BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

Sudah dilaporkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Blora pada Rabu, 21 Oktober lalu.

Serat.id – Pelaku pecehan seksual terhadap seorang penyandang disabilitas di Kabupaten Blora masih misterius dan belum ditemukan meski sudah dilaporkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Blora pada Rabu, 21 Oktober lalu. Korban pelecehan seorang penyandang disabilitas masih pelajar.

“Kami terus melakukan penyelidikan, ini sudah ada tujuh saksi yang dimintai keterangan,”  kata Kasatreskrim Polres Blora, Ajun Komisaris Setiyanto, Jumat (18/12/2020) kemarin.

Baca juga : Terdapat 17 Aduan Pelecehan Seksual Selama Demonstrasi Protes Omnibus Law

FIB Undip Bentuk Tim Ad Hoc Tangani Kasus Pelecehan Seksual

LRC-KJHAM: Tampilan Pakaian Bukan Jadi Alasan Pemicu Kekerasan Seksual

Menurut Setiyanto, korban penyandang keterbelakangan mental  dengan kondisi kemampuan berpikirnya di bawah rata-rata seusianya. Selain itu, kondisinya juga tuna wicara sehingga menjadi kendala utama mengungkap pelaku yang tega melecehkan.

Sebelumnya, keterangan yang didapatkan polisi pelakunya mempunyai ciri-ciri fisik bertubuh agak gemuk serta memiliki kumis.

Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) menyatakan masih bingung adanya kasus pelecehan yang memanfaatkan kelemahan korban itu.

“Karena alasannya kondisi korban seperti itu. Ini yang kami pikirkan kebutuhan korban dan bayinya,” ujar Kepala Dinas Sosial P3A Kabupaten Blora, Indah Purwaningsih.

Indah mengaku selama ini kasus pelecehan terhadap penyandang disabilitas baru kali ini terjadi, apa lagi pelakunya belum terungkap

Temuan pelecehan seksual hingga menimbulkan korban hamil itu diketahui saat seorang guru sekolah menceritakan nasib miris muridnya kepada awak media ini..

Saat itu sang mengaku terkejut melihat kondisi korban telah hamil saat didatangi ke rumahnya.

” Keterangan dari bidan desa, sudah hamil 4 bulan. Kami belum tahu siapa yang menghamili,” kata guru tersebut.

Sedangkan korban dalam kondisi trauma dan tertekan. Bahkan saat ditanya pihak desa, siapa yang melakukan perbuatan itu, korban hanya bisa menggambar sebuah rumah dan nama jalannya, tapi tidak jelas.

“Tapi saat ditanya sudah empat kali (dilecehkan),”katanya. (*)

AHMAD ADIRIN (BLORA)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here