BERBAGI
HIV AIDS
Ilustrasi, pixabay.com

Awalnya Nurul juga dikucilkan di lingkungan. Bahkan sampai dikeluarkan dari tempat mengajar

Serat.id-Nurul Safaatun 36 tahun, tidak pernah menyangka jika dirinya Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Nasib sebagai ODHA yang ia alami saat mengetahui anaknya sakit sejak tahun 2005. Kini dari kampungnya yang masuk wilayah Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, Nurul ikut memperjuangkan nasib teman-teman sebayanya.

“Dokter Rumah Sakit Kariadi Semarang mulai curiga ketika anak saya sering transfusi darah, tapi tidak menunjukkan perkembangan. Akhirnya dokter menyarankan untuk melakukan tes, dan hasilnya positif HIV,” kata Nurul, kepada Ika Resaliya, reporter magang, serat.id,   Kamis, 19 November pekan lalu.

Baca juga : Merawat Anak-Anak Pengidap HIV/Aids di Rumah Aira

ODHA Keluhkan Keterbatasan ARV

Cerita Dari Markas Pejuang Melawan Kanker

Ia kemudian juga ikut tes. “Nah nggak mungkin dong kalau anaknya posistif ibunya tidak. Setelah cek, Desember kami sama-sama posistif,” kata Nurul menambahkan.

Menurut Nurul, sebelumnya tahun 2005 lalu suaminya meninggal setelah sakit berkepanjangan yang tidak diketahui penyebabnya. Nurul juga mengaku tidak pernah melakukan hubungan bebas selepas kepergian sang suami.

Saat itu ia hanya fokus pada anaknya yang sering sakit-sakitan, hingga akhirnya harus merelakan kepergian anaknya yang berusia 4 tahun 7 bulan pada tahun 2010. Awalnya keluarga Nurul tidak tahu, sengaja bungkam terkait penyakit yang mereka derita. Kekhawatiran dikucilkan dari lingkungan menjadi alasan ia bungkam. Meski di luar dugaan keluarga justru menguatkan Nurul untuk tetap bertahan.

Awalnya Nurul juga dikucilkan di lingkungan. Bahkan sampai dikeluarkan dari tempat mengajar di salah satu TK. “Kalau lagi keluar gitu ada yang gendong anak kecil, anak kecilnya aku deketin ngejauh ”, kata Nurul mengenang .

Saat itu Nurul sempat depresi dan stress akibat diskrimanasi yang ia terima. Ia juga sering keluar masuk rumah sakit karena penyakit lain seperti diare dan demam. Puncaknya, ketika Nurul harus di rujuk ke Rumah Sakit Kariadi selama 25 hari akibat tak cocok dengan obat ARV.

Ia mulai mendapat angin segar saat bergabung dengan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) sebagai tempat sharing, usai pulih dari perawatan rumah sakit.

Kini Nurul ditunjuk menjadi Koordinator Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) Jawa Tengah sejak tahun 2012. Hidupnya diabdikan menjadi narasumber penguatan di beberapa daerah bertujuan menyuarakan kebutuhan ODHA , terutama perempuan.

Sayangnya penderitaan ODHA saat pandemi Covid-19 sekarang kesulitan memperoleh obat ARV. “Sebab ARV tersebut di import dari luar negeri, bahkan ARV untuk anak di Jepara sempat kosong,” kata Nurul menjelaskan.

Menurut dia, sebagaia gantinya diracik jadi puyer. Padahal jumlah ODHA yang aktif melakukan pengobatan ARV ada sekitar 500 orang.

Hambatan lain yang ia hadapi saat ini tak ada perhatian dari pemerintah, padahal kebutuhan Nurul hanya meminta data. “Ketika ada momentum seperti hari anak mereka membagi sembako, setelah itu tidak ada kesinambungan lagi,” katanya.

Padahal ODHA anak-anak sangat membutuhkan PMT, namun kebanyakan ODHA di Jepara masih kesulitan dalam perekonomian. Bantuan PMT untuk anak-anak tersebut di dapatkan dari donatur, selain itu ODHA anak juga membutuhkan ruang semacam Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) untuk anak, sayangnya di Jepara belum ada.

Perempuan yang beraktivitas sehari-hari sebagai ibu rumah tangga itu berharap agar stigma negative terhadap orang yang terinveksi HIV itu berubah. “

Harapan saya ODHA itu bisa diakui di masyarakat, keberadaannya nggak perlu diusiklah. Toh mereka tidak mengusik masyarakat dan mereka tidak merugikan masyarakat,” pesan Nurul yang memastikan ODHA bisa bekerja secara baik-baik yang bisa diterima oleh keluarga dan lingkungan. (*) IKA RESALIYA, mahasiswa magang jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi, Universitas Respati Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here