BERBAGI
Ilustrasi kebebasan pers. (Pixabay.com)

“Hak untuk mendapatkan informasi itu ditetapkan oleh regulasi yang derajatnya lebih tinggi dari peraturan Mahkamah Agung,”

Serat.id – Aliansi Jurnalis independen (AJI) Indonesia minta agar Mahkamah Agung segera mencabut ketentuan pengambilan foto, rekaman audio dan rekaman audio visual harus seizin hakim atau ketua majelis hakim. AJI menilai Peraturan Mahkamah Agung Nomor 5 Tahun 2020, Tentang Protokol Persidangan dan Keamanan Dalam Lingkungan Pengadilan, yang salah satu diatur dalam aturan tersebut pengambilan foto, rekaman audio dan rekaman audio visual harus seizin hakim atau ketua majelis hakim.

“Ini tidak sejalan dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yang menjamin kerja-kerja jurnalis dalam mencari, memperoleh, menyebarluaskan gagasan dan informasi,” kata ketua AJI Indonesia, Abdul Manan dalam keterangan resmi, Senin 21 Desember 2020.

Baca juga : AJI Indonesia Kembali Serukan Jurnalis meningkatkan Keselamatan

Jurnalis Tak Tepat dimasukan Penerima JPS, Ini Penjelasan AJI Indonesia

PHK Saat Pandemi, AJI Indonesia : Perusahaan Media Jangan Sewenang-wenang

Meurut Manan, ketentuan tersebut akan menghambat dan membatasi jurnalis dalam melakukan kegiatan jurnalistik di ruang sidang. Hal itu menjadi alasan AJI Indonesia meminta Mahkamah Agung tidak terus membuat ketentuan yang bisa membatasi jurnalis bekerja karena itu sama saja dengan menghambat kebebasan pers.

“Kami bisa mengerti bahwa Mahkamah Agung ingin menciptakan ketertiban dan menjaga kewibawaan pengadilan. Namun, niat untuk itu hendaknya tidak membuat hak wartawan dibatasi. Sebab, hak untuk mendapatkan informasi itu ditetapkan oleh regulasi yang derajatnya lebih tinggi dari peraturan Mahkamah Agung,” kata Manan menegaskan.

Tercatat Mahkamah Agung mengeluarkan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 5 Tahun 2020 Tentang Protokol Persidangan dan Keamanan Dalam Lingkungan Pengadilan yang ditetapkan pada 27 November 2020. Salah satu yang diatur dalam aturan tersebut yaitu pengambilan foto, rekaman audio dan rekaman audio visual harus seizin hakim atau ketua majelis hakim.

Ketentuan ini tertuang dalam Pasal 4 ayat 6 yang berbunyi, “Pengambilan foto, rekaman audio dan/atau rekaman audio visual harus seizin Hakim/Ketua Majelis Hakim yang bersangkutan yang dilakukan sebelum dimulainya Persidangan.” Pelanggaran terhadap Pasal 4 ayat 6 dikualifikasikan sebagai penghinaan terhadap pengadilan.

Substansi aturan ini sama dengan aturan pengambilan foto, rekaman suara, rekaman TV yang harus seizin Ketua Pengadilan Negeri di Surat Edaran Nomor 2 tahun 2020 Tentang Tata Tertib Menghadiri Persidangan pada 7 Februari 2020 lalu. Surat Edaran MA tersebut mencantumkan ancaman pemidanaan bagi setiap orang yang melanggar tata tertib menghadiri persidangan. Ketentuan ini kemudian dicabut Mahkamah Agung setelah mendapat protes dari berbagai kalangan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here