BERBAGI

Keberadaan Reservoir Siranda masih melekat bagi sang pahlawan yang namanya diabadikan menjadi rumah sakit .

Semarang
Reservoir Siranda di jalan Diponegeoro Kota Semarang, Kontributor 2/serat.id

Serat.Id – Reservoir Siranda menjadi saksi bisu kepahlawanan dokter Kariadi yang tewas ditembak tentara Jepang. Namun, tak banyak orang tau soal sejarah salah satu situs penyuplai air itu. Justru lebih dikenal sebagai tempat yang menakutkan. Bahkan, beberapa orang menjadikan Reservoir Siranda sebagai tempat untuk mencari nomor judi togel.

“Biasanya ada driver Ojol yang mencari nomor judi togel di sini. Bahakan ada yang pakai dupa juga,” kata pemilik warung yang berada di dekat Reservoir Siranda, Suyati saat ditemui serat.id, Senin 16 November 2020 siang tadi.

Baca juga : Gunung Talang, Bekas Padepokan Silat Nasibmu Kini

Tugu Sidandang Monumen yang Terlupakan

Cerita Sejarah di Balik Kemeriahan Lawang Sewu

Reservoir Siranda merupakan situs bangunan sejarah simbol tekhnologi suplai air buatan Belanda kala menjajah Jawa. Keberadaan Reservoir Siranda masih melekat bagi sang pahlawan yang namanya diabadikan menjadi rumah sakit itu. Kala itu tewasnya sang dokter memicu pertempuran dahsyat mengusir Jepang yang dikenal dengan Pertempuran Lima Hari Semarang. 

“Perang itu pecah pada 14 Oktober hingga 19 Oktober 1945,” ujar pecinta sejarah Semarang, Jongkie Tio.

Menurut Jongkie, meletusnya perang lima hari di Kota Semarang 15 hingga 19 Oktober 1945 salah satu pemicunya diawali kabar Jepang ingin meracunkan air minum yang disuplai lewat Reservoir Siranda. Keberadaan Reservoir Siranda memang strategis karena sebagai penyuplai kebutuhan air warga kota.

Kabar itu terdengar oleh para pemuda Semarang yang sedang menggelar rapat di rumah Sakit Purusara, sekarang RSUP Dr Kariadi. “Saat itu Kepala Laboratorium Rumah Sakit Purusara adalah Dr Kariadi. Akhirnya Dr Kariadi juga yang berangkat untuk memastikan Reservoir Siranda benar diracun atau tidak,” kata Jongkie menjelaskan.

Namun dalam perjalanannya, Dr Kariadi tertembak oleh tentara Jepang yang telah berjaga di kawasan jalan Pandanaran. Cerita lain menyebut, sang pahlawan tewas setelah ditangkap Jepang di kawasan Reservoir Siranda.

Tewasnya Kariadi memicu kemarahan pemuda Semarang. Hingga akhirnya pertempuran dahsyat terjadi selama lima hari berturut-turut di sejumlah tempat tak terhindarkan.

“Beberapa kali pemuda Semarang dipukul mundur, namun akhirnya perang dimenangkan oleh pemuda Semarang,” katanya.

Peristiwa paling terkenal tersebut kini terus diperingati oleh masyarakat Semarang. Setiap tanggal 14 Oktober peringatan Pertempuran Lima Hari selalu digelar dengan drama teatrikal untuk mengenang gugurnya Dr. Kariadi serta perjuangan pemuda kala itu. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here