BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

Lima kader dipecat karena dianggap melakukan pelanggaran berat. Melanggar disiplin partai dan tidak mengawal rekomendasi partai.

Serat.id – Sebanyak lima kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Jawa Tengah dipecat dari partai tersebut karena dinilai membelot pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2020.   

Mereka berasal dari Kabupaten Semarang, Blora, Demak, dan Klaten. Kelima kader tersebut adalah Bupati Semarang Mundjirin dan anaknya, Biena Munawa Hatta (Kabupaten Semarang), Dwi Astutiningsih (Blora), Mugiyono (Demak), dan Harjanta (Klaten).

“Mereka dianggap tidak patuh dan tidak tegak lurus terhadap rekomendasi partai saat pilkada,” kata Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jateng, Bambang Kusriyanto, Jumat, 23 Oktober 2020.

Baca juga : Bawaslu Ungkap Potensi Sengketa Pilkada

Pilkada 2020, Ini Pesan Bawaslu Jateng Jelang penetapan Paslon

Mengawasi Pilkada 2020 di Tengah Pandemi

Sebagian besar kader tersebut dipecat karena maju pilkada melawan pasangan calon (paslon) yang diusung PDI Perjuangan.

“Dua lainnya mendukung anggota keluarga maju sebagai calon bupati,” terangnya. 

Ia menyebut Bupati Semarang Mundjirin disanksi karena dianggap mendukung istrinya, Bintang Narsasi maju pada Pilkada Kabupaten Semarang, begitu juga Biena Munawa Hatta, anak Mundjirin.

Sebagai anggota DPRD Kabupaten Semarang, Biena Munawa Hatta dianggap memberi jalan ke ibunya maju. 

Bambang mengatakan, PDI Perjuangan sendiri mengusung paslon Ngesti Nugraha-Basari (Ngebas) di Pilkada Kabupaten Semarang.

Sementara Dwi Astutiningsih, kata dia, dipecat karena maju Pilkada Blora melalui Partai Demokrat. Padahal PDI Perjuangan telah mengusung Arif Rohman-Tri Yulisetyowati.

Begitu juga dengan Mugiyono yang maju sebagai calon Bupati Demak dengan menggandeng Badarudin Ma’shum (Gus Bad). 

Adapun Mugiyono memilih menyeberang ke Gerindra setelah PDI Perjuangan memberikan rekom ke Eistianah-Ali Makhsun.

Terakhir Harjanta dipecat karena maju Pilkada Klaten melalui partai lain. Dia melawan jagoan PDI Perjuangan, Sri Mulyani-Yoga Hardaya.

Bambang Kusriyanto menyatakan para kader tersebut diberi sanksi pemecatan karena dianggap melakukan pelanggaran berat. 

“Melanggar disiplin partai dan tidak mengawal rekomendasi pada pilkada. Justru maju dari partai lain,” kata Ketua DPRD Jateng tersebut.

Dia membantah anggapan jika pada pilkada tahun ini banyak kader PDI Perjuangan yang membelot.

“Kalau lima saya rasa tidak banyak dibanding jumlah kader se-Jateng. Lagi pula bukan soal banyak sedikitnya yang dipecat, tapi lebih pada konsekuensi menjadi kader wajib mengawal keputusan partai,” tandasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here