BERBAGI
Ilustrasi keberagaman kepercayaan (sumber: pixabay)
Ilustrasi keberagaman kepercayaan (sumber: pixabay)

Kepemimpinan dalam organisasi agama memiliki ciri khas hierarkis yang dapat berpengaruh besar terhadap umatnya.

Serat.id – Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid mengatakan komunitas agama  menjadi modal penting menanggulangi pandemi Covid-19. Alissa menilai kepemimpinan dalam organisasi agama memiliki ciri khas hierarkis yang dapat berpengaruh besar terhadap umatnya.

“Organisasi keagamaan sangat masif dan strukturnya sangat sitstematis, daya jangkaunya hingga ke akar rumput,” ujar Alisa dalam diskusi publik virtual yang digelar Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina, bertajuk “ Memperkokoh Daya Tahan Komunitas: Agama dan Solidaritas Sosial di Masa Pandemi,” Senin, 30 November 2020 kemarin.

Baca juga : Keberagamaan Digital Menggeser Tradisi, Sebuah Tantangan Peradaban

Tokoh Lintas Agama Segera mengajukan Judisial Review Omnibus Law

Ini Pembicaraan Presiden Tentang Covid-19 Dengan Tokoh Lintas Agama

Alissa menyebut 70 persen upaya pembangunan dan respon kedaruratan bencana seperti bencana alam dan bencana sosial dilakukan oleh organisasi masyarakat (Ormas) yang terafiliasi keagamaan.

Ia mencontohkan pada saat pandemi Covid-19, terbentuklah Jaringan Lintas Iman Tanggap Covid-19 (JIC). Jaringan ini mampu mengumpulkan bantuan finansial dan sembako dari masyarakat, mendata masyarakat yang membutuhkan sembako sebagai akibat dampak pandemi Covid-19 dari segi ekonomi dan sosial, memobilisasi relawan untuk mendistribusikan sembako, membuka akses jejaring umat kepada pengambil kebijakan, konsolidaasi program dan layanan kesehatan, serta program bantuan finansial yang lebih baik.

“Yang terjadi dari komunitas lintas iman adalah kita menciptakan ruang solidaritas lintas iman dan kita membangun dan memperkuat kasih sayang dengan dasar kemanusiaan,” kata Alissa menjelaskan.

Alissa berharap mengoptimalkan peran Kementerian Agama melalui Forum Kerukunan Umat Beragam (FKUB) dengan mengkonsolidasi para pemuka agama di seluruh Indonesia untuk menjawab sejumlah sikap masyarakat yang abai terhadap bahaya Covid-19. sikap publik yang abai itu antara lain pandangan atas takdir, keyakinan konspirasi, serta pandangan negatif terhadap vaksin.

Peneliti PUSAD Paramadina, Husni Mubarok, mengutip penelitian Sana Jaffrey di Jakarta yang berjudul “The role of neighbourhood leaders in Indonesia’s COVID-19 response”, menyebutkan komunitas pada tingkat bawah RT dan RW memiliki otoritas kuat untuk meminta warganya yang positif Covid-19 menjalankan karantina. “Selain itu meminta warganya tidak bepergian ke daerah yang memiliki potensi tinggi penularan Covid-19,” kata Husni.

Namun, kata Husni, RT dan RW tidak berwenang menolak pemahaman warganya tentang Covid-19. Kekurangan inilah yang menurut Husni dapat diatasi dengan menjalin kontak dengan tokoh pemuka agama di level nasional.

“Agar RT dan RW (memiliki) tambahan modal sosial untuk mereka bisa beradaptasi dengan situasi yang buruk,” kata Husni. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here