BERBAGI
Proses pembuatan dolanan anak di Desa Karanganyar, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara pada Jumat, 3 Desember 2020. Ika Resaliya/serat.id

Mainan anak atau dolanan yang dibuat warga Karanyar sudah tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Bahkan pernah menembus pasar asia seperti Malaysia, Singapura dan Thailand.

Serat.id– Aneka barang bekas yang selama ini tak terpakai akan mudah ditemui di Desa Karanganyar,  Kecamatan Welahan,  Kabupaten Jepara. Namun bukan disia-siakan begitu saja, di rumah-rumah penduduk kampung itu mengubah aneka barang bekas berbahan plastik,  kertas hingga rumah bekicot disulap menjadi aneka mainan tradisonal. Tak heran kampung  Karanganyar  sudah lama kondang sebagai penghasil dolanan anak.

“Warga desa ini ramai memproduksi mainan anak-anak sejak tahun 70an,” kata etua Kelompok Pengrajin Kitiran (KPK) Mekar Jaya, Sumarno, Jum’at, 3 Desember 2020  kemarin.

Baca juga : Menengok Produk Unggulan UMKM Semarang di UMKM Galeri

Kaset Pita Tak Lekang Waktu

Dari Hobi Menjadi Rezeki

Menurut dia, kampungnya ramai memproduksi anek amainan tradisional dipelopori oleh Mudi, warga kampung  penjual mainan bebek-bebekan terbuat dari lilin. Kala itu Mudi melihat penjaja lain yang menjual kitiran (semacam baling-baling kertas) di Taman Sirwedari Solo tahun 1975.

“Karena penasaran dia beli satu kemudian dibongkar untuk mengetahui cara membuatnya. Setelah itu dia bawa pulang dan produksi di rumah, ternyata laris,” kata Sumarno menambahkan.

Kreativitas Mudi itu diikuti warga lain. Sejak itu, masyarakat  Karanganyar mulai menggeluti kerajinan dolanan tradisional.  Awalnya yang di produksi hanya mainan jenis kitiran yang dijual mulai Rp1000 hingga Rp3 ribu, lambat laun mengikuti perkembangan muncul berbagai mainan lain seperti Sorongan atau othok-othok, Lele-lelean dan Tikus-tikusan.

Harga jual aneka mainan yang dibuat oleh warga Karangnyar pun tergolong murah, rata-rata kurang dari Rp10 ribu.  “Dipasarkan sesuai dengan bentuk dan ukuran. Harga yang murah sehingga mendapat ruang di pasar,” kata Sumarno menjelaskan.

Menurut dia, mainan anak atau dolanan tersebut sudah tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Bahkan pernah menembus pasar asia seperti Malaysia, Singapura dan Thailand. Hal itu menjadi alasanm pada tahun 2010 Desa Karanganyar dinobatkan sebagai Sentra Kerajinan Dolanan oleh pemerintah Kabupaten Jepara.

Dolanan dari limbah pabrik itu telah berjasa mengubah perekonomian warga Desa Karanganyar yang mulanya buruh tani dan pengrajin anyaman bambu. Pasokan bahan baku tersebut diperoleh dari luar kota seperti kertas dari pabrik rokok di Kudus, kaleng susu dan tutup botol air mineral dari Cirebon, serta spons (evamet) dari Tangerang.

Saat ini ada sekitar seratus pengrajin dolanan yang masing-masing memperkerjakan minimal dua karyawan yang  kebanyakan memberdayakan ibu rumah tangga.

Sumarno mengaku permintaan mainan tradisonal yang ia buat bersama warga kampung masih tinggi di meski dihadapkan mainan digital sekarang.

Ia yang juga pengrajin kitiran mengaku bisa mengirim 4 ribu sampai 5 ribu unit ke Batam setiap pekan.  Meski diakui pandemi Cobvid-19 membuat pesanan mainan ikut sepi. “Baru di bulan September dan November muncul lagi, itu pun dua minggu sampai sebulan sekali,” kata Sumarno.

Sumarno mengaku tak khawatir produksi  mainan tradisional di kampungnya akan redup ditelan permainan  digital yang mudah diakses lewat telepon pintar.  Ia beralasan mainan  yang diproduksi anggota kelompoknya cenderung murah dan terjangkau.

“Selagi masih ada warga baru (kelahiran), insyaallah mainan yang dibuat dari Karanganyar tetap laku,” katanya.

Psikolog Darmawan Wicaksono, menilai keberadaan kampung mainan tradisonal  di Karangnyar justru sangat berperan  membantu orang tua di tengah membanjirnya game online. Darmawan menyebut mainan tradisional dapat membangun motorik anak karena melibatkan tangan dan kaki anak saat bermain.

“Serta membangun sosial anak, mainan tersebut bisa dimainkan bersama,” kata Darmawan. (*)

IKA RESALIYA, mahasiswa magang jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi, Universitas Respati Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here