BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

Bermanfaat mengatasi perubahan iklim dengan menggunakan narasi kebijakan pembangunan bulid back better atau membangun kembali lebih baik.

Serat.id – Dampak pandemi Covid-19 memberikan efek terhadap penurunan emisi karbon global jauh lebih rendah dibanding pada tahun sebelumnya. Kondisi itu bermanfaat dalam mengatasi perubahan iklim dengan menggunakan narasi kebijakan pembangunan bulid back better atau membangun kembali lebih baik.

“Di tahun 2020 ini kalau dilihat bagaimana variasi emisi global itu 2020 penurunannya emisi global sampai 1,6 giga ton,” ujar Manajer Senior Hutan Iklim dan Lautan lembaga think thank World Resources Institute (WRI) Indonesia, Dr. Arief Wijaya, saat seminar “Peningkatan Aksi Perubahan Iklim di Tengah Pandemi Indonesia, Sabtu, 24 Oktober 2020.

Baca juga : Walhi : Kesadaran Perubahan Iklim Masyarakat Indonesia Paling Rendah

90 Persen Kaum Muda Khawatir Dampak Krisis Iklim

Tanam Mangrove, Kampung Penghasil Ikan Ini Kembangkan Ekonomi Berbasis Lingkungan

Ia menyebut studi Bappenas juga menunjukkan bahwa pembangunan emisi rendah karbon memberikan dampak lebih efisien terhadap ekonomi. Sedangkan kunci utama yang diperlukan dalam membangun kebijakan build back better.

“Pertama dengan memasukkan kebijakan emisi rendah karbon seperti yang telah dilakukan pemerintah dalam RPJMN 2020-2024,” kata Arief menambahkan.

Sedangkan kebijakan kedua dengan memberikan dukungan pendanaan strukstur fisikal, serta kebijakan ketiga memperkuat daya tahan masyarkat terhadap krisis iklim yang sudah terjadi. Ia menyebut sebagai upaya membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap emisi karbon, lembaga WRI juga telah megembangkan aplikasi Nol Emisi Indonesia (EMISI) WRI Indonesia yang telah tersedia di google play store.

Dengan aplikasi tersebut, kata Arief, setiap pengguna dapat menghitung emisi karbon global yang telah dikeluarkan dengan moda transportasinya. Kemudian aplikasi ini juga dapat memberikan saran berapa jumlah dan jenis pohon yang dapat menyerap emisi yang telah dihasilkan setiap pengguna.

“Yang menarik yang dikembangkan aplikasi kami juga bekejrasama dengan LSM lokal yang punya kompetensi untuk melakukan penanaman pohon di lapangan,” kata Arief menambahkan.

Menurut dia, pembangunan rendah karbon dan ekonomi hijau dalam jangka panjang dapat memberikan banyak manfaat terhadap pemerintah Indonesia antara lain; pertumbuhan PDB per tahun sebesar 6 persen pada rentang tahun 2019 hingga 2045.

Jika PDB pada tahun 2045 akan mencapai US 5,4 triliun, mengurangi hingga 40.000 kematian, mengurangi tingkat kemiskinan sebesar 4,2 persen, serta akan menciptakan 15,3 juta lapangan baru.  

Selain itu, penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) hampir 43 persen pada tahun 2030 mencegah hilangnya 16 juta hektar lahan hutan pada tahun 2014, perbaikan kualitas udara, penignkatan taraf hidup.

“Serta teratasinya kesenjangan gender atau peluang regional, rasio investasi yang dibutuhkan PDB lebih rendah,” katanya.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Novia Widyaningtyas, menyatakan pemerintah memerlukan kerjasama banyak pihak khsusunya yang berfokus terhadap ilmu sains untuk mengatasi perubahan iklim .

“Sedangkan kontribusi global pemerintah Indonesia mengatasi perubahan iklim salah satunya dengan menjaga keberadaan hutan hujan tropis termasuk keanekaragaman hayati,” kata Novia.

Menurut dia, pemerintah Indonesia masih tetap memerlukan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang intergratif. Sedangkan komitmen pemerintah dalam mengatasi perubahan iklim secara global juga telah tertuang dalam penandatangan Persetujuan Paris atau Paris Aggrement yang telah diratifikasi dalam Undang Undang Nomor 16 tahun 2016.

Dalam persetujuan paris tersebut, setiap negara telah bersepakat menahan kenaikan suhu global maksimal dibawah dua derajat celcius.  

“Pemerintah indonesia sudah punya komitmen dengan sumber daya sendiri untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen dan bahkan hingga sampai 41 persen, jika dengan dukungan Internasional, dibandingkan skenario business as usual (BAU) pada tahun 2030,” kata Novia menjelaskan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here