BERBAGI
Ilustrasi, koleksi http://reklamejadoel.blogspot.com

Hygeia merupakan pabrik minuman mineral kemasan pertama yang ada di Indonesia sejak 1901. Dimiliki seorang apoteker dan juga fotografer bernama Hendrik Freerk Tillema yang punya jiwa sosial tinggi dan peduli pada kesehatan

Serat.id –  Bangunan di jalan K.H Agus Salim Kota Semarang tepat di belakang pasar ikan hias Jurnatan itu tertutup rapat tak lagi berfungsi. Gedung itu merupakan bekas pabrik minuman kemasan  dengan merek dagang Hygeia yang didirikan sejak 1901 oleh Hendrik Freerk Tillema, seorang warga Belanda berjiwa sosial yang peduli pada kesehatan.

Pemerhati bangunan bersejarah di Kota Semarang, Tjahjono Raharjo mengatakan Hygeia merupakan pabrik minuman mineral kemasan pertama yang ada di Indonesia sejak 1901. Meski ia mengaku kurang tahu persis alasan pabrik pelopor minuman kemasan pertama itu pada akhirnyua tutup.

“Saya kurang tahu persis tutupnya kenapa. Saat itu namanya belum Indonesia, tapi Hindia-Belanda. Mungkin saja karena adanya perubahan zaman, apalagi ada penjajahan Jepang dan sebagainya,” kata Tjahjono, kepada Serat.id, Kamis, 17 Desember 2020.

Baca juga : Ketika Kaum Kere Mengorganisir Diri, Mengenang Sarekat Kere di Semarang

Reservoir Siranda dan Kisah Heroik Dr Kariadi

Tugu Sidandang Monumen yang Terlupakan

Tjahjono menyebut bekas pabrik Hygeia dulu milik seorang apoteker dan juga fotografer bernama Hendrik Freerk Tillema asal Belanda. Tjahjono menyebut pemilik pabrik itu punya jiwa sosial yang tinggi dan peduli pada kesehatan warga Semarang.

“Dia (Tillema) memotret kondisi rumah kampung-kampung di Semarang yang pada waktu itu sangat jelek dan tak sehat,” kata Tjahjono menjelaskan.

Hasil jepretan itu  dipamerkan bertujuan agar mendapat perhatian dari pemerintah, agar memperbaiki kehidupan di kampung-kampung itu sehingga bisa menjadi kehidupan yang lebih layak.

Tjahjono menyatakan bangunan tersebut seharusnya sudah menjadi cagar budaya berdasarkan nilai sejarah. “Usia bangunan itu kan 100 tahun lebih, jadi sudah selayaknya menjadi cagar budaya,” katanya.

Hasil pantuan serat.id  bekas pabrik Hygeia berdiri di lahan seluas 5000 meter persegi kini banyak dilupakan, termasuk warga sekitar yang tak tahu persis bangunan itu merupakan bekas produsen pelopor minuman kemasan pertama di Indonesia. Meski sejumlah pernyataan menyebutkan tempat tersebut sempat beralih fungsi menjadi pabrik limun,  kemudian berubah lagi jadi pabrik minyak goreng dengan merk Orbolin. 

Untuk mencari informasi dari pegawai, panjaga pun tak mudah. Kenangan mengenai pabrik air mineral era kolonial itu seakan tertelan perkembangan peradaban. Serat.id mendapatkan sedikit informasi sejarah bangunan produsen air mineral di era kolonial itu saat Pujo, warga Kota Semarang yang pernah mengantar perempuan warga asal Belanda yang ingin menulis tentang sejarah pabrik tersebut tahun lalu.

“Sekitar September 2019 lalu, saya dihubungi kawan dari Belanda. Dia meminta saya mengantarkan ke pabrik Hygeia karena katanya mau riset tentang pabriik itu,” kata Pujo.

Saat itu ia mengaku sulit mendapat keterangan dari pegawai pabrik tersebut. Menurut Pujo, ia harus mengikuti arahan untuk menghindari pantauan CCTV, ketika hendak bertanya kepada penjaga.

“Pas tanya penjaga, kami dibawa ke sudut yang tak terlihat CCTV. Kata penjaga itu ia takut jika ketahuan bos,” kata Pujo menceritakan.

Setelah percakapan dengan penjaga, Pujo dan perempuan Belanda itu tetap tak mendapat keterangan yang signifikan mengenai sejarah pabrik tersebut. Pujo mengajak temanya itu masuk ke dalam kantor pabrik tersebut dan bertemu seorang perempuan yang bertugas sebagai admin. Itu pun tak berani memberikan keterangan termasuk upaya mencarai nomor kontak pemilik pabrik.

“Waktu kami mau foto ruangan itu, admin tersebut terlihat ketakutan dan memohon untuk tidak di publikasikan di media sosial. Lalu saat minta nomor telepon pemilk, dia (admin) juga tak memberikan,” kata Pujo menjelaskan.

Pujo dan seoarang penulis asal Belanda akhirnya meninggalkan pabrik tersebut, upaya penulisan tetap dilakukan dengan cara mencari artefak terkait obyek pabrik minuman mineral itu. Harapanya sang penulis yang ia antar  dapat botol bekas Hygeia di pasar loak tak jauh dari lokasi bekas pabrik tersebut.

“Terus kami ke pasar klitikan mencari botol Hygeia, dapat sih tapi harganya mahal banget. Dapat tutupnya saja harganya Rp100 ribu,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here