dalam Menyeberangi Sungai Air Mata: Kisah Tragis Tapol ’65 dan upaya rekonsiliasi.

Baca juga : Cerita dari Penjara Bulu, Sejumlah Catatan Para Korban

Kekerasan yang Dirasakan Selama Penangkapan dan Penahanan

Jejak Sepatu dan Didikan Boven Digoel

Namun, versi lain menurut Amurwani Dwi Lestariningsih, perpindahan tersebut terjadi pada 20 Desember 1976. Baik versi Mamik maupun yang ditulis Amurwani Dwi Lestariningsih senada dengan apa yang ditulis oleh Mia Bustam bahwa perpindahan para tapol wanita ke Penjara Bulu terjadi pada 1976.

Menurut kesaksian Mia Bustam, ke-45 tahanan tersebut diletakkan di kamar nomor dua. Ia menjelaskan juga bahwa di Penjara Bulu didatangkan para pembimbing mental dari luar baik itu rohaniawan Islam maupun Kristen, diikuti juga seorang dari kepolisian atau Kodam. 

Di situ ia memutuskan untuk berpindah agama menjadi agama Katholik yang dibaptis oleh Romo Mulder. Sebelumnya Mia Bustam berasal dari keluarga Islam Abangan yang mana sejak kecil telah tertarik pada agama Kristen yang berasal dari bacaannya di sekolah.

Adapun Mamik merasa lega ketika ditahan di penjara Bulu karena mayoritas penjaganya merupakan wanita.  “Hal ini tentu saja ada segi positifnya. Di sana tidak ada lagi pemerkosaaan yang dilakukan oleh oknum-oknum militer laki-laki, sehingga kami bisa merasa lega. Kami terlepas dari rasa takut dihamili,” tulis Antonius Sigit Suryanto

Mamik mengisahkan bahwa ceramah atau indoktrinasi yang didengarkannya pada intinya berisi seruan “Bertobalah dari hidup sebagai seorang pemberontak, pelacur, atheis dan perusak rumah tangga orang,” tulis Antonius Sigit Suryanto.

Indoktrinasi tersebut membuatnya merasa geli dan tertawa dalam hati. “Dasar penguasa! Mereka bisa omong apa saja. Tak usah mereka repot-repot keluar uang untuk bisa omong seperti itu. Mereka justru dibayar untuk ngomong.”

Mamik mencatat pada saat di Penjara Bulu sempat terdapat tamu dari tim peninjauan berasal dari Amnesti Internasional.

Kesempatan tersebut pun tidak disia-siakan para tapol wanita untuk menceritakan kejahatan dan kekejaman yang telah diperbuat para penjaga terhadapnya. Setelah dua tahun di Penjara Bulu, mereka pun dibebaskan secara bertahap Mamik dibebaskan pada 27 September 1978, tulis Antonius Sumarwan.

Sementara Mia Bustam dibebaskan pada 27 Juli 1978. Menurut Amurwani Dwi Lestariningsih, para tapol wanita baru dibebaskan keseluruhan pada 1979. (*)

Edisi Nestapa Stigma Peristiwa 65
Penulis : Praditya Wibby, Ulil Albab Alshidqi,
Pengolah Bahan: Edi Faisol
Ilustrasi : Abdul Arif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here