BERBAGI
Jimin dan motor roda tiga hasil karyanya (Ika Resaliya/serat.id)

Kehadiran motor khusus penyandang disabilitas itu meninggatkan kreativitas komunitasnya.  Setidaknya  dalam beberapa waktu terakhir mereka melakukan kegiatan city touring 12 kota di Jawa Tengah

Serat.id – Khosikin sibuk merakit motor roda dua menjadi motor roda tiga yang bisa dipakai oleh penyandang tuna daksa. Kedua tangan dan kaki yang tak sempurna tak membuat diam diri dan bergantung pada orang lain.

Justru dengan kekurangganya itu ia kreatif merakit motor khusus kaum difable di kediamanya Desa Lebak, Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara.  Ia mampu menunjukkan kelebihannya membantu sesama melalui motor roda tiga buatannya.

“Awalnya ketemu temen-temen disabilitas di Sahabat Difa Jepara (SDJ) tahun 2018. Mereka mengeluhkan biaya perakitan motor roda tiga yang mahal,” kata  Khosikin yang akrab disapa Jimin, Jum’at 11 Desember 2020.

Baca juga : Kendala Lain Memberdayakan Kelompok Disabilitas di Jepara

Jurnalis Penyandang Disabilitas Alami Kekerasaan Saat Meliput Ahmad Dhani

LBH Semarang Ajukan Gugatan Diskriminasi Seleksi CPNS Difable Netra

Dari keluhan yang disampaikan temanya sesama penyandang tuna daksa itu  ia berinisiatif merakit kendaraan khusus roda tiga. “Awal dulu memang tidak dipatok harga, cuma kasih uang buat beli bahannya saja tanpa bayaran”,  kata Jimin mengawali kisah awal merakit motor khusus penyandang difabel.

Pria tamatan SMP itu mengaku tidak pernah mengikuti kursus apapun, semua pekerjaan yang dilakoninya adalah hasil dari melihat, meniru, dan memodifikasi. Dia membuat motor modifikasi pun inspirasi dari google.

“Cari beberapa gambar dari google lalu dipadukan, misal ada tiga gambar saya kembangkan jadi satu,” kata Jimin.

Salah satu motivasinya merakit motor khusus itu agar teman-temannya sesama penyandang disabilitas  bisa keluar rumah dan berkerja halnya mereka yang dikarunia kesempurnaan fisik.

Sebenarnya Jimin memang punya pengalaman buruk terkait dengan motor khusus penyandang disabilitas yang harus dirakit itu. Tepatnya tahun 2017 saat awal Jimin membuat motor roda tiga yang menghabiskan uang Rp2 juta namun justru tak bisa berguna.

“Saat itu sempat beralih ke bengkel lain, namun motornya hanya bertahan sampai lima bulan,”kata Jimin mengenang pengalaman kegagalannya.

Namun kesulitan masa lalu mendapatkan motor khsusu telah berlalu. Kini ia bersama dua adiknya sudah merampungkan sekitar 13 motor roda tiga yang kebanyakan pemesannya orang Jepara sendiri, meski ada juga pemesan  dari Semarang.

Di rumahnya Jimin bertugas memodifikasi dan membuat variasi, sedangkan adiknya urusan mesin.

Satu unit motor modifikasi dapat dia selesaikan dalam 15 hari sampai satu bulan, tergantung variasi dan kebutuhan pemesan. Biayanya juga beda-beda mulai dari Rp3 juta sampai paling tinggi Rp3,5 juta.

Kegiatan dia merakit motor khsusu penyanang disabilitas juga bisa diselingi dengan merakit baja ringan bekerja yang dilakukan tanpa mengambil keuntungan.  

Ketua Komunitas Motor Difabel Jepara (KMDJ), M. Syamsuddin  telah merasakan manfaat dari motor roda tiga hasil tangan Jimin. Pria berusia 47 tahun itu kini bisa pergi kemanapun di tengah kekurangan fisik.

“Sangat membantu sekali, bisa membawa saya kemana-mana. Motornya enak dan nyaman, bahkan saya pernah pakai untuk mengangkut satu kulkas”,  kata Syamsuddin.

Ia  mengaku sudah dua kali memesan motor Jimin, pertama di tahun 2018 untuk Yayasan Armina. Kedua, untuk pemakaian pribadi yang menghabiskan dana sampai 8 juta termasuk untuk beli motornya.

Kehadiran motor khusus penyandang disabilitas yang ada di kotanya itu meninggatkan kreativitas komunitasnya.  Setidaknya  dalam beberapa waktu terakhir mereka melakukan kegiatan city touring 12 kota di Jawa Tengah untuk menyambangi komunitas difabel di luar Kota Ukir.

“Tapi baru sampai Grobogan beberapa anggota sudah tidak kuat sehingga diputuskan untuk kembali pulang,” kata Syamsudin menjelaskan.

Jimin dan Syamsuddin memiliki harapan yang sama, membangun bengkel untuk umum yang mengistimewakan disabilitas. Agar teman-teman difabel dapat beraktivitas di luar rumah dan tidak bergantung pada orang lain. (*)

IKA RESALIYA, mahasiswa magang jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi, Universitas Respati Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here