BERBAGI
Ilustrasi pixabay.com

Sarekat Kere dibentuk di Semarang untuk menyatukan kaum kere agar dapat saling membantu lewat perserikatan

Serat.id – Suatu malam awal bulan Februari 1919, golongan kaum kere meriung mendiskusikan nasib di sebuah rumah Partoatmodjo, mereka membuat sebuah perkumpulan yang dinamakan Sarekat Kere. Kelak, perkumpulan itu yang mengadvokasi dan membela hak-hak kaum kere di Kota Semarang. 

Hadirnya organisasi kaum kere memasuki abad 19 itu sebagai salah satu potret suasana pergerakan nasional sedang menggelora. Rakyat secara besar-besaran, tak terkecuali golongan kaum kere mulai sadar pentingnya perlawanan dan mengorganisir diri. 

Golongan kaum kere tak bisa dipandang remeh, orang-orang Eropa yang saat itu menguasai sendi perekonomian di Indonesia (sebelum merdeka) sempat takut karena keberanian orang kere ketika bersatu.  

Soe Hok Gie dalam bukunya “Di Bawah Lentera Merah” menyebut golongan kere atau Sarekat Kere di Semarang sangat ditakuti oleh orang-orang Eropa.

“Golongan kaum gembel ini siap untuk mendengarkan the cry of agitator. Kaum yang tidak mempunyai apa-apa ini dengan sendirinya memiliki keberanian lebih besar untuk bertindak dan sangat mudah dibakar semangatnya,” tulis Soe Hok Gie.

Baca juga : Minim Perlindungan dan Miskin

Ini Sikap Buruh Tentang RUU Omnibus Law

Airy-Dompet Dhuafa Hadirkan Platform Donasi Digital

Sejarawan Universitas Diponegoro Semarang, Dewi Yuliati, mengatakan Sarekat Kere dibentuk di Semarang untuk menyatukan kaum kere agar dapat saling membantu lewat perserikatan. Tak main-main, Sarekat Kere turut memberikan bantuan hukum bagi orang kere yang terlibat kasus hukum.

“Saat itu, Sarekat Kere ditakuti kolonial yang berada di Indonesia karena Sarekat Kere melawan tindakan-tindakan yang tidak adil dari golongan the have (Eropa) yang ketika itu menguasai ekonomi Indonesia,” kata Dewi Yuliati, Jumat 16 Oktober 2020.

Menurut Dewi, saat itu Sarekat Kere berjuang untuk kemajuan kehidupan kaum miskin khususnya yang tidak mempunyai harta. Sarekat Kere beranggotakan orang-orang dari Bumiputera (Indonesia) dan Cina dengan satu syarat tak mempunyai harta.

“Orang kaya hanya boleh sebagai donatur. Mereka tidak punya suara dan pengaruh di Sarekat Kere,” kata dewi menjelaskan.

Serekat Kere mempunyai kegiatan rapat rutin, termasuk public meeting dan mengajukan tuntutan secara terorganisasi untuk perbaikan hidup orang miskin. Tak jarang Sarekat Kere juga langsung berlawanan dengan penguasa saat itu.

Organisasi itu lahir ketika dominasi kapitalisme asing yang eksploitatif memanfaatkan orang-orang miskin, khususnya bumiputera yang diekpoitasi demi mencapai keuntungan yang sebesar-besarnya.

Berdasarkan data yang diteliti Dewi, Sarekat Kere mempunyai ketua bernama Kromoleo seorang dalang wayang golek dan wakil ketua bernama Partoatmodjo yang bekerja sebagai redaktur Harian Sinar Hindia.

“Saya menduga, dulunya Kantor Sarekat Kere berada di Gedung Sarekat Islam Semarang. Sementara pembentukan Sarekat Kere di rumah Partoatmodjo yang juga anggota Sarekat Islam,” kata Dewi dalam analisisnya .

Catatan sejarah menunjukkan hingga akhirnya pada tahun 1925 terjadi pemogokan Buruh di Pelabuhan Semarang. Pemerintah kolonial memberlakukan pasal 161 yang berisi yang dapat menindak dan memenjarakan siapa saja yang dianggap merusak stabilitas pemerintahan kolonial.

Saat itu banyak anggota Sarekat Kere yang ditangkap bahkan diasingkan karena dianggap berbahaya bagi kolonial. Apalagi, lanjut Dewi, kegiatan-kegiatan Serikat Kere sering berlawanan dengan kebijakan kolonial.

“Banyak pemimpin sarekat yang ditangkap, dipenjara, dan diasingkan. Dengan demikian, periode itu merupakan masa redul gelora perserikatan pada era kolonial. Tak terkecuali Sarekat Kere di Semarang,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here