BERBAGI
nelayan, tradisional
Ilustrasi, pixabay.com

Beralih profesi kerja sebagai kuli proyek untuk membeli perahu atau memperbaiki perahunya yang rusak. Ada juga yang mencari kerang hijau di pinggir pantai.

Serat.id – Sebanyak 593 anggota Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kota Semarang tidak bisa melaut akibat musim angin barat yang menimbulkan ombak besar. Kondisi itu menyebabkan perahu mereka yang rata-rata bermesin di bawah 5 gross tonnage  rusak dan sebagian tenggelam saat mendarat diterjang ombak. Tercatat, tak hanya perahu namun kerusakan juga terjadi di hunian mereka yang diterjang ombak.

“Dari data yang masuk ke KNTI ada 15 kapal di RW 15 dan RW 16 mungkin besok bisa bertambah lagi. Itu semuanya belum mendapatkan bantuan,” kata ketua KNTI Kota Semarang, Ari, kepada Serat.id Kamis, 10 Desember 2020.

Baca juga : Fenomena La Nina, Ribuan Nelayan di Jateng Bakal Paceklik

Omnibus Law Cipta Kerja, ANI : Nelayan Akan Semakin Susah

1.400 Nelayan Kesulitan Mendapat BBM Bersubsidi

Ari mengaku bantuan yang diterima dari relawan dan pemerintah, hanya untuk rumah yang rusak, bukan untuk kapal yang rusak. “Laporan itu dari koordinator lapangan. di RW 15 rumah yang rusak ada 21 dan di RW 16 ada 7,” ujar Ari menambahkan.

Menurut Ari, anggotanya yang tidak bisa melaut, sementara ada yang beralih profesi kerja sebagai kuli proyek untuk membeli perahu atau memperbaiki perahunya yang rusak. Ada juga yang mencari kerang hijau di pinggir pantai.

Ia menyebut kejadian seperti ini bisa dikatakan ‘sasi kesongo’, artinya setiap tahunya ada di antara bulan Desember hingga maret. “Untuk kejadian tanggul penahan gelombang di sisi utara itu jebol, baru tahun ini dan mengalami kerugian,” kata Ari menjelaskan.

Romo, seorang nelayan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, mengaku sudah satu minggu terakhir tidak bisa mencari ikan dilaut. “Kalau prediksi nelayan kurang tau, tapi jika menurut prakiraan cuaca bisa 3 bulan,” kata Romo.

Untuk tetap mendapatkan pemasukan, Romo mengaku mencari kerang hijau di pinggir laut dan mencari kepiting di sungai. “Sore saya tabur alat tangkap, malamnya saya ambil kepitingnya terus nanti tabur lagi,” ujar Romo menjelaskan.

Ia mengaku perbandingan penghasilan dari melaut dan mencari kepiting atau kerang hijau cukup signifikan. Romo menyebut dari hasil melaut dirinya mampu mengantongi Rp200 ribu hingga Rp400 ribu per hari, sedangkan hasil dari menjual kepiting dan kerang hijau per hari Rp 150 ribu. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here