BERBAGI
Suasana di Kebon Kopen, Dusun Kopen, Kelurahan Medari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung. (Serat.id / Praditya Wibby)

Kebon Kopen merupakan tempat belajar bersama antarwarga dan antarkomunitas berbasis budaya. Di tempat tersebut mereka bisa belajar tentang kopi, pangan, pertanian, dan lainnya

Serat.id – Pagi menjelang siang itu cuaca masih begitu dingin, rasa jekut yang menusuk belulang, saat Serat.id tiba di Kebon Kopen. Namun, dingin tak menyurutkan orang untuk datang ke kebun nan asri yang terletak di kaki Gunung Sindoro, tepatnya Dusun Kopen, Kelurahan Medari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah tersebut.


Di sana nampak sudah ada 10 orang berkumpul. Mereka berasal dari Kopeng, Semarang, dan Jakarta. Mereka terlihat asyik mengikuti workshop cicip teh.

Peserta dikenalkan macam-macam teh, tanaman dan buah yang bisa dijadikan minuman (Tisane). “Teh itu sebenarnya yang dipakai daunnya. Jadi bukan batangnya seperti yang dijual di warung-warung,” kata pegiat teh dari Wikiti Yogyakarta, Wardha.

Peserta juga dipersilakan mencicipi beberapa macam teh, seperti teh putih, teh ulong, teh hijau, teh hitam dan tanaman atau buah yang dijadikan minuman.

“Kalau teh putih itu sejak pertama dipetik langsung dikeringkan. Teh hijau prosesnya dilayukan sebentar lalu dikeringkan,” jelas Wardha.

Dia lalu menerangkan proses pembuatan teh ulong. Setelah teh dipetik, dilayukan semalam kemudia disteam atau dikeringkan. “Intinya beda proses oksidasi aja,” ucapnya.

Baca juga : AJI Minta Menteri Pertanian Cabut Gugatan Tempo

RTRW Jateng hilangkan 878 Ribu Hektare Lahan Pertanian

La Nina, Ini Saran Pakar Untuk Petani


Ya, itulah salah satu kegiatan di Kebon Kopen, tempat belajar bersama antarwarga dan antarkomunitas berbasis budaya. Di tempat tersebut mereka bisa belajar tentang kopi, pangan, pertanian, dan lainnya.

Pembangunan kebun seluas 2.000 meter persegi tersebut diinisiasi oleh empat pemuda setempat, Francisca Callista, Panji, Wahyu, dan Sander.
Jika dilihat dari jalan raya, tidak terlihat seperti cafe atau resto yang indah. Sebab, Kebon Kopen dibangun di belakang rumah Wahyu, salah satu founder.

Udara yang dingin serta bangunan pendopo dari kayu bekas, membuat Kebon Kopen serasa akrab dengan suasana pedesaan yang selalu dirindukan kebanyakan orang yang beraktivitas di perkotaan.

“Tempat ini lebih tepatnya untuk venue event antarkomunitas. Tempat belajar bersama,” kata Founder Kebon Kopen, Francisca Callista kepada Serat.id, Selasa, 23 Desember 2020.

Ia mengatakan, ke depanya tempat tersebut akan dilengkapi resto yang menyajikan masakan rumahan, dengan bahan makanan organik langsung dari petani.

”Direncanakan siap pada Januari 2021 mendatang,” jelasnya. Dalam perkembanganya, kata alumnus S-2 Cultural Design di Chiba University, Tokyo Jepang itu, Kebon Kopen akan menjadi desain tumbuh.

“Artinya dalam perkembanganya, akan ada penginapan, dan akan dibangun teater, arena untuk pertunjukan teman-teman komunitas,” terangnya.

Dengan menerapkan konsep bertamu, tempat tersebut menghilangkan jarak antara ruang, pemilik, dan pengunjung. “Di sini semua masih belajar semua, yang masak tidak jago banget, konsep juga bersama-sama. Jadi memang semacam leboratorium,” ujarnya.


Selain resto atau kedai rumahan di kebun, toko dari hasil kebon dan produk dari jaringan, studio ’’cultur hub’’ untuk merumuskan ide-ide berkelanjutan, dapur, teater arena, dan kebun.

Panji, salah satu founder yang mengelola kebun itu menjelaskan, sistem yang terintegrasi antardepartemen di sana. “Kalau dari kebun, rumput yang dipotong bisa buat makan ternak, dari kotoran ternak bisa kembali ke kebun, hasil kebun juga bisa ke dapur,” katanya.


Ia lalu menjelaskan, atap dapur yang terbalik. Konsep tersebut agar nantinya air hujan lebih mudah mengalir ke tampungan. “Jadi jika musim kemarau, kami tidak takut kehabisan air untuk menyiram tanaman dan kebutuhan lainnya,” katanya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here