BERBAGI
Ilustrasi sidang, pixabay.com

Hakim menyatakan pernyataan Jaksa Agung itu sebagai perbuatan melanggar hukum.

Serat.id – Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) DKI Jakarta mengabulkan gugatan keluarga korban tragedi Semanggi I dan Semanggi II yang diajukan oleh Maria Katarina Sumarsih dan Ho Kim Ngo, masing-masing  ibu almarhum Bernadinus Realino Norman atau Wawan dan Yap Yun Hap.

“Mengabulkan gugatan para Penggugat seluruhnya,” tulis hasil putusan yang dimuat dalam laman resmi Direktori Putusan Mahkamah Agung.

Baca juga : Sejumlah Kasus Menonjol di Jateng Ini Jadi Sorotan Komnas HAM

Komnas HAM mengingatkan Pemerintah Soal Komitmen Demokrasi

Kampanyekan HAM, dari Pembunuhan Aktivis Hingga Soal Upah

Putusan gugatan ditujukan kepada tergugat, yakni Jaksa Agung ST Burhanuddin yang menyatakan Peristiwa Semanggi I dan Semanggi II bukan pelanggaran berat, saat rapat kerja dengan Komisi III DPR RI pada 16 Januari 2020 lalu. Hakim menyatakan pernyataan Jaksa Agung itu sebagai perbuatan melanggar hukum.

Selain itu hakim mewajibkan tergugat membuat pernyataan terkait penanganan dugaan Pelanggaran HAM berat Semanggi I dan Semanggi II sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR RI berikutnya, sepanjang belum ada putusan yang menyatakan sebaliknya. Putusan itu juga menetapkan Jaksa Agung ST Burhanuddin juga diwajibkan membayar biaya perkara seniliai Rp285 ribu.

Muhammad Isnur, salah satu kuasa hukum, mengapresiasi putusan PTUN yang didasari fakta persidangan dan menemukan cacat substansi dari pernyataan Jaksa Agung.  Ia berharap jaksa agung tidak melakukan upaya banding dan menerima hasil putusan PTUN.

“Kami meminta Presiden Jokowi menegur Jaksa Agung untuk tidak mengulangi kesalahan serupa, sebab tindakannya merupakan bagian dari pelanggaran konstitusi dan contoh perbuatan yang tidak baik,”kata Isnur, saat konferensi pers daring yang digelar Amnesty International Indonesia, Rabu, 4 November 2020.

Meurut dia, putusan hakim itu sebagai harapan adanya titik terang upaya korban untuk terus mendorong negara melakukan penyelesian HAM di masa lalu.

Tercatat orang tua kkorban Semanggi , masing-masing Sumarsih dan Ho Kim Ngo mengajukan gugatan ke PTUN Jakarta pada 12 Mei 2020 yang teregister dengan nomor 99/G/TF/2020/PTUN.JKT. Mereka sebelumnya memperjuangkan pengusutan kematian anaknya saat demonstrasi mendesak reformasi tahun 1998. (*)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here