Aparat Represif Pada Jurnalis yang Meliput Aksi Penolakan Omnibus Law UU Cipta Kerja

404
0
BERBAGI

38 jurnalis mengalami kekerasan saat meliput aksi demonstrasi menolak Omnibus Law Cipta Kerja. Semua kekerasan tersebut dilakukan oleh aparat kepolisian.

Ilustrasi kekerasan jurnalis (Serat.id/ Abdul Arif)

Sore itu, sekitar pukul 15.00, Miftah Faridl sedang meliput aksi penolakan Omnibus Law UU Cipta Kerja di sekitar Grahadi, kota Surabaya yang diselenggarakan Kamis, 8 Oktober 2020. Suasana chaos, massa terpecah di beberapa titik dan saling lempar bersama polisi.

“Waktu itu saya dan kameramen saya mencoba mengambil gambar di posisi tengah, di antara dua kelompok yang saling lempar ini. Awal kamera diarahkan ke massa pendemo, tapi kemudian massa pendemo itu mencoba bahkan sudah melempar batu ke arah kameramen saya dengan alasan tidak mau gambarnya diambil,” kata Faridl saat dihubungi Serat.id.

Tak lama setelah itu, Faridl melihat seorang fotografer dari Portal Surabaya dirangkul oleh dua orang yang diduga polisi. Faridl pun mendatangi dan menyampaikan pada aparat agar tak asal melakukan intimidasi dan menghapus file foto jurnalis yang sedang bertugas.

“Begitu saya melihat kawan saya dirangkul, saya kemudian mendatangi dan menutup layar kamera. Kan di kamera SLR itu kan ada layarnya itu. Nah, saya tutup, kemudian saya dorong ke perutnya fotografer itu dan saya ngomong ke dua orang [polisi] yang merangkul fotografer itu bahwa ini adalah jurnalis,” tutur Faridl.

Baca juga : Kisah Pers Mahasiswa: Diintimidasi, Sempat Hilang, Ditangkap oleh Aparat, Susah Dapat Bantuan Hukum

Kekerasan Jurnalis Yang Terus Berulang dan Diabaikan Negara

Tak lama kemudian, Faridl melihat polisi berpakaian lengkap dan berpakaian preman menghentikan ambulan. Para polisi itu curiga ambulan tersebut hanya digunakan untuk menghindari sweeping polisi, mereka meminta orang di dalam ambulan untuk keluar. Faridl pun mengambil gambar dari kejadian tersebut. Namun, Ia dan rekannya malah diintimidasi oleh polisi.

“Saya disuruh mundur dan tidak boleh merekam. Ia seperti berbicara kepada polisi yang berseragam pangkatnya AKBP, kita didorong untuk dihalau supaya menghindar dan sempat meminta agar filenya dihapus, tapi saya memilih mundur dan kembali meminta jangan main ancam, jangan main perintah karena gambar sudah saya amankan. Demi keselamatan kemudian saya dan kameramen memilih mundur sambil merekam. Yang penting gambar aman dan saya tidak sampai beradu fisik,” ungkapnya.

Setelah itu, Faridl kembali merekam kejadian polisi yang membariskan pendemo. Namun, lagi-lagi Ia diintimidasi oleh aparat. Dua aparat mengacungkan tongkat bambu ke arahnya dan mendatangi dia, serta meminta untuk tidak meliput. Antara polisi dan Faridl sempat terjadi adu mulut yang kemudian dilerai oleh perwira polisi.

Selain di Surabaya, aparat juga melakukan tindakan represif terhadap jurnalis pada aksi 8 oktober 2020 di Samarinda, Kalimantan Timur. Yudha Almeiro, jurnalis IDN Times Samarinda menceritakan, kejadian bermula kala ia meliput 15 demonstran yang diamankan di Mapolresta Samarinda. Saat itu, mereka melakukan wawancara dengan LBH Samarinda.

Usai wawancara, Yudha berniat masuk ke dalam Mapolresta untuk mencari demonstran yang ditahan dan mengambil dokumentasi, serta melakukan wawancara dengan polisi. Namun, Ia tak bisa wawancara dengan polisi karena harus melalui humas.

