BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

Menahan massa aksi adalah bentuk ancaman paling berbahaya dari Kepolisian memperlakukan masyarakat.

Serat.id – Tujuh peserta aksi damai yang rencana akan membagikan masker untuk memperingati hari anti kekerasan terhadap perempuan (HAKTP), ditangkap polisi. Mereka dibawa ke Polrestabes Kota Semarang . Penangkapan paksa tersebut terjadi sekitar pukul 14.45 di taman tugu muda, Selasa 1 Desember 2020 .

“Tadi kami belum aksi dan sedang berteduh di taman, sambil nunggu teman yang lain. Lalu didatangi polisi,” kata Sindy peserta aksi yang dibawa polisi, kepada Serat.id.

Baca juga : AJI Semarang : Penangkapan Dhandy dan Ananda Bisa Memicu Kemarahan Rakyat

Penangkapan Warga Penolak PT RUM Cacat Hukum

Pengkritik Presiden ditangkap, LBH Semarang : Potret Buram Demokrasi

Sindy mengaku aksi damai tersebut belum dilakukan karena masker yang rencananya akan dibagikan, masih dibawa peserta aksi lain yang sedang menuju tugu muda.

Setelah puluhan polisi mendatangi, tujuh peserta aksi tersebut berniat membubarkan diri. Namun ketika hendak pulang, banner massa aksi yang bertuliskan “Kesejahteraan perempuan diabaikan tubuhnya dijadikan objek kekerasan”, dirampas dan tujuh massa aksi itu dipaksa naik ke mobil dan diangkut ke Polrestabes Semarang.

“Saat tiba di Polrestabes, tujuh orang itu hanya duduk tanpa diproses apapun. Ketika tim hukum mendatangi massa aksi untuk meminta dibebaskan, Pihak kepolisian tidak mengizinkan,” kata Sindy menambahkan.

Namun mereka baru dibebaskan sekitar pukul 16.40 WIB, tujuh aktivis tersbut didampingi tim hukum berhasil pulang.

Pegiat Lembaga Bantuan Hukum (LBH) semarang, Cornelius Gea mengatakan, kejadian seperti ini, adalah kesekian kalinya Polrestabes melakukan represifitas kepada massa aksi.

“Pengerahan pasukan tiga puluhan orang untuk membubarkan tujuh massa aksi adalah penggunaan kekuatan secara berlebihan untuk mengintimidasi penyampaian pendapat,” kata Gea.

Gea menyebut menahan massa aksi adalah bentuk ancaman paling berbahaya dari Kepolisian memperlakukan masyarakat.

Kasat Intelkam Polrestabes Semarang, Guki Ginting mengatakan alasan pembubaran dan penangkapan massa aksi karena Kota Semarang masih zona merah Covid-19. “Nanti jika sudah dinyatakan aman, boleh aksi lagi,” kata Ginting yang menyarankan untuk sementara waktu aksi bisa dilakukan di media sosial. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here