BERBAGI
jepara
Aktivitas Yoga di pelataran Pura Dharma Loka, Jepara. Ika Resaliya/serat.id

Selain menjadi media perkuatan toleransi, lewat yoga ini mereka dapat melepas kepenatan ibu-ibu dari kegiatan rumah dengan ngobrol bersama, ketawa bersama, dan hal-hal lainnya. 

Serat.id – Angin bertiup menerpa sekumpulan perempuan di bawah langit senja di pelataran Pura Dharma Loka, Jepara. Beralaskan matras di tanah, para perempuan itu meliuk-liukkan tubuh mereka mengikuti gerakan instruktur yoga.

Setiap Rabu dan Minggu pukul empat sore, mereka selalu berkumpul untuk latihan yoga bersama. Menariknya, meskipun berlokasi di pura tidak menjadi alasan untuk menyurutkan niat ibu-ibu dari luar untuk bergabung bersama.

Baca juga : Belasan Organisasi dan Komunitas di Semarang Deklarasikan Lawan Intoleransi

Festival Jatiwayang Cermin Persatuan Kebersamaan dan Toleransi

Kampanyekan Toleransi, Sinta Nuriyah Sahur di Gereja Semarang

Awalnya kegiatan yoga bersama ini hanya diperuntukkan ibu-ibu Perkumpulan Umat Hindu Jepara (WHDI) saja. Namun, postingan di media sosial menarik perhatian warga untuk ikut serta. 

Darmiati 39 tahun salah satunya. Ia tertarik mengikuti kegiatan yoga bersama karena alasan pola hidup sehat. Terlebih lokasi latihan lebih dekat ketimbang harus jauh-jauh ke Jepara kota.

Yoga ini tak hanya khusus untuk ibu-ibu saja, tetapi tidak membatasi asal dan latar belakang mereka. Justru dengan adanya perbedaan tersebut mampu menjadi wadah perkuatan solidaritas dan toleransi umat beragama. Khususnya di Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara. Dimana terdapat empat agama yang saling beriringan, diantaranya Hindu, Islam, Kristen dan Budha.

“Kita saling menghargai sih meskipun lokasinya di pura, kita tidak pernah melarang ibu-ibu yang mengenakan jilbab atau memberi pembatasan lain,” jelas Dwi pelatih yoga bersama.

Darmi pun tidak merasa keberatan meskipun kegiatannya dilaksanakan di pura. Ia berkata, meskipun seorang muslim, tujuannya mengikuti kegiatan tersebut bukan bermaksud untuk tujuan lain selain untuk kesehatan dan bersilaturahmi.

Dimulai sejak 7 Desember 2018, kegiatan itu diinisisasi oleh Dwi Astuti. Mulanya hanya dilakukan seminggu sekali hari Minggu. Melihat antusiasme ibu-ibu disana ditambah menjadi tiga kali seminggu di hari Rabu, Jumat, dan Minggu.

“Yang namanya kesehatan ibu-ibu kan seperti senam gitu, harus punya seragam sama sepatu buat mengiukti tren teman-temannya. Dari pada ikut gituan, bayar mahal-mahal terus mengikuti trennya yang gitu-gitu, malah bikin rumah tangganya nggak tenang. Kita buat yang bikin rumah tangga tenang, badannya sehat gimana ? caranya dengan bikin kelas yoga,” ujar Dwi.

Ia juga mengatakan sudah mendapatkan izin dari pengelola Pura Dharma Loka. Selain itu, yoga bersama tersebut sudah memiliki fasilitas berupa matras sejumlah 25 buah, yang merupakan bantuan untuk kegiatan tersebut. Sehingga ibu-ibu tidak perlu membawa apa-apa dari rumah.

Namun sejak adanya pandemi covid-19, yoga bersama tersebut terpaksa harus dinonaktifkan. Barulah pada 1 November 2020 mulai aktif kembali di hari Rabu dan Minggu.

Sebelumnya kegiatan itu sempat dilaksanakan di luar, tepatnya  di Goa Sakti salah satu spot wisata yang berada Desa Plajan. Tetapi setelah berjalan sekitar dua kali harus berhenti karena musim hujan.

Sore itu, Dwi mengutarakan harapannya agar kegiatan yoga bersama tersebut dapat terus berjalan dan dengan peserta yang lebih banyak lagi. Karena selain menjadi media perkuatan toleransi, lewat yoga ini mereka dapat melepas kepenatan ibu-ibu dari kegiatan rumah dengan ngobrol bersama, ketawa bersama, dan hal-hal lainnya. (*)

Karya IKA RESALIYA, mahasiswa magang jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi, Universitas Respati Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here