Tak lama kemudian, Ia mendengar keributan dari luar Mapolresta Samarinda yang terjadi antara aparat dan LBH Samarinda karena aparat meminta massa aksi damai yang memasang lilin untuk membubarkan diri. Yudha pun keluar dan mengambil video dengan flash, karena gelap. Namun aparat malah meminta lima jurnalis yang sedang meliput untuk berhenti merekam.

Tak hanya itu, polisi pun mendikte para jurnalis untuk tidak memberitakan hal-hal yang jelek.

“Sebelum kami diminta untuk berhenti merekam, ada kawan yang lihat si Mangir (Disway Kaltim) ini diinjak kakinya,” tutur Yudha.

“Kami diminta perwira yang mengaku sebagai Kanit untuk menemui di ruangannya, tapi saya menolak, saya tidak mau. Karena pikir saya, ketika kami sudah menyanggupi untuk menemui, otomatis video-video yang kami rekam pasti dihapus,” tambahnya.

Setelah kejadian, Yudha mendengar bahwa seorang kawannya, Samuel gading dari Lensa Borneo mendapat kekerasan fisik yakni dijambak saat sedang merekam. Polisi pun mempertanyakan identitas kawannya itu.

Kejadian serupa juga terjadi dalam aksi Tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, di hari yang sama. Peter Rotti, jurnalis Suara.com yang kala itu sedang meliput aksi mendapat kekerasan dari aparat kepolisian.

Usai melakukan siaran langsung untuk YouTube Suara.com, kira-kira pukul 19.00, Peter bersama videografer Adit Rianto S. menuju ke massa aksi di Bundaran HI. Kala itu situasi memanas karena ada pembakaran halte Transjakarta Bank Indonesia dan tempat parkir sepeda.

Peter pun memisahkan diri dengan Adit, rekannya fokus mengambil gambar di parkiran sepeda, sedangkan Peter ke halte Transjakarta Bank Indonesia. Saat suasana masih ricuh, Peter merekam pengeroyokan aparat pada seorang peserta aksi, hingga peserta aksi digiring ke dalam mobil.

Namun, tak lama kemudian, Peter dihampiri aparat berpakaian sipil dan enam orang anggota Brimob. Mereka meminta Peter untuk menyerahkan kamera. Peter menolak dengan tegas dan menjelaskan bahwa Ia adalah jurnalis. Alih-alih membiarkan Peter meliput, polisi justru memaksa Peter. Ia dijambak, diseret, dan dipukul.

“Saya sudah menunjukkan ID Pers dan menjelaskan bahwa saya jurnalis yang sedang meliput. Tetapi mereka justru berusaha merampas kamera dan merusak ID saya. Saya sempat dijambak, diseret, dan digebukin. ID saya juga bentuknya sudah tidak karuan, patah,” ungkapnya.

Setelah merampas kamera, polisi mengambil memori berisi video liputan unjuk rasa pelajar dan mahasiswa. Ia juga diminta memilih antara menyerahkan kartu memori atau masuk ke dalam mobil.

AJI Indonesia mencatat, pada rentang waktu 7 – 12 Oktober 2020 ada 38 jurnalis yang mengalami kekerasan saat meliput aksi demonstrasi menolak Omnibus Law Cipta Kerja: 12 jurnalis mengalami perusakan atau perampasan alat atau data liputan, 6 jurnalis mengalami kekerasan fisik, 13 jurnalis mengalami intimidasi, dan 7 jurnalis mengalami penahanan/penangkapan. Semua kekerasan tersebut dilakukan oleh aparat kepolisian.

Serat.id mencoba mengonfirmasi ke pihak kepolisian mengenai perlakuan represif mereka terhadap jurnalis, tapi kami tidak pernah berhasil. Kami mencoba menghubungi Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Awi Setiyono melalui WhatsApp, tapi dilempar ke Kepala Divisi Humas Mabes Polri Argo Yuwono. Namun, saat kami menghubungi Argo, hingga berita ini diunggah, Ia tak membalas pesan kami. (*)

Penyumbang Bahan: Stanislas Cossy, Resla Aknaita, Praditya Wibby, Ulil Albab Alshidqi, Anindya Putri

Editor dan Pengolah Bahan: Widia Primastika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here