BERBAGI
Rektor IAIN Salatiga, Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, saat Webinar Series Keberagamaan di Era Digital: Relasi Agamawan dan Peradaban pada Sabtu 24 oktober 2020 ist/serat.id

Perkembangan digital akan memberi tantangan sekaligus peluang dalam moderasi beragama

Serat.id – Center of Wasathiyah Islam Institut Agama Islam Negeri Salatiga menggelar International Webinar Series dengan tema Keberagamaan di Era Digital: Relasi Agamawan dan Peradaban pada Sabtu 24 oktober 2020 akhir pkan lalu. Kegiatan yang dilaksanakan secara virtual tersebut merupakan seri pertama dari webinar internasional yang rencananya akan digelar rutin hingga Januari 2021.

“Kegiatan ini sekaligus sebagai salah satu penguatan keilmuan terutama Islamic studies menuju transformasi dari IAIN Salatiga menjadi UIN Salatiga,” kata Rektor IAIN Salatiga, Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, dalam keterangan resmi diterima serat.id, senin 26 Oktober 2020 siang tadi.

Baca juga : Perempuan diajak Bisnis Dengan Bahan Ramah Lingkungan

UIN Walisongo Akan Terbitkan Regulasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual

Pesantren Diminta Beradaptasi Dengan Covid-19, Ini Penjelasan Wamenag

Menurut Zakiyuddin, Center of Wasathiyah Islam IAIN Salatiga didirikan atas mandat dari Kementerian Agama agar punya kontribusi kepada masyarakat dalam pemikiran dan upaya praktikal membumikan ajaran Islam yang moderat.

Sedangkan dalam pemaparannya saat Webnar Zakiyuddin mengatakan perkembangan digital akan memberi tantangan sekaligus peluang dalam moderasi beragama. “Di era teknologi digital seperti sekarang, tantangan yang harus dihadapi di antaranya adalah kehidupan spiritual yang mulai menggantikan agama yang terlembagakan, keberagamaan digital menggantikan keberagamaan tradisional, dan otoritas digital yang menggantikan otoritas tradisional,” kata Zakiyuddin.

Sedangkan nilai inti dari Wasathiyah Islam, yaitu: Tawassut yang berfungsi sebagai jalan tengah, I’tidal melakukan sesuatu secara adil dan seimbang, sesuai ekuilibrium. Termasuk Tasamuh yang artinya memiliki empati, simpati, dan toleransi. Serta Syura yang mengedepankan musyawarah.

“Nilai inti selanjutnya adalah Qudwah atau keteladanan yang diberikan oleh para pemimpin. Termasuk Islah bagaimana menjalankan resolusi konflik, dan yang terakhir adalah Muwatanah atau kewarganegaraan dan nasionalisme,” kata Zakiyuddin menjelaskan.

Perwakilan Uneversitas Gadjah Mada Yogyakarta, Dr. Irwan Abdullah mengatakan internet tidak sekadar ruang pengetahuan yang memberdayakan, tetapi juga menjadi ruang yang sarat dengan pertanyaan tentang keabsahan.

“Internet telah mengubah wajah agama menjadi object matter, bukan hanya sekadar subject matter. Nilai-nilai agama menjadi tidak absolut tetapi cair dan bisa mengikuti perkembangan zaman,” kata Irwan.

Menurut Irwan, era digital ada proses mediatisasi baru dalam agama, seperti penggunaan media massa dan media sosial untuk berdakwah dan menyebarkan nilai-nilai Islam. “Selain itu, agama juga bisa kehilangan daya paksa karena delegitimasi yang diterima agama, dan misrepresentasi agama,” kata Irwan menambahkan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here