BERBAGI
Positif Covid-19
Ilustrasi, pixabay.com

Sebagian besar dokter yang sakit maupun meninggal akibat corona justru bekerja bukan sebagai dokter penanggung jawab pasien (DPJP)  Covid-19 dan bekerja di luar rumah sakit rujukan.

Serat.id – Sebanyak 180 dokter di Indonesia meninggal akibat virus corona. Dari data yang dihimpun Ikatan Dokter Indonesia (IDI) hingga Sabtu, 28 November 2020 itu, Provinsi Jawa Timur menduduki posisi angka kematian paling tinggi sebanyak 38 dokter meninggal dunia.

“Dokter umum yang meninggal 92 orang, dokter spesialis 86 orang, dan dokter residen dua orang,” ungkap Ketua IDI Pusat 2021-2024 dr Muhammad Adib Khumaidi dalam webinar  yang digelar Ikatan Dokter Cabang Samarinda bertajuk ’’Mitigasi Dokter Indonesia dalam Era Pandemi Covid-19’’, Minggu, 29 November 2020.

Baca juga : Meninggal Karena Covid-19, Keluarga Dokter Belum Terima Santunan

Kematian Dokter Akibat Covid-19 Terus Meningkat, Mencapai 130 Orang

IDI Jateng Desak Pemerintah Transparan Data Dokter Meninggal Akibat Covid-19

Menurut Adib, angka kematian dokter terbesar terjadi pada bulan Agustus sebanyak 32 dokter meninggal dunia yang terjadi saat ada kenaikan jumlah pasien sebagai dampak dari libur panjang.

Sementara pada November terdapat 29 dokter meninggal saat ada libur panjang dan aktivitas persiapan pilkada.

Adib menduga angka kematian dokter yang tinggi disebabkan beberapa hal, seperti tidak mengetahui pasien pembawa virus corona, tidak menggunakan atau tidak memadainya APD, kelelahan, pemahaman diri dan disiplin diri, serta kondisi tubuh masing-masing dokter.

Ia menjelaskan, sebagian besar dokter, baik yang sakit maupun meninggal akibat corono justru bekerja bukan sebagai dokter penanggung jawab pasien (DPJP)  Covid-19 dan bekerja di luar rumah sakit rujukan.

“Kadang-kadang kami sangat patuh bekerja di rumah sakit atau di fasilitas kesehatan, tapi saat bersosialisasi dengan masyarakat lupa (menerapkan protokol kesehatan), saat kita berinteraksi dengan keluarga kami lupa,”  ujarnya.

Dia menyebutkan setidaknya terdapat tiga mitigasi medis yang dapat dilakukan para dokter, yakni meminimalisir intensitas, mitigasi peralatan medis, dan meminimalisir kontak.

Ia   berharap setiap dokter meningkatkan kesadarannya akan potensi resiko Covid-19,  khususnya yang mempunyai komorbid dan usia di atas 60 tahun.   Di samping itu,  ia juga berharap agar IDI cabang dan wilayah agar menyediakan kontak siaga yang dapat dihubungi.

Hotline (kontak siaga) inilah yang menjadi satu nomor, yang itu kalau ada teman sejawat sakit  atau isolasi mandiri yang membutuhkan tempat, di mana mereka dapat berkomunikasi, “ ujarnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here