BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

“Hampir merata di semua daerah, ada ketakutan semacam bahasa daerah akan semakin hilang seiring mengarusutamanya bahasa Indonesia,”

Serat.id – Upaya membakukan Bahasa Indonesia yang telah dimulai sejak Negara Indonesia merdeka justru berisiko menjadikan bahasa kebangsaan tersebut berwatak imperialistik. Sikap Imperialistik bahasa tersebut cenderung menyasar pada bahasa daerah dan bahasa pergaulan.

“Hampir merata di semua daerah, ada ketakutan semacam bahasa daerah akan semakin hilang seiring mengarusutamanya bahasa Indonesia,” ujar anggota Tim Kerja Penyusun Rencana Induk Pemajuan Kebudayaan (RIPK) Direktorat Jenderal Kebudayaan, Martin Suryajaya, dalam diskusi daring yang digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan bahasa yang  bertajuk “Poltik Bahasa Baru untuk Indonesia Maju”, Senin, 26 Oktober 2020.

Baca juga : Bahasa Indonesia Melahirkan Kebangsaan dan Nasionalisme

Komnas Perempuan Serukan Penuhi Hak Berbahasa Isyarat, Ini Penjelasannya

Komnas PA Larang Kata Anjay, Ini penjelasan Ahli Bahasa

Salah satu bukti kekhawatiran tersebut tertuang dalam dokumen Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Solok Selatan pada tahun 2018 berisi keluhan masyarakat setempat tidak lagi menyebut nama tempat dan nama benda menggunakan bahasa daerahnya melainkan mengantinya dengan Bahasa Indonesia.

Martin memandang solusi dari permasalahan tersebut ialah dengan menawarkan perspektif kemajuan kebudayaan dengan mengembangkan bahasa Indonesia sebagai sebuah hibrida yang dapat bercampur dengan bahasa daerah dan bahasa pergaulan. “Seperti yang telah dituangkan dalam UU Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan,” kata Martin menambahkan.

Meski ia menyebut, bukan berarti penggunaan pembakuan tidak dianggap tidak penting. Pengunaan bahasa baku dan tidak baku dalam Bahasa Indonesia harus disesuaikan dengan konteks situasi tertentu. Dalam konteks akademik, hukum, kenegaraan, dan lain sebagainya, pembakuan bahasa menjadi sebuah keharusan, karena konteks bahasa tidak boleh mendua-arti.

Sedangkan dalam konteks kesusasteraan dan pergaulan sehari-hari, pembakuan yang dipaksakan apalagi dikenakan sanksi pidana akan menjadi kontraproduktif, sebab memposisikan bahasa sebagai benda mati.

Martin juga mengingatkan kembali bagaimana Presiden Soekarno sejak awal telah memposisikan Bahasa Indonesia sebagai Taman Sari Budaya.  “(Bahasa Indonesia menjadi) tempat tumbuhnya berbagai macam variasi dan keanekaragaman (bahasa daerah) dan harus bisa menjadi platform kebahasaan, tidak seperti benda mati,” ujar Martin menjelaskan.

Triyanto Triwikromo, jurnalis dan cerpenis asal Semarang memandang kondisi Indonesia  saat ini memasuki situasi bebal bahasa. Situasi ini, menurut Triyanto, muncul ketika bahasa Indonesia dengan sengaja dibunuh oleh kegemaran apapun dengan bahasa Inggris dengan bahasa lain.

“Para pengkhianat bangsa ini secara tidak sadar menciptakan kanker yang menimbulkan sikap kerusakan berbahasa yang luar biasa,” ujar Triyanto.

Meski begitu Triyanto menyebut situasi berbahasa saat ini belum mencapai situasi yang tragis dan hanya terbatas pada ketegangan antara cinta dan benci berbahasa Indonesia. “Ada banyak solusi, misalnya saja, menawarkan narasi nasionalisme berbahasa,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here