BERBAGI

Generasi muda mengetahui dan memahami hak atas lingkungan hidup itu merupakan bagian hak asasi manusia (HAM). Mereka menilai kejahatan lingkungan hidup (ekosida) sebagai bentuk pelanggaran HAM berat.

Serat.id – Hasil survei Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) membuktikan generasi muda berusia sekitar 16-25 tahun miliki kepedulian lingkungan dan kepekaan sosial  yang tinggi. 

Abdul Ghofar, peneliti Walhi mengatakan, sebanyak 73,4 persen dari seribu responden yang tersebar di tujuh provinsi mengungkapkan generasi muda sangat sering melakukan aktivitas gaya hidup ramah lingkungan (green lifestyle).

“Aktivitas tersebut berupa pengurangan plastik sekali pakai, melakukan penanaman pohon, penghematan air, penghematan listrik, membawa tumbler, dan membawa kantong belanja sendiri,” ungkapnya dalam webinar yang digelar Walhi bertajuk “Laporan Hasil Riset Kejahatan Lingkungan di Mata Publik”, Selasa, 22 Desember 2020.

Baca juga : Rencana Pembangunan PLTSa di Semarang dan Surakarta, Ini Pendapat Walhi

Walhi : Kesadaran Perubahan Iklim Masyarakat Indonesia Paling Rendah

Walhi Desak Pemprov Jateng mengawasi Aktivitas Tambang

Dia menjelaskan, dalam survei tesebut angka perilaku generasi muda yang tidak menerapkan gaya hidup ramah lingkungan kecil sekali rasionya sebanyak 0,2 persen.

Tidak hanya itu, katanya, sebanyak 97 persen responden pernah membantu korban terdampak bencana ekologis, seperti kebakaran hutan,  banjir dan tanah longsor. Pelibatan mereka hingga dalam berbagai bentuk seperti bantuan material, menyebarkan informasi donasi, dan menjadi sukarelawan.

Selain itu, pada aspek persepsi, sebanyak 84,9 persen responden generasi muda menyatakan sangat setuju dan setuju untuk memboikot dan tidak menggunakan produk dari korporasi perusak lingkungan.

Sementara yang menjawab sangat tidak setuju dan tidak setuju mencapai 7 persen, kemudian yang menjawab tidak tahu hanya mencapai 7,8 persen.

Dalam aspek pengetahuan, sebanyak 71 persen responden menyatakan mengetahui bahwa salah satu faktor penyebab kerusakan lingkungan hidup adalah kemudahan pemberian izin yang diberikan pemerintah kepada korporasi.

Ghofar menambahkan, sumber  informasi tentang isu lingkungan hidup itu mereka dapatkan melalui media sosial sebanyak 67,6 persen, sekolah/ kampus sebanyak 37,7 persen, kemudian media massa sebanyak 36,2 persen.

Adapun organisasi lingkungan sebanyak 33, 3 persen dan tokoh agama sebesar 1,7 persen.

Berdasarkan hasil survei tersebut, Yuyun Harmono, anggota dari Walhi mengatakan, generasi muda mengetahui dan memahami hak atas lingkungan hidup itu merupakan bagian hak asasi manusia (HAM) dan menilai kejahatan lingkungan hidup (ekosida) sebagai bentuk pelanggaran HAM berat.

Meski begitu ia mengatakan, generasi muda masih memerlukan informasi dan pengetahuan mendalam tentang ekosida, misalnya mengetahui unsur-unsur kejahatan ekosida dalam instrumen HAM.

Selain itu, Yuyun menyebutkan, hasil survei juga menangkap bahwa terdapat dorongan dari generasi muda kepada pemerintah memberlakukan hukum yang tegas terhadap kejahatan lingkungan yang melibatkan korporasi besar. 

“Selama ini negara masih dianggap tidak memiliki keseriusan dalam penegakan hukum atas kejahatan lingkungan korporasi,” ungkapnya.

Salsabila Khairunnisa, aktivis iklim dari Jaga Rimba yang juga masuk dalam daftar BBC 100 Women 2020, mengatakan seringkali suara generasi muda diabaikan dan dianggap tidak signifikan lantaran  dianggap tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, serta terlalu idealis. Berdasarkan pengalamannya juga, generasi muda hanya menjadi formalitas pemerintah seolah-olah telah mendengar aspirasi berbagai pihak.

“Kerusakan lingkungan bukan hanya mengancam masa depan, juga masa kini dan seluruh umat manusia, maka dari itu kami berhak untuk didengar, kami berhak untuk dilibatkan secara aktif dalam pembuatan kebijakan khususnya terkait ekosida” ungkapnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here