BERBAGI
Seorang difable mempercantik pembatas taman di komplek Fort Japara XVI. Muhammad Olies/Serat.id

Berbagai kalangan di Kabupaten Jepara menggelorakan progam “Jogo Difabel”. Harapannya, agar warga berkebutuhan khusus ini tetap eksis dan mandiri, bahkan saat era pandemi Covid-19.

Serat.id – Tangan kiri Rahmono Adi menyapukan kuas cat ke pembatas taman di komplek Fort Japara XVI. Meski terkesan sepele, namun garis dan lingkaran kecil hasil goresan lelaki penyandang tuna daksa berusia 46 tahun itu mempercantik taman di komplek bangunan cagar budaya ini.

Rahmono Adi tak sendiri. Ada enam rekannya anggota Komunitas Motor Difabel Jepara (KMDJ) yang juga ikut memoles taman Fort Japara XVI. Menurut Rahmono, hasil dari aktivitas mengecat taman itu sangat membantu perekonomian keluarganya. Terlebih, selama sekitar enam bulan terakhir, jualan asongan keliling yang dilakoninya selama bertahun-tahun nyaris gulung tikar seiring Covid-19.

“Maklum, sejak pandemi tidak ada lagi kegiatan melibatkan khalayak ramai. Pertandingan sepakbola, pentas musik, bazar buku, atau lainnya. Semua sepi,” kata Rahmono, belum lama ini.

Baca juga : LBH Semarang Ajukan Gugatan Diskriminasi Seleksi CPNS Difable Netra

Cerita Kelompok Rentan Dalam Interaksi Sosial

Jurnalis Penyandang Disabilitas Alami Kekerasaan Saat Meliput Ahmad Dhani

Aktivitas Rahmono biasanya berdagang di sejumlah pusat keramainan.  Namun pandemi Covid-19 seiring dengan larangan kerumunan  publik membuat ia tak bisa berdagang sebebas sebelumnya. Kini ia hanya mangkal rutin mangkal di alun-alun Jepara saat malam akhir pekan. Pendapatan Rahmono dari berjualan sekali pada malam Minggu itu Rp70 ribu sekali mangkal.

“Padahal sebelum pandemi, tiap mangkal di tempat keramaian, omzet asongan saya bisa mencapai Rp 300 ribu. Makanya aktivitas mengecat taman ini sangat berarti,” kata warga Kauman kabupten Jepara itu.

Bersyukur Rahmono dan anggota KMDJ merupakan anak didik seniman lukis Imam Gembleng  yang kebetulan menjadi mitra kerja Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jepara mengelola taman di Kota Ukir.   

Dari Imam, Rahmono dan anggota KMDJ mendapat pekerjaan mempercantik lima taman kota yang ada di Kabupaten Jepara. Selain untuk membantu ekonomi penyandang disabilitas kala pandemi, aktivitas tersebut juga sekaligus untuk meningkatkan ketrampilan dan SDM mereka.

“Anggap saja ini latihan. Kalau hasil mengecatnya bagus, mereka bisa diarahkan untuk memiliki usaha sendiri semisal pengecatan produk mebel dengan beragam motif yang diminati warga Korea,” kata Imam.

Mempekerjakan kelompok rentan di tengan ancaman krisis pendapatan akibat pandemi Covid-19 juga dilakukan Ketua Bina Akses Jepara, Budi Mulyo.  Berbeda dengan Imam, Budi membuka program “Jogo Difabel” dengan cara melibatkan rekannya sesama disabilitas mengerjakan pesanan kerajinan miniatur berbahan dasar limbah kayu.

 “Saat musim pandemi kita harus saling mengisi. Upaya ini juga dilakukan komunitas disabilitas lain. Intinya kalau ada rezeki kami upayakan yang lain juga bisa menikmati,”  kata Budi yang memimpin sekitar 50 penyandang disabilitas.

Salah satu program yang ia lakukan saat ini mengerjakan miniatur rumah joglo pesanan Wakil Ketua DPRD Jepara, KH Nuruddin Amin.

Saat ini proges miniatur rumah joglo itu masih sekitar 50  persen. Budi bertugas membuat miniatur rumahnya, sedang disabilitas lainnya mengerjakan bagian ukiran.

Di Kabupaten Jepara terdapat 10 komunitas yang mewadahi kalangan disabilitas. Tercatat Bina Akses, Pertuni, KMDJ, NPCI, Sahabat Difa Jepara dan lain sebagai payung bagi mereka yang rentan terdampak pandemi

Menurut Budi Mulya, meski berbeda “bendera”, namun 10 komunitas disabilitas ini akur. Mereka juga saling menyemangati melalui wadah Forum Komunikasi Organisasi Disabilitas Jepara (FKODJ). Progam, kegiatan maupun bantuan dari pemerintah dengan sasaran kalangan disabilitas juga didistribusikan dengan proporsional.

“Seperti bantuan sembako dari Dinsos Jepara dan Kemensos RI, BLT untuk pelaku UMKM hingga stimulus dari Kementrian Ketenagakerjaan yang besarnya Rp40 juta setiap komunitas disabilitas,” kata Budi.

Bantuan itu diakui sangat menunjang, terlebih mayoritas disabilitas beraktivitas di sektor informal dengan penghasilan tak menentu. (*) MUHAMMAD OLIES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here