BERBAGI
pendidikan, serat.id
Ilustrasi, pixabay.com

Mereka menilai pernyataan Menteri Nadiem tak menghargai guru honorer.

Serat.id – Sejumlah guru honorer yang tergabung dalam Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer Non Kategori yang berusia di atas 35 tahun (GTKHNK 35 plus), menyesalkan pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim yang mengatakan pada tahun 2021 semua guru honorer berkesempatan mengikuti tes seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja ( P3K ). Mereka menilai pernyataan Menteri Nadiem tak menghargai guru honorer.

“Dengan diadakanya P3K semua guru honorer merasa tidak dihargai. Karena itu tidak memihak kepada kami yang telah mengabdi belasan tahun,” Kata Yulaikah, bendahara GTKHNK 35 plus Jawa Tengah, Kepada Serat.id, Senin, 30 November 2020, kemarin.

Baca juga : Ratusan Guru Tak Tetap Tuntut SK Penugasan

Pemprov Jateng Beri Intensif Guru Agama Non Muslim

Tanda Jasa Guru Agama

Menurut Yulaikah, guru honorer yang telah mengabdi belasan tahun di sekolah negeri seharunys tidak perlu di tes dengan alasan pengalaman mengajar yang belasan tahun tersebut tidak perlu diragukan lagi.

“Saya sudah 15 tahun mengajar di sekolah negeri. Usia saya sudah 40 tahun, mau di tes apa lagi,” ujar yulaikah menambahkan .

Ia menyebut bahwa semua guru honorer yang diwajibkan menjalani tes P3K, terlebih yang berusia diatas 35 tahun, jika tidak lolos tes online akan merasa terpukul. Sedangkan jika ikut CPNS usia mereka sudah tidak bisa lagi.

Humas GTKHNK 35 plus, Haryanto juga menyatakan telah melayangkan surat tuntutan kepada Presiden, yakni, meminta presiden mengeluarkan Keputusan Presiden (Kepres) PNS tanpa tes dan memberikan gaji guru honorer dibawah 35 tahun sebesar Upah Minimum Kota dan Kabupaten.

“Semoga tuntutan kami dikabulkan dan semoga juga kami sebagai guru honorer yang usianya di atas 35 tahun, bisa mengikuti P3K tanpa tes,”kata Haryanto.

Haryanto juga menyebut selama ini ada istilah yang dikriminatif terhadap guru non PNS. Menurut dia sebutan guru honorer itu ditujukan kepada mereka yang mengajar di sekolah negeri, jika di sekolah swasta, ia menyebut sebagai guru yayasan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here