BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

Pemerintah disarankan melakukan mitigasi bencana hidrometerologi. Hal itu di anataranya dengan mengoptimalkan tata kelola air secara terintegrasi dari hulu ke hilir.

Serat.id – Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan hujan dengan intensitas tinggi akan terjadi di sebagian wilayah di Indonesia. 

Hujan dengan intensitas lebih dari 300 mm per bulan itu terjadi pada November 2020 hingga Januari 2021.

‘’Hujan dengan intensitas tinggi itu terjadi di sebagian besar Aceh, Sumatera Utara bagian tengah dan barat. Kemudian, sepanjang pantai barat Sumatera, sebagian besar Pulau Jawa, Kalimantan bagian barat dan utara, sebagian besar Sulawesi, serta Papua bagian barat, tengah, dan selatan,’’ kata Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Indra Gustari.

Baca juga : Waspadai Cuaca Ekstrem

Udara Basah Picu Cuaca Ekstrem

Antisipasi Banjir, BPBD Pasang Alat EWS

Untuk daerah lain, kata dia, curah hujan berada pada intensitas menengah. Adapun untuk Bali dan  Nusa Tenggara diprakirakan curah hujannya rendah. Menurut Indra, puncak musim hujan terjadi pada Januari hingga Februari.

“Secara umum sampai Maret 2021 curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada kategori menengah hingga tinggi, kecuali Nusa Tenggara yang diprediksi masuk kategori rendah pada April 2021,” terangnya dalam diskusi daring yang digelar sekretariat Jaringan Antar Jaringan bertajuk “Skenario Triple Trouble: Pemilukada, Bencana dan Pandemi”,  Selasa, 3 November 2020.

Menurutnya, curah hujan itu dipengaruhi fenomena alam La Nina yang pada tahun 2020 akan berlangsung dengan intensitas sedang.

’’La Nina dimulai Oktober 2020 dan berakhir pada Maret/April 2021,” katanya.

Dia mengungkapkan, fenomena alam La Nina di Indonesia kali pertama didentifikasi oleh ilmuwan pada 1950 saat observasi laut. Sejak itu, data La Nina dengan intensitas kuat pernah terjadi selama tiga kali, yakni pada tahun 1988-1999, 1999-2000, dan 2010-2011.

Indra menyarankan kepada pemerintah untuk melakukan mitigasi bencana hidrometerologi. Beberapa langkahnya  ialah dengan mengoptimalkan tata kelola air secara terintegrasi dari hulu ke hilir dan mengoptimalkan danau, embung, sungai dan kanal, untuk menampung air yang berlebih.

Selain itu, kata dia, BMKG juga selalu melakukan monitoring dan pemutakhiran informasi terbaru terkait fenomena La Nina yang dapat diakses oleh setiap orang melalui website dan aplikasi BMKG. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